This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

FIKSI - PROMISE Part 25: Kebajikan Berbuah Manis

Lanjutan dari PROMISE Part 24: Exam Times. Baca juga Promise Part 1: Awal untuk mengetahui asal mula cerita fiksi ini diawali dan mulai terbentuk.

NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka (fanfict). Bila ada kesamaan tokoh, kejadian, tempat dsb, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Segala hal yg tertulis di cerita ini hanyalah hayalan dan imajinasi penulis belaka, bukan suatu hal yg terjadi sebenarnya. So, jangan pernah menganggap cerita ini serius, apalagi terhadap anak2 IC yg aku pakai namanya di dalam cerita fiksi ini. Thx dan selamat membaca... :)

ENJOY!!!

PROMISE - Part 25: Kebajikan yang Berbuah Manis

---------------------misst3ri----------------------

Matahari bersinar begitu kuat siang itu. Dan, pasti tak banyak orang yang mau jalan-jalan di tengah hari yang menyengat itu. tapi, sepertinya tidak dengan anak laki-laki itu. Dia dengan santainya berjalan sendirian di pingir jalan itu, seakan tak memperdulikan panas terik itu. Mungkin bukannya dia tak peduli, tapi mungkin lebih disebabkan kegelisahannya yang bisa tergambar dari tampang dan tingkahnya itu sehingga dia tak begitu sadar dan peduli akan keadaan sekitarnya. Bahkan, saking gelisahnya, dia sampai tak begitu memperhatikan jalannya lagi, sehingga saat di sebuah pertigaan, dia hampir saja terseerempet sebuah mobil. Tiin...tiinnnn.. klapson mobil itu.

"hei!! jalan liat-liat donk, jangan ngelamun!" teriak bapak-bapak yang mengendarai mobil itu ketika melewati anak itu. Anak itu yang sudah tersadar, jadi ikut ngomel-ngomel juga.

"eh tu bapak ngomel-ngomel, mentang-mentang situ bawa mobil, gue jalan kaki! ngomel-ngomel seanaknya! Dasar!" omel anak itu. Lalu dia melanjutkan perjalanannya, dengan kembali ke metode awal. Pake ngelamun!

"aduhh... gimana ya?" gerutu anak itu sambil ngacak-ngacak rambut jabriknya itu. darirr.. HPnya bergetar, menandakan ada SMS masuk.

=================

From: Nyokap_cantik

Sion, Mama mau pergi arisan, kunci rumah di tetangga.. Cepet pulang...

=================

"ini juga mau pulang kali ma..." lirihnya sambil masukin HPnya dalam saku bajunya.

Yap, anak itu sion. Kali ini dia pulang jalan kaki, ga kaya biasa, nebeng riko. Tapi berhubung si riko udah dihasut sama si cakka buat nyuekin dia, sion dengan berat hati harus pulang sendiri. Tapi saat itu, sepulang sekolah, bukannya langsung pulang, tapi sion malah jalan kaki keluyuran ga karuan. Bukannya malas pulang cepet atau kehabisan ongkos jadi jalan kaki seperti itu, tapi dia kelewat banyak pikiran aja, sampai ga sadar dia jalan terus, padahal dia mau menuju halte dan pulang pake bis kota.

"si cakka bikin gue pusing nih... Kan ga enak di cuekin gini, mana bawa-bawa iel sama riko lagi nyuekin gue! gue kan jadi ga bisa ngibul bareng lagi, ga bisa nebeng pulang lagi, ga bisa minta traktir lagi, ga bisa ngutang, ga bisa NYONTEK kaya tadi! Apes banget gue!" omel sion pada dirinya sendiri. Dia terus ngomel-ngomel sendiri, sampai-sampai dia sendiri ga nyadar kalau dia sudah jalan jauh banget. Dan saat dia tersadar akan itu...

"lah?? Udah nyampe mana nih gue?" kata sion saat sudah tersadar. Dia langsung celinguk-celinguk, dan ketika dia sudah menyadari posisi dia sekarang dimana, dia langsung menepuk jidatnya.

"ya ampun..!! kenapa gue jadi jalan ke arah sini? Ini sih berlawanan arah sama rumah gue! Bego banget sih loe yon!!" omel sion, sambil segera putar balik. 'Ah, gara-gara mikirin ginian nih, jadi error berat otak gue!' Omel sion dalam hati. Lalu dia bergegas mencari halte bis untuk menunggu bis yang akan membawanya pulang. Sampailah dia di halte bis itu. Agak sepi juga halte siang hari seperti itu. Cuma ada seorang ibu-ibu dan beberapa pedagang asongan disana. Sion duduk di halte itu, di samping ibu-ibu itu.

"nunggu bis juga dek?" tanya ibu-ibu itu.

"eh, iya bu..." jawab sion sesopannya. 'Ya iyalah bu, masa nunggu pesawat?' Benak sion.

"bis nomer berapa?" tanya ibu itu lagi

"123 bu... Jurusan tanah engkong" jawab sion lagi. (asal banget nih yang nulis bikin jurusan)

"wah, kalau gitu sama ya dengan ibu, sejurusan..."

"iya bu... Eh, kenapa bu? Sakit perut?" tanya sion ke ibu-ibu itu karena melihat ibu-ibu itu dari tadi agak sedikit meringis sambil memegangi perutnya.

"iya dek, ga tau, tiba-tiba sakit... Udah sering sih akhir-akhir ini.." jawab ibu-ibu itu. tapi sesaat kemudian ibu-ibu itu kembali tenang, tak terlalu meringis lagi.

"de, sekolah di SMP Bakti Setia ya?" tanya ibu-ibu itu lagi ketika melihat lambang seragam sion. 'ah, banyak nanya nih ibu-ibu..' Benak sion.

"eh, iya bu..." jawab sion dengan senyum agak dipaksakan.

"oh.. Berarti ken.. Aww..!!" tiba-tiba ibu-ibu itu mengerang kesakitan yang luar biasa, sambil memegangi perutnya. Sion agak ikut panik juga liatnya.

"bu.. Bu... Gak papa kan?" tanya sion agak khawatir. Tapi, belum sempat ibu-ibu itu ngejawab, tiba-tiba ibu-ibu itu pingsan tak sadarkan diri.

"eh copot tuh kepala!" sion latah gara-gara ibu-ibu itu tiba-tiba jatuh tepat di pangkuan dia.

"Ya ampun!! Ibu..!! Sadar bu!!" sion berusaha menyadarkan si ibu-ibu itu. Sion agak panik saat itu. Bingung menghadapi situasi itu sendiri karena di halte yang sepi itu, sekarang cuma ada dia sama ibu-ibu itu, plus seorang pedagang asongan.

"pak tolongin nih!" pinta sion pada pedagang asongan itu. Pedagang asongan itupun langsung bantuin sion nolong ibu-ibu itu. Kebetulan ada taksi yang lewat, dan tanpa pikir panjang sion nyetop taksi itu dan membawa ibu itu ke RS terdekat.

Sesampainya di RS, dibantu sion dan si supir taksi, ibu-ibu itu langsung dibawa perawat ke ICU untuk ditangani tim medis. setelah ibu-ibu itu masuk ke dalam ruang medis, tertinggallah sion sendiri disana, bingung sendiri. tapi, tak lama, ada seseorang yang menegurnya.

"dek..." tegur orang itu. Sion menoleh. sudah ada supir taksi yang dia tumpangi tadi berdiri di sampingnya.

"bayar uang taksinya belum..." tegur supir taksi. Sion menepok jidatnya.

"ya ampun pak! Lupa! Argo nya dijalanin terus pak?"

"ya iyalah... Masa ya iya donk.." sahut supir taksi itu

"yah.. Si bapak.. Tekor donk saya jadinya..."

"eh, nggak dik becanda, saya ga bakal setega itu kok, tadi sampai RS ini udah dimatiin.."

"jadi berapa pak?"

"25 ribu..."

"25 ribu?! Yah, sama aja donk pak judulnya... Mahal..." ratap sion.

"kalau ga mau mahal, jangan naik taksi donk... Naik angkot aja, jauh dekat sama, hehe..." sahut supir taksi itu.

Sion jadi garuk-garuk kepala, dia sebenarnya ga punya duit banyak, tapi bingung juga gimana mau ngelak. Lalu dengan berat hati, dia merogoh semua tempat dia nyimpen duitnya, mulai dari kantong celana, saku kemeja, kantong-kantong tas, dompet, sampai dalam kaos kaki.

"yah, pak uang saya cuma ada segini pak.." kata sion sambil menyerahkan seluruh uang kertas plus ga ketinggalan semua receh miliknya yang dapat dia temukan. Supir taksi itu menyambutnya dan mulai menghitungnya.

"yah, masih kurang nih dek, ini sih cuma 18.400 rupiah..." kata supir itu setelah menghitung uangnya.

"gimana lagi pak, saya juga kalau ga nolongin ibu-ibu itu, ga bakal naik taksi pak... Segitu aja ya pak, sekalian bapak ikut beramal juga..." rayu sion dengan muka agak memelas.

"ya udah deh, kasian bapak sama kamu.." sahut supir taksi itu ga tega liat wajah memelas sion.

"wah bapak baik banget.. Saya doain masuk surgadeh pak... tapi, yang ganjilannya, recehannya yang 3.400 itu, bisa dibalikin juga ga pak? Bapak baik deh... Hehe..." rayu sion.

"hah?! Masa minta dibalikin lagi? Ini juga udah kurang!! Dasar kamu ini, dikasih hati, malah minta daging..!" sewot supir taksi itu.

"jantung pak yang bener.." sahut sion cepet.

"saya maunya daging, lebih enak dimakan dari pada jantung..." jawab si supir asal, "Udah pokoknya, barang yang sudah di serahkan, ga bisa dikembalikan lagi!" lanjut supir taksi itu

"yah.., ntar saya pulang naik apaan pak, kalau ga punya ongkos lagi?" ratap sion

"jalan kaki dek, sehat, lumayan ngurangi polusi..." sahut supir taksi sambil berlalu dengan cueknya. Sion langsung manyun. 'Ah, shit.. apes banget gue hari ini!' Gerutu sion.

Sion lalu duduk menunggu sendiri di ruang tunggu itu. Lalu dia teringat, tas punya ibu-ibu yang sedari tadi dia gantung di bahunya. 'Buka ga, ya?' Sion bimbang mau buka tas milik ibu-ibu itu. 'Ah buka aja, biar tau identitas ni ibu-ibu, trus bisa menghubungi keluarganya, trus minta ganti rugi deh gue' benak sion yang sempat-sempatnya mikirin ganti rugi. ckckck... Di dalam tas ibu-ibu itu, dia ada menemukan sebuah HP dan dompet. dari KTP nya sion bisa tau nama ibu-ibu itu, Ira Handayani. Lalu sion mencoba membuka phone book nya. Dan ketemu disana sebuah nomer bernama 'home dikurnia'. 'dari namanya rada meragukan sih, home dikurnia, tapi cuma ini yang kira-kira ada hubungannya dengan rumah, coba telpon aja deh..' pikir sion dalam hati.

Lalu sion memencet nomer itu. Tutt... Telpon mulai nyambung.

Hallo...

Hallo.. Benar ini rumahnya ibu... Ira?

Benar, tapi ibunya sedang tidak ada mas..

Ohh, nggak mbak, saya cuma mau ngasih tau, ibu ira sekarang sedang ada di Rumah Sakit Kejora, tadi saya nemuin beliau jatuh pingsan di halte bis...

Apa?! jadi keadaan ibu gimana?

Saya juga ga tau, bu ira sedang di periksa dokter.. sekarang mbak kesini aja deh...

Baik.. Baik... Saya sekarang kesana.. Mas tunggu disana ya...

klek. Telpon ditutup. Dan tinggal lah sion, kembali dalam kesendiriannya di lorong sepi rumah sakit itu. tapi tak lama kemudian, keluarlah seorang dokter.

"adek, keluarga ibu-ibu yang didalam?" tanya dokter itu.

"oh, bukan dok, tapi saya yang bawa beliau kesini... tadi sudah saya hubungi keluarganya, sebentar lagi datang kesini... gimana keadaan itu ibu-ibu dok?" tanya sion.

"sekarang udah stabil keadaanya.. tadi saya sudah kasih obat penenang... Oh iya, tadi sebelum ibu-ibu itu pingsan, bagaimana keadaanya?" tanya dokter itu lagi.

"tadi, ibu-ibu itu sempat mengeluh sakit pada perutnya dok, setelah itu langsung pingsan.."

"oh, jadi begitu.. kalau benar diagnosa saya, kemungkinan ada permasalahan dengan orangan dalam ibu-ibu itu... Mungkin setelah pengecekan lebih lanjut bisa ketahuan penyebab utamanya... kalau begitu saya permisi dulu, kalau keluarganya datang, tolong hubungi suster jaga ya..."

"oh iya, dok... Ee.. Ibu itu udah bisa di jenguk belum dok?"

"ee.. Bisa... tapi sebaiknya jangan terlalu diusik dulu, biarkan ibu itu istirahat dulu ya..." jawab dokter itu.

"oh iya dok.. Makasih dok..." sahut sion. Dokter itu mengangguk sopan lalu pergi berlalu. Sion lalu hanya duduk, menunggu keluarga ibu-ibu itu di ruang tunggu ICU itu.

------------------ misst3ri -----------------

Di tempat lain, cakka saat itu sedang menjenguk dava lagi. Kali ini bareng dayat, dan irsyad. Sesampainnya disana, ternyata ada patton juga. Dava yang ditemani ibu dan kakaknya, olin, sudah tampak lebih sehat dan segar sekarang.

"dav, gimana keadaannya?" tanya cakka.

"baik kok kak..." jawab dava.

"cepet sembuh dav, biar kita bisa main-main lagi kaya dulu..." hibur irsyad.

"iya kak... tapi.. dava jadi ga bisa ikut ngamen kaya dulu lagi deh..." sahut dava. "siapa bilang ga bisa?" tanya dayat.

"gimana kalau ada kantib lagi? Dava kan ga mungkin lari kaya dulu, sekarang sih dava di balapin sama kura-kura juga, cepetan kura-kura kali... Hehe.." sahut dava agak bercanda.

"dasar kamu..!"

"ntar patton sama cakka deh, yang gendong kalau ada kantib lagi... Haha..." canda irsyad juga.

"yah.. Ga enak di kita donk coy!" sahut patton. yang lain ikut ketawa.

"ah, nggak deh, dava ga mau ngerepotin kakak-kakak semua... Dava mau mandiri... Dava mau bantuin ibu jual pisang goreng aja deh, keliling pasar, kalau perlu keliling kota... Boleh kan bu?"

"boleh..." sahut ibu dava. Obrolan ringan lainnya pun terus bergulir.

"eh, gue pulang duluan sekarang ya..." kata irsyad setelah beberapa wktu berlalu.

"yah kok cuma bentaran loe syad.." kata olin

"ga tau loe pada, kalau tiap hari senin gini, irsyad sih kegiatannya ngecengin cewe-cewe yang main basket di sekolah..." kata dayat.

"ohh.. mau ngecengin ag..hmffm.." sahut cakka tapi langsung di bekem sama irsyad. "sttt.. Diem deh, ga liat ada ember bocor disini, bisa abis gue diledekin" bisik irsyad ke cakka sambil ngelirik patton. Cakka cuma ketawa.

"eh, gue juga deh, pulang duluan sama-sama irsyad.. kasian zahra sama oik berdua aja ngurusin sanggar..." kata dayat ikut pamit pulang.

"ya udah kalau gitu.. hati-hati di jalan ya..."

"iya.. Kita pulang duluan ya..." kata irsyad dan dayat pamit, lalu keluar kamar.

"Eh dav, kita jalan-jalan ke taman yuk..." ajak cakka.

"boleh kak..." sahut dava. Lalu dava pun pergi ke taman RS itu di temani cakka dan patton.

--------------misst3ri------------------

Tampak banyak langkah-langkah yang tergesak menyusuri lorong itu. Lalu orang-orang itu berhenti di depan ruang ICU itu, tempat sion menunggu ibu-ibu yang pingsan tadi. Sion yang sebelumnya duduk menunduk, menoleh karena mendengar orang-orang datang ke arahnya. tapi, dia tampak kaget ketika tau siapa yang sudah ada disana. orang-orang itu pun tampak tak kalah kaget dengan sion.

"sion? Ngapain loe disini?" tanya orang itu.

"debo? Obiet? Kalian juga ngapain disini?" sahut sion juga. Yap, orang-orang itu adalah debo, obiet dan seorang mbak-mbak muda.

"kita mau nemuin bu panti kita, katanya tadi di bawa ke RS ini" jawab obiet.

"bu ira?" tanya sion enteng.

"iya.. kok loe tau?" sahut debo

"gue yang bawa ibu panti loe kesini..." jawab sion.

"adek, yang telpon saya tadi?" tanya mbak-mbak itu. Dia juga pengurus panti, sama seperti bu ira.

"iya mbak... Eee.. tadi kata dokter, kalau keluarganya datang di minta menguhubungi suster jaganya" terang sion. Lalu sion mendatangi suster jaga disana.

"suster... Ini keluarga pasien yang didalam..." kata sion kepada suster yang jaga disana. Lalu mbak-mbak dari panti tadi segera mendatangi suster itu untuk mengurus segalanya. Lalu debo dan obiet bergegas melihat keadaan ibu panti mereka ke dalam. Sion mengikuti dari belakang. Sesaat debo dan obiet tampak memperhatikan ibu panti mereka.

"ibu panti kalian pasti baik-baik aja kok.. Kata dokter beliau jangan terlalu diganggu dulu... jadi, sekarang lebih baik biarin beliau istirahat dulu ya.. " kata sion pelan kepada obiet dan debo. Debo dan obiet mengangguk mengerti, lalu mereka keluar ruangan itu, dan duduk-duduk di luar, di ruang tunggu ICU itu.

"kok bunda bisa pingsan? emang tadi saat loe nemuin, gimana keadaan bunda?" tanya obiet membuka pembicaraan. Wajahnya masih menunjukan kekhawatiran. Lalu sion menceritakan segalanya, mulai dia ketemu dengan ibu panti, ibu panti pingsan, sampai perkiraan dokter yang di ceritakan dokter tadi.

"semoga ibu panti kalian ga kenapa-kenapa ya biet, de..." kata sion diakhir cerita dia. Obiet dan debo menggaguk.

"thx banget ya yon, loe udah mau segera bawa bunda ke RS, kalau nggak, mungkin udah terjadi yang nggak-nggak sama bunda..."

"iya yon, Makasih banget ya..." kata obiet juga.

"yap, sama-sama... Mana mungkin juga kan gue ga nolongin, wong ibu panti kalian jatohnya pas niban gue... hehe..." sahut sion agak sedikit bercanda agar debo dan obiet bisa lebih ceria. Obiet dan debo tersenyum simpul. Lalu diam, tak berbicara apa-apa lagi. Tiba-tiba sion jadi teringat janjinya dengan cakka.

"ee... De...biet.. gue mau ngomong sesuatu ke kalian..." kata sion memecah kebisuan itu. Debo dan obiet menatap bingung sion.

"gue mau minta maaf ke loe semua... sori gue suka ngejek loe semua selama ini, loe mau kan maafin gue?" kata sion lagi. Cukup lama debo dan obiet memandang sion. Lalu mereka saling pandang, lalu sama-sama memandang tajam sion.

"nggak..." jawab debo.

"hah?!" sion kaget, lalu menunduk kecewa. Debo dan obiet saling pandang lagi, lalu tersenyum.

"yap, enggak... karena... emang ga ada yang perlu dimaafin lagi... Kita tau, loe cuma becanda kok... Dan gue udah ikhlas dan maafin loe semua dari dulu kok..." lanjut debo lagi sambil tersenyum.

"thx ya de.. Biet..." ucap sion tulus.

"anggap aja ini tanda rasa terima kasih gue ke loe, mau nolongin bunda kita... karena, kita ga tau mau gimana mau berterima kasih ke loe yon..." kata obiet juga.

"kita utang balas budi ke loe yon..." kata debo juga. Sion membalas senyum tulus debo dan obiet.

"ga ada yang perlu di balas kok..." sahut sion. tapi sesaat dia terhenti dan berfikir. Lalu dia melanjutkan ucapannya.

"eh, tapi.... kalau kalian mau balas budi ke gue... Boleh juga sih.. hihi..." kata sion selanjutnya sambil agak nyengir. Debo dan obiet memandang sion heran.

"maksudnya?" tanya debo.

"ee... kalau boleh... gue minjem duit donk... gue ga punya ongkos lagi nih buat pulang, abis duit gue gara-gara bawa ibu panti loe ke RS pake taksi... Bisa jontor kaki gue kalau gue pulang jalan kaki.. hehe..." kata sion dengan tampang lucunya. Debo dan obiet yang denger jadi ikutan ketawa.

"hehe... buat loe, kita kasih deh... Gopek cukup kan? hehe..." kata debo yang masih saja terkekeh.

"ya cukup-cukup aja sih, tapi cuma dikasih tempat duduk di knalpot doank ntar sama supir bisnya, hehe..." sahut sion kemudian yang disambut gelak tawa obiet dan debo.

------------------misst3ri------------------

Setelah puas bersantai-santai di taman, dan hari sudah mulai sore, cakka memutuskan untuk pulang. Dan, saat cakka dan patton mengantar dava untuk kembali keruangannya, dia di panggil seseorang.

"hei cakka..!" tegur orang itu. Cakka menoleh, lalu tersenyum ramah saat tau siapa yang menegurnya.

"hei biet, debo.., kalian ngapain disini? Siapa yang sakit?" tanya cakka agak kaget bertemu obiet dan debo. Cakka dkk bergegas menjumpai debo dan obiet.

"ibu panti... tadi tiba-tiba pingsan di jalan, dan " jawab obiet. Dan dari belakang, muncullah sion yang lagi nyengir.

"sion? Loe kok..??" cakka lebih kaget lagi plus bingung dengan keberadaan sion yang sangat tak dia sangka-angka. Melihat kebingungan cakka, debo mencoba menjelaskan. "sion yang nemuin dan bawa bunda ke RS..." jelas debo sambil ngerangkul sion. Sion tersenyum penuh makna ke cakka. Cakka tampak sedikit terperangah, tapi tak lama kemudian, dia menarik sion agak menjauh dari obiet dan debo.

"udah baikan loe?" bisik cakka ke sion.

"seperti yang loe liat.." jawab sion dengan senyum penuh kemenangan. Senyum cakka langsung mengembang.

"nah, gini donk yon... Loe boleh ngutang lagi deh kalau kaya gini.. Hehe..." bisik cakka lagi. Lalu mereka kembali ke debo dan obiet yang sedang asyik ngobrol dengan patton.

"eh, keadaan ibu panti kalian gak papa kan?" tanya cakka

"ya belum tau juga sih, masih nunggu hasil pemeriksaan selanjutnya. tapi tadi kayanya udah gak papa, beliau sedang istirahat" jawab obiet.

"ohh.. Syukur deh kalau gitu.." sahut cakka. tapi, tak lama kemudian, cakka tampak bingung dan celingukan.

"eh, dava mana ya?" tanya cakka. karena keasyikan ngobrol, mereka jadi tidak sadar kalau dava sudah tak berada di sekitar mereka. mereka semua pun lalu berpencar mencari dava.

"dava..!!" panggil cakka.

setelah dicari-cari, akhirnya cakka menemukan dava yang sedang terdiam di depan sebuah kamar, menatap ke dalam kamar yang pintunya agak terbuka itu.

"dav, ngapain kamu dsn? Kita cari-cari juga..." tegur cakka. Dava tak menjawab. Matanya tampak fokus melihat ke dalam kamar itu. Di dalam sana tampak seorang pria sedang belajar berjalan menggunakan sesuatu yang di pasang di kakinya. Cakka tampak ikut terpaku pada pandangan yang sedang mereka lihat sekarang. Cukup lama mereka berdua terdiam menonton pemandangan itu.

"yang dipake orang itu apa kak?" tanya dava pelan.

"kaki palsu.."

"kalau pake itu bisa jalan lagi kak?"

"ee... Pasti bisa, asal terus dilatih..."

"tapi pasti mahal ya kak..." lirih dava. Cakka agak tersentak mendengar perkataan dava itu.

"dav.. kamu juga.. Pengen?" tanya cakka hati-hati. Dava tiba-tiba sadar dari lamunannya, lalu menggeleng. Dia menggerakan kursi rodanya menjauhi ruangan itu. Cakka mengikutinya.

"nggak kok kak, dava tau keadaan keluarga dava kok. Dava pake tongkat aja, sekalian biar dava kemana-mana bawa senjata. Kan kalau ada penjahat, tinggal di jedukin pake tongkat kak, hehe..." sahut dava dengan nada sedikit bercanda. Cakka yang mendengar itu hanya tersenyum kecut. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, dia mendorong kursi roda dava itu dan mengantarnya ke ruangannya.

------------------- BERSAMBUNG (3am)------------------

0 komentar

Kenapa nge-Tweet?

Eh tweet gua udah 50.505 lho…

Open Followed, tapi #JFB ya :)

Arghh, Damn! -_-" ada 9 orang yg unfoll gue..

Apa anda sering liat kata-kata diatas? Haha…. Yang pengguna twitter pasti udah familiar sama kata-kata diatas. Yak, kali ini aku mau sedikit nulis tentang tingkah pengguna twitter. Hal gak penting? rada sih, hehe... tapi, dr pd gak ngepost apa2, *alasan klasik* haha....

Aku udah sekitar 1 tahunan lah bikin akun di twitter, walau baru setengah tahunan sih aktifnya, hehe…. Dulu gak ngerti euy, temen kuliah jg hampir gak ada yg main twitter, jadi rada males main disana. Tapi akhirnya mau balajar dan bereksis ria disana, tujuan awal sih buat interaksi sama member-member ICL, secara aku ada proyek iseng di ICL. Tapi lama-kelamaan jadi keasyikan dan ngenal banyak orang baru disana. Jujur, dari followers dan friends aku, 90% itu orang-orang yang hanya kenal lewat dunia maya, hahaha…. Tapi senenglah bisa kenal banyak orang baru dari daerah-daerah lain, apalagi pas bulan puasa kemaren, seru tuh, kalo daerah kita udah buka duluan, pada godain yang masih belom buka. Apalagi yang di daerah Sumatra, bedanya bisa sampai 1 jam lebih sama aku di Kalimantan ini, hehe….

Yak, balik lagi ke topic semula. Twitter sebenarnya kaya blog juga fungsinya, yaitu berbagi informasi. Cukup banyak akun-akun yang bagus dan bermanfaat di twitter. Ada akun yang setiap harinya nulis kata-kata pepatah, isi kandungan dari kitab suci, alqur'an atau info-info seperti berita, tips2 dan ilmu pengetahuan. Jadi kita yang follow akun-akun itu jadi bisa nambah wawasan juga. Bahkan untuk penyebaran info lewat jejaring social bisa lebih cepet dari tv lho. Apalagi di twitter, dalam hitungan detik, info itu bisa tersebar ke banyak orang karena banyak yang nge-Retweet. Selain itu, bisa juga jadi tempat promosi produk, atau hal yang lainnya. Tapi, layaknya sebah blog juga, pasti banyak juga penggunanya yang menggunakan sebagai tempat curhat. Nah, ini mayoritas isi tweet para pengguna twitter.

Dari pengamatan selama setahunan aktif di twitter, mungkin bisa aku simpulkan, kebanyakan pengguna twitter itu menggunakannya untuk ngobrol, curhat, dan yang paling banyak itu untuk bercuap-cuap ria alias nge-spam, hehehe…. Mungkin karena yang aku follow rata-rata anak-anak muda kali ya, hehe…. Yak, cukup banyak orang-orang yang curhat lewat twitter. Menuliskan sesuatu yang ada dihatinya. Kalau lagi kesel sama temen, ngetweet. Lagi berantem sama ortu, curhat lagi. Yah, mungkin itu sebagian perasaan yang gak bisa disalurkan dan disampaikan di dunia nyatanya. Bisa dibilang, dunia maya kadang kala dijadikan tempat pelarian seseorang dari dunia nyatanya. Banyak orang yang menjadi sosok berbeda di dunia maya. Seakan-akan mengeluarkan sisi pribadinya yang tak mampu dia ungkapkan di dunia nyata karena terkekang lingkungannya. Yah, gak bisa dipungkiri, itu emang ada. Termasuk aku? Haha… mungkin iya. Aku suka nulis banyak gini, mungkin dikira aslinya orangnya cerewet. Perlu anda ketahui, aku termasuk orang yang pendiam dan sangat tertutup di dunia nyata. Yah, well, dunia maya mungkin emg aku jadikan pencurahan itu. Lagipula menurut aku, kl di dunia maya gak banyak ngomong (nulis), gimana bisa bikin orang menyadari keberadaan kita? Kita perlu itu untuk bisa menyesuaikan diri, beriteraksi dan memberikan manfaat buat orang lain.

Selain buat ajang curhat, buat sebagian anak muda, twitter juga dijadikan ajang meng-eksiskan diri juga. Bisa dibilang, jika anda menemukan isi tweet kaya yang aku tulis di awal itu, kemungkinan besar si empu akun itu tujuan utamanya ngetweet adalah cari kepopuleran. Yang aku liat dari isi tweet yang berkeliaran di timeline (kl di FB disebut home), kayak udah di bentuk pikirannya, semakin banyak followers semakin eksis. Jadi kaya jadi berlomba-lomba banyak-banyakan followers. Padahal, bukan jumlah followers yang harusnya jadi patokan dasar untuk ngeliat tweet orang itu dihargai banyak orang apa nggak, tapi isi tweet serta manfaat apa yang bisa orang lain dapat dari tulisan kita di twitter. Kalo kata @jojoagoogoo (si Joshua suherman alias jojo di obok-obok, hihi…) di vlognya, followers akan bertambah dengan sendirinya jika kita terbiasa ngetweet yg bukan sampah atau dengan kata lain, jika tulisan kita menarik dan punya nilai plus, maka yang ngikutin akun kita akan ikut bertambah jg.

Yah, kl mau jujur aku sih kadang merhatiin dan ngarepin juga sih followers aku nambah juga. Kalo banyak yang ngikutin kita, berarti kan tulisan kita akan dilihat dan dibaca banyak orang juga. Tapi di lain sisi, bikin kita mikir juga, seberapa berharga dan penting tulisan kita untuk dibaca dan diikutin orang lain. Kalo isinya spam alias sampah semua, malu-maluin aja euy, hehe…. Makanya aku kadang mikir panjang juga kalo mau minta follback sama orang. Tapi kalau minim followers dan friend juga gak bakal asyik main di twitter, berasa ngomong di kuburan, sepi. Buat bisa berinteraksi dan tau banyak hal, kita juga perlu itu. apalagi yang sepaham dengan kita, atau satu hobbi atau satu komunitas, jadi bisa nyambung ngomongnya. Interaksi kita dengan para penjelajah dunia maya jadi lebih terfokus dan efisien juga.

Ngomongin berinteraksi dengan ‘orang dunia maya’, sebenarnya ngobrol lewat dunia maya enak-enak ribet. Mungkin buat sebagian orang, banyak yang merasa ‘lebih lepas’ kalau curhat di dunia maya. Mungkin karena factor gak ada yg kenal langsung sehingga kayaknya jadi bisa lebih bebas ngomongnya. Kalo sama orang yang kenal kan, takut ntar di bocorin atau di ledekin langsung di dunia nyata, dll. Tapi disisi lain, yang namanya dunia nyata, kadang kita menemui hal yang serba maya, termasuk sikap. Disini ribetnya kalo ngomong dengan orang di dunia maya. Yang namanya salah faham itu rawan banget. Mungkin kita nulis maksudnya cuma bercanda, tapi bisa dianggep serius. Apalagi kita gak bisa liat langsung ekspresi lawan bicara kita. Makanya kadang berbicara di dunia maya lewat tulisan sangat perlu kehati-hatian. Ya, dijaga etikanya lah... Walau kita bebas berpendapat, tapi kan pasti harus ada etika jg. Kan gak enak juga kan kalo orang sampai nanggepin kata-kata kita negative, padahal kita gak maksud seperti itu sebenarnya. Atau kata-kata kita sampe ganggu kenyaman orang, wah gak asik bgt tuh...

Yah, pada intinya, jejaring social kayak twitter atau kayak seniornya terdahulu seperti facebook atau friendster memudahkan kita untuk saling berbagi informasi. Jadi manfaatkanlah untuk saling berbagi informasi dan saling mengenal. Kalo masalah mau eksis, cari popularitas, dsb, itu masalah belakangan. Kalo mau eksis ya jadi artis donk, hehe… Mungkin segini aja kali ya posting aku kali ini, dari pada tambah ngaco, hehe…. Jangan lupa follow twitter aku di @tri3am.. *promosi, hehe….* Eh, tapi jangan deng, kasian ntar TLnya pada penuh tweet gaje dari saya, hehe…. Aku belom bisa ngindarin buat gak nulis tulisan gaje disana soalnya, kalo mau ngikutin, ikutin blog ini aja karena insyaallah, aku bakal terus berusaha nulis hal-hal bermanfaat disini. Tapi kalo tertarik berinteraksi dengan aku disana, silakan di mention. Akan aku terima dengan tangan terbuka. Wassalam (3am)

0 komentar

FIKSI - PROMISE Part 24: Exam Times

Lanjutan dari PROMISE Part 23: Sebuah Pencerahan. Baca juga Promise Part 1: Awal untuk mengetahui asal mula cerita fiksi ini diawali dan mulai terbentuk.

NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka (fanfict). Bila ada kesamaan tokoh, kejadian, tempat dsb, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Segala hal yg tertulis di cerita ini hanyalah hayalan dan imajinasi penulis belaka, bukan suatu hal yg terjadi sebenarnya. So, jangan pernah menganggap cerita ini serius, apalagi terhadap anak2 IC yg aku pakai namanya di dalam cerita fiksi ini. Thx dan selamat membaca... :)

PROMISE - Part 24: Exam Times

----------------- 3am -----------------

Hari-hari paska pembicaraan dari hati ke hati antara iel dan ify beberapa waktu lalu, jelas lebih melapangkan segala hal yang akan mereka lakukan selanjutnya. Iel jadi lebih mudah dan lebih enteng melakukan usaha belajarnya guna memenuhi perjanjian mereka kepada pak hanny. Keseriusan dan usaha yang keras benar-benar ditunjukkan oleh iel. Dan ify, tentu saja jadi jauh lebih mudah dan senang hati mengajari iel yang sekarang jauh lebih bersemangat dan punya keinginan, dari pada sebelumnya yang kelewat parah kadar tingkat kemalasan dan kecuekannya, sampai-sampai membuat ify jadi frustasi hebat.

Dan hari itu, hari terakhir mereka untuk belajar, mempersiapkan segalanya sebelum ujian. besok hari mereka sudah akan menghadapi ujian matematika dengan pak hanny. Dan baru kali ini iel merasakan dirinya begitu tegang, tapi juga sekaligus begitu semangat menghadapi ujian. Padahal biasanya dia begitu santai dan tak peduli. Dapet syukur, ga dapet ya udah. tapi tidak untuk kali ini. Dia harus bisa!

"fy, nih udah selese.." kata iel dengan semangat 45 sambil menyerahkan sebuah kertas jawaban ke ify yang sedang asyik membaca di depannya. Sore minggu itu mereka berada di rumah iel, melakukan usaha belajar di hari terakhir sebelum menghadapi ujian besok hari. Ify mendongak memandang iel, lalu menyambut sodoran kertas dari iel itu. Dia sesaat meneliti hasil pekerjaan iel itu, lalu tak lama, sebuah senyum terukir di bibirnya.

"kaya nya udah siap tempur nih... Sip..sip..." puji ify sambil mengancungkan jempolnya.

"siapa dulu donk... Iel... Gini donk sih, pasti bisa gue... hehe.." sahut iel enteng.

"eh, gaya banget loe?!" tegor ify galak. Iel cuma nyengir.

"jangan puas dulu loe, besok aksi yang sesungguhnya. kalau loe ngerjain kaya gini sih, oke.. tapi kalau kaya yang kemaren-kemaren... Awas aja loe.." kata ify.

"hehe... iya.. iya.. sori.. khilaf fy... Maklum, terlalu semangat... hehe..." sahut iel.

"Semangat sih semangat, tapi jangan buru-buru juga... kaya kemaren masa loe pas ada perhitungan 2 x 3, loe jawab 5, sejak kapan tuh?! Terlalu nganggep remeh yang mudah sih loe..." sahut ify. Iel yang di omelin kaya gitu cengar-cengir aja.

"5 sama 6 cuma beda satu kok..." sahut iel agak asal, yang langsung di lemparin ify pake buku. Iel reflek ngindar, ngumpet ke balik meja.

"emang cuma beda satu, tapi FB!" sewot ify

"hah FB? Facebook?" sahut iel, kepalanya sudah menyembul dari bawah meja.

"Fatal Banget..!!" teriak ify, "gara-gara salah dikit gitu, jalan jawaban loe selanjutnya berarti ikut salah juga... Loe tuh sebenarnya ngerti dan menguasai bahan, tapi masih suka serampangan sih, sok ngitung cepet tapi masih suka asal..!" omel ify. Iel cuma ngangguk-ngangguk sambil masang tampak bersalah, lalu senyam-senyum dengan tampang sok manisnya. Ify yang liat iel masang muka manis gitu, jadi menghela nafas, ga jadi emosi, dan bikin dia jadi ga tega ngomel-ngomel lebih panjang lagi.

"ga usah masang tampang sok kaya malaikat gitu deh loe! Tau aja loe kelemahan gue, pasti ga tega ngomel lagi kalau di sodorin tampang kaya gitu!" kata ify yang disambung tawa kemenangan iel.

"jadi gue harap sih, loe lebih teliti aja yel, ga usah buru-buru, yang penting tepat waktu, kaya yang ini nih... oke..." kata ify lagi lebih lembut, sambil ngancungin kertas pekerjaan terakhir iel.

"iya.. Iya... Ngerti bu guru... Gitu donk, kalau ngomongnya adem kaya ginikan enak, masa ngajarin orang ganteng galak-galak banget? Tadi udah mulai keluar tuh tanda-tanda keluar tanduknya... hehe..." canda iel.

"yee... Dibilangin, malah ngeledek loe.. Ntar gue galakin beneran nih.. hehe.." sahut ify sedikit becanda juga.

"yah jangan fy, ntar jadi monster beneran loe kalau doyan marah-marah.. Ga cakep lagi dunk... Hehe..." canda iel juga. Ify jadi ikut ketawa juga. Lalu ify kembali melanjutkan memeriksa pekerjaan iel. Iel yang duduk di depannya hanya bertompang dagu sambil terus memandangi ify.

"bakat loe fy jadi guru... kalau gurunya kaya loe semua, gue semangat deh sekolah..." lirih iel. Ify langsung terdiam dari aktivitasnya, lalu dia mengangkat kepalanya, dan balas memandang iel. Tak lama kemudian dia tersenyum simpul.

"tapi, kalau muridnya macem kaya loe semua, nyerah deh gue, haha..." sahut ify. Iel langsung ikut ketawa denger sahutan ify itu. Lalu ify kembali sibuk dengan buku-buku matematika nya itu. Sedangkan iel kembali kelamunannya. Suasana terasa sunyi. lama-lama iel ngerasa bosen juga ga ngerjain apa-apa.

"fy... Ga ngapa-apain lagi nih?" tanya iel. Ify mendongak, memandang iel sesaat, lalu berfikir sejenak.

"eh, yel.. gue kasih soal lagi ya..." kata ify.

"hah?!! Yah.. Kok soal lagi?? Hari ini loe udah 2 kali ngasih gue setumpuk soal... belum cukup juga, fy?" sahut iel dengan tampang super lesu. Ify langsung tersenyum simpul liat ekspresi iel.

"kenapa? Nyerah loe? hehe.." tanya ify, iel cuma cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala.

"ya udah kalau gitu, kita main aja yok.." ajak ify.

"jadi udahan nih belajar nya?" tanya iel, ga yakin sama ajakan ify itu.

"iya.. udah aja deh, kita refresing aja sekarang, lagian udah belajar dari tadi pagi juga... Ga baik otak terlalu diporsir..." sahut ify sambil nutup buku di depannya. Muka iel langsung berseri-seri.

"terima kasih ya tuhaaann..." kata iel sambil sujut-sujut syukur. Ify cuma ketawa ngeliat tingkah lebay iel.

"hehe... gue tau kok, muka loe tuh kaya udah eneg banget buat belajar, kesannya kalau gue beneran kasih soal lagi, loe tuh udah siap mau langsung muntah-muntah.. haha..." kata ify

"ah loe fy, tau aja kalau gue udah eneg buat belajar... Hehe..." sahut iel agak tersipu malu

"kalau gitu, gue temenin loe main PS deh, dari kemaren-kemaren loe udah ngiler banget kan liat PS, mau cepet-cepet bisa main PS lagi? jadi, ayok.." ajak ify lagi sambil berdiri dari duduknya.

"hah?! ga salah denger nih gue??" iel rada ga nyangka dengan ajakan ify yang satu ini. Dulu sebelum tragedi emosi-emosian kemaren, kalau mereka sedang belajar, iel selalu kabur main PS setiap ify lengah. Dan ify pasti langsung mencak-mencak dan ngomel-ngomel ke dia. Maka dari itu, sejak dia berjanji mau benar-benar serius belajar, dia ga pernah nyentuh lagi PS dia itu. Iel ga mau liat ify kecewa, atau sampai mencak-mencak lagi ke dia gara-gara liat dia ga serius belajar. Lagipula mereka selalu belajar dari pulang sekolah sampai malam, otomatis emang ga ada waktu buat iel untuk main-main lagi.

"iya.. Mau ga?" tawar ify lagi. setelah iel benar-benar yakin kalau ajakan ify itu bukan sekedar mengada-ada, dia langsung mengangguk dengan semangat.

"eh, tapi.. beneran bisa main loe??"

"yee.. Ngeremehin gue loe... Gini-gini, dulu gue juga suka nemenin kakak gue main PS.. Walau emang sih.. cuma asal mencet dan kalah mulu, hehe..." sahut ify

"hehe... ya okelah kalau begitu.. Eh, tapi.. Bentar.. bentar... Ntar kalau hapalan gue pada kabur semua gimana? Ga mau ah gue.. Ntar besok di otak gue cuma tinggal tentang pelajaran main PS semua lagi... Hehe.." argument iel

"tumben loe bisa mikir kaya gitu? Hehe..." sahut ify. Iel langsung manyun di katain ify kaya gitu.

"kalau loe ga mau kaya gitu, makanya di iket donk biar ga kabur..." kata ify lagi

"yah, loe kira kambing, pake di iket..." timpal iel

"ya udah kalau ga mau, kita belajar lagi aja kalau gitu..." sahut ify kembali duduk. "eh, jangan! Yah... jangan ga jadi fy! Tingkat kestresan gue udah sampai ubun2 nih..." kata iel buru-buru.

"hehe.. ya udah kalau gitu.. Dan biar loe tenang, ntar habis ini kita ngulang pelajaran lagi buat terakhir kali, numpung masih sore juga ini, masih ada banyak waktu... oke?" tawar ify.

"nah, good idea.. Gitu baru bener... ya udah.. Yok!" ajak iel sambil bangkit berdiri. Dan sisa waktu belajar mereka hari itu, akhirnya mereka selingi untuk bermain PS untuk sekedar melepas ketegangan dan keseriusan mereka dalam beberapa hari terakhir itu.

---------------- misst3ri -----------------

Dan akhirnya, waktu ujian itupun tiba. Pagi itu iel berangkat ke sekolah dengan sedikit kegugupan. Memang, hari-hari sebelumnya dia punya keyakinan begitu tinggi. tapi, entah kenapa, ketika hari itu tiba, semangat dia jadi luar biasa down. Bayangan-bayang kegagalan terus berkelebat, menghantui pikirannya. Mungkin cuma satu yang bisa memberi dia kekuatan untuk tetap optimis, dan terus berpikir positif. Dia harus nebus kepercayaan pak hanny dan ify. Dia ga boleh ngecewain mereka. Dia harus berhasil. Itu janjinya.

Dan pagi itu, masih beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. tapi iel sudah duduk dengan kaku di kursinya. Tegang. Berkali-kali dia mengetuk-ngetukan pensilnya dengan buku dihadapannya, berusaha mengusir ketegangan yang terus menyelimuinya. Ulangan matematika diadakan jam pertama itu. Sebagian besar penghuni kelas itu banyak yang diam di kelas dibanding main-main di luar kelas. Apalagi kalau bukan untuk usaha terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum ulangan, mulai dari ngebahas soal dengan teman, baca buku untuk pengulang pelajaran, sampai rapat ngatur strategi jitu buat kesuksesan aksi kriminal ujian, hehe... Pemandangan yang sudah sangat biasa terjadi setiap mau ujian. Tak lama ada sion datang dan memasuki kelas.

"eh, bro... baik-baik ya sama temen ntar... Hehe..." kata sion ke cakka saat melewati cakka.

"siapa elo?" sahut cakka agak sinis

"yah cakk.. Kok gitu?" sion kecewa liat sambutan cakka

"jangan laga lupa loe! Kan udah gue bilang, selama lo belum nepatin janji loe, ga usah negor gue dulu, oke?" jawab cakka. Sion mendengus kesel. 'Kirain abis libur weekend, udah lupa si cakka buat ngecuekin gue! Payah nih, cakka..!' Dumel sion dalam hati.

"riko.. Iel... Inget kata gue tadi!" kata cakka kepada iel dan riko sebelum dia melangkah keluar kelas. Sion memandang heran kepada riko dan iel. 'Ngomong apaan cakka tadi ke kalian?' Bisik sion ke riko. Riko cuma senyum geli.

"cuekin loe... Termasuk di ulangan matematika hari ini.. jadi, kalau mau nyontek, sama iel aja tuh... hehe..." jawab riko enteng.

"ah, kok loe ikut-ikutan juga ko... kalau sama iel, sama aja bo'ong donk..." sahut sion agak ngeremehin iel, karena emang iel biasanya bener-bener ga bisa diandelin dalam pelajaran matematika. Iel yang duduk ga jauh dari sana, mendengar ucapan sion cuma melirik, dan tersenyum tipis. Eh, sion sotoy, belum tau dia si iel udah ditangani ahlinya, hehe...

"makanya yon, cepet tepatin janji loe, masa gitu doank ga bisa? Hehe... " kata riko lagi.

"yee.. Loe sih gampang ngomong doank!" sewot sion, lalu dia menuju bangkunya.

"kenapa loe yel? Gelisah banget? Santai dikit donk! Ga biasanya lo!" tegur sion galak saat melewati bangku iel. Iel hanya melirik sedikit, tapi tanpa menyahut, dan tetap duduk dengan gelisah di bangkunya.

"yee.. yang ini juga, ditanya malah mingkem, pada payah nih semuanya!" omel sion, sambil menghempaskan tasnya ke mejanya, lalu melangkah keluar kelas. Iel cuma geleng-geleng kepala liat sion yang pagi-pagi udah ngomel-ngomel.

Lalu iel membuka buku matematika dihadapannya, mencoba mendalami lagi. tapi usaha itu sepertinya agak sia-sia, sudah tak ada gunanya dia baca karena tak ada satupun yang bisa masuk lagi ke otaknya karena ketegangan luar biasa di dirinya. Lalu dia kembali duduk dengan gelisah. Ify yang duduk di barisan depan, sempat melirik sesaat ke arah iel. Iel membalas pandangannya, lalu tersenyum gugup. Ify membalas senyum itu lalu mengancungkan jempolnya ke arah iel. Iel dapat merasakan dorongan semangat dari senyum ify itu. 'come on iel... Loe ga boleh ngecewain orang-orang yang ngasih kepercayaan ke loe.. Loe pasti bisa..!' teriak iel dalam hati, menyemangati dirinya sendiri.

Tak lama keributan kelas enyah seiring bel masuk dan datangnya pak hanny ke dalam kelas tak lama kemudian.

"pagi semua... sudah siap dengan ulangan hari ini anak-anak?" sapa pak hanny yang hanya dijawab dengan tak semangat oleh anak-anak.

"oke... Silakan simpan semua bukunya, hanya boleh ada alat tulis di atas meja..." kata pak hanny lagi. anak-anak segera saja menyimpan seluruh buku-buku mereka dan mengeluarkan alat tulis mereka.

"IFY! Sini, tolong bantu bapak membagi soal ke teman-teman kamu..." panggil pak hanny ke ify. Ify lalu bangkit dari kursinya menghampiri pak hanny untuk mengambil soal-soal.

"saatnya pembuktian... Saya harap kalian mampu menepati janji kalian..." bisik pak hanny ketika menyerahkan soal kepada ify. Ify hanya tersenyum tipis. Tapi dari mimik wajahnya, dapat dilihat, ketegangan terpeta jelas di wajahnya.

"good luck..." bisik pak hanny lagi sesaat sebelum ify mulai melangkah ke penjuru kelas, membantu pak hanny membagi soal-soal.

------------------- misst3ri ----------------------

Suasana kelas begitu sepi. Pak hanny mengawasi anak didiknya itu dengan seksama. Terlebih lagi, beliau sangat memperhatikan barisan belakang, daerah tempat duduk anak-anak laki-laki seperti iel dkk. Selain karena disana adalah daerah tempat paling rawan dan paling tinggi tingkat kejahatan ujiannya, pak hanny juga mau benar-benar memastikan iel mengerjakan sendiri ujiannya. Berulang kali pak hanny mondar mandir di sekitar bangku iel. Pak hanny ingin benar-benar mengetahui keseriusan dan komitmennya terhadap janjinya. Jujur, dihati pak hanny masih ada keraguan.

Tapi sepertinya keraguan itu mulai menguap, karena sepanjang ujian itu, pak hanny bisa melihat iel tampak benar-benar begitu serius mengerjakan ujiannya. Meskipun teman-teman di sekitarnya sudah mulai grasak-grusuk, dia tampak masih tenang walau dari raut wajah gugupnya bisa diterka, dia juga tampak kesulitan. Detik demi detik terlewati, dan waktu terus berlalu, sampai akhirnya waktu ujian pun berakhir.

"yap, silakan dikumpulkan... Waktu sudah habis... Ayo semua, dalam hitungan ke 5, semua harus sudah mengumpul..! satu..." teriak pak hanny. langsung saja anak-anak berebut mengumpulkan lembar jawabannya ke depan kelas. Iel juga segera mengumpulkan lembar jawabannya. Saat dia menyerahkan lembar jawabannya ke pak hanny, sesaat pak hanny menegurnya.

"bagaimana iel? Bisa?" kata pak hanny sambil tersenyum pada iel. Iel tertengun, lalu dia menganguk dan tersenyum tipis pada pak hanny.

------------------ misst3ri----------------------

"tadi gimana yel?" tanya ify. Saat itu ify dan iel sedang bertemu diem-diem di perpus, mojok kaya biasa di balik lemari paling ujung perpus itu. Tempat strategis mereka mengadakan pertemuan biasanya. Tempat yang sepi, tak terpantau tapi mudah mendeteksi jika ada orang yang mendekat.

"ya gitu lah... Gugup banget gue! Mana pak hanny mandangi gue mulu... bentar-bentar deketin gue, bentar-bentar liat lembar jawaban gue, mana bisa tenang gue... Ga tau deh, tuh..." ujar iel agak lesu sambil buka-buka sebuah buku dengan asal.

"tapi loe ngerjain ga buru-buru kan yel?" tanya ify lagi.

"ee... Rada sih di akhir-akhir... Abis pak hanny bikin gue gugup banget sih, loe tau sendiri gimana kalau lagi gugup, ga cuma jantung, urat nadi, dan darah yang degupan dan alirannya mkn kenceng dan deras, tapi juga otak gue ikutan desak tangan gue buat mengakhiri kegugupan itu... Udah ah! Ga tau lagi gue, pokoknya gue udah ngerjain sebisa gue... Moga ga ngecewain deh..." jawab iel lagi dengan lesu. Ify memandang iel dengan seksama. Dia tau, iel mungkin sekarang sedang dilanda badai pesimis saat itu. Ify menepuk-nepuk pundak iel sembari tersenyum menenangkan.

"loe ga ngecewain kok, loe kan udah usaha maksimal..." ujar ify berusaha menghibur iel sambil tersenyum dengan begitu tulus. Iel melirik ify lalu ikut tersenyum. Dari dorot mata yang terpancar itu iel tau, ify begitu sangat ingin dan tulus untuk membesarkan hatinya dan terus menyemangati dirinya. Dan dirinya takkan pernah rela kalau nantinya dirinya mengecewakan hati gadis yang telah mau melibatkan dirinya begitu jauh demi perubahan dan kebaikan dirinya itu.

"thx fy, loe udah percaya banget sama gue..." lirih iel akhirnya. Ify hanya membalasnya dengan sebuah senyum manisnya, lalu ia bangkit dari duduknya.

"udah ya... gue balik dulu sama anak-anak, mau ke kantin, laper... Hehe..." kata ify kemudian, lalu ia meninggalkan iel yang masih saja termenung sendiri, diam memikirkan selembar kertas yang kini telah berada di meja pak Hanny itu. Selembar kertas yang mungkin bisa mengangkat dirinya, tapi mungkin juga bisa menjatuhkan dirinya serta gadis yang baru saja berlalu itu. Seseorang yang sudah sangat baik membantu dan membibimbingnya untuk bisa berubah menjadi pribadinya yang lebih baik.

--------------------BERSAMBUNG (3am)---------------------

0 komentar