This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Fiksi : PROMISE Part 50



Lanjutan dari PROMISE Part 49

Episode yang lalu....

***
“kalau orang lain gak pernah menghargai kebaikan diri loe, kenapa gak loe lakukan itu buat diri loe sendiri?” sahut Obiet dengan nada suara tetap tenang. Sila sedikit terhenyak mendengar ucapan sederhana Obiet.

“bukankah hakikatnya manfaat kebaikan itu sebenarnya bukan untuk orang lain tapi untuk diri kita sendiri? Kebaikan itulah yang akan menentram diri kita, memenuhi hati dan hidup kita dengan hal-hal positif yang penuh dengan cinta, ya kan?”


**

Severus: eh gmn ngedate lu sama pangeran kodok lu? 
Putri_cantik: gak jadi :( ielnya tiba2 pusing.  
Severus: kok? Td perasaan baik2 aja deh..
Severus: hayooo luuu pangeran kodok lu jangan2 kaga mau jalan sama lu cuma mo bikin jeles severus lu doang aja :p 


Hati Sivia tiba-tiba berdegup. Apa dia aja yang tadi kepedean merasa iel udah menaruh hati pada dia padahal gak sama sekali. Iel tadi emang sedikit aneh. Saat di sanggar dia masih begitu hangat. Tapi entah kenapa saat di mobil dia begitu dingin tadi. diam dan agak jutek saat dirinya mengajak ngobrol. Hati Via yang sebelumnya udah mengembang bahagia, seketika tiba-tiba kembali menciut lagi.


**

‘apa itu yang lo pengen? Itu yang bikin lo bahagia? Apa sebuah kesalahan kalau gue memaksa kehendak gue yang gue sudah tau pasti loe gak akan suka? Gak akan sejalan dengan loe? Apa memang hanya dengan mengikuti keinginan loe, hati gue bisa lebih lega. Apa memang ini satu-satunya cara agar gue bisa membahagiakan loe walau tanpa bisa benar-benar memiliki loe?’


Iel tau ini salah dia, bukan gadis itu. Gadis yang telah banyak sekali membuat perubahan pada dirinya. Gadis yang tanpa sengaja telah berhasil menaklukkan hatinya. Gadis yang sampai kapanpun tak akan pernah bisa ia benci. Gadis yang mulai detik itu hanya akan ia simpan diam-diam di sudut hatinya, abadi, dengan penantian tanpa ujung.


**

‘Ya Allah, berikan kesembuhan buat Ibuku. Kasih aku kesempatan Ya Allah. Aku masih ingin meminta maaf dengannya. Aku masih ingin menciumnya dengan penuh kasih sayang. Aku masih ingin melihat senyumnya. Aku masih ingin membuatnya bahagia dengan segala yang aku lakukan. Aku masih ingin melihatnya bangga memiliki anak seperti aku…’Doa itu mengalir lembut dalam relung hatinya, mewakili hatinya yang sudah begitu rindu memancarkan kebaikan. Bagi ibunya, bagi keluarganya, bagi teman-temannya. Bagi dirinya sendiri. Izinkan aku sekali lagi untuk memperbaiki ini semua ya Allah…’


**


“Sila! Nyokap loe udah sadar!!”


**





PROMISE Part 50: Sesuatu yang Berbeda


Setiap yang memiliki awal, pasti memiliki akhir. Dan pasti tak ada yang mengharapkan akhir yang buruk bukan? Itulah yang mulai disadari sebagian anak-anak kelas 9 SMP Bakti Setia bahwa mereka semakin mendekati bulan-bulan terakhir berseragam putih biru. Perjuangan mereka selama 3 tahun ini tidak boleh berstatus “sad ending”. Itu juga yang terus berusaha diingat Ify di kepalanya agar godaan terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain-main mampu ditolaknya. Ify sedikit menghela nafasnya sesaat sekedar merilekkan kepalanya sesaat dari bacaan buku fisika yang sedari tadi ia baca itu. Beberapa hari lagi mereka memang akan menghadapi ujian akhir semester. Setelah itu tryout-tryout juga bakal banyak sekali menggilir otak mereka minta diajak bertempur. Jadi tak salah kalau Ify sekarang belajar 10x lebih intens dari biasanya. Apalagi Ify sudah punya beberapa list impian yang ingin ia gapai selepas SMP ini. Dan semua itu gak boleh dia gagalin hanya karena MALAS.

"Woy piii!! Serius amat masih pagi juga udah ngedate sama buku aja lu..." Konsentrasi Ify tiba-tiba buyar setelah seseorang mengusik keasyikannya belajar dengan merebut buku di hadapannya. Ify mendongak dan menemukan senyum jail Septian disana.

"Yee... Gua kira siapa.. Sini balikin buku gue" sungut Ify. Septian melempar buku itu kembali ke Ify dengan santainya ditemani cengiran tanpa rasa bersalah. Ify sesaat menghela nafasnya. 
“Dih… datang-datang langsung bikin rusuh, bukannya pake salam terus bawain oleh-oleh kek hihihi” celetuk Ify
“Yeee lu kira gua mau ngedate?” sewot Septian yang disambut senyum simpul Ify.

Kalau lagi digangguin saat serius belajar seperti ini, entah mengapa Ify tiba-tiba jadi teringat sosok anak jail yang slalu dengan santainya suka ngerebut buku yang dia baca terus nepok kepalanya pake buku sambil bilang “Belajar mulu lu pi. Sian tuh otak dah gebul sama asap gak liat apa lu orang di luar dah teriak-teriak dikira ada kebakaran hahaha...” Ify sedikit tersenyum simpul ingat candaan Iel yang kadang suka ngasal ceplos. Dan entah mengapa ia tiba-tiba merindukan candaan itu.

“Yee… kenapa lu jadi nyengir-nyengir sendiri gitu?? Stress yah? Makanya jangan kebanyakan beajar! Hahaha” tegur Septian. Ify yang kembali tersadar sedikit tersipu malu. ‘ah, kenapa jadi inget dia sih?

"Eh Via mana? Sendirian aja lu?" Tanya Ify kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Noh di lapangan" sahut Septian singkat tanpa memandang Ify. Matanya kini tengah asik mencari-cari buku di lemari perpustakaan itu.

Ify mengedarkan pandangannya ke luar jendela yang menghadap langsung lapangan basket sekolahnya. Ify masih bisa mendengar sayup-sayup teriakan Via menyemangati Iel. Ah, mereka sejak kunjungan terakhir mereka di sanggar beberapa hari yang lalu memang terlihat lebih dekat. Dan dia harus mengakui itu berjalan sangat bertolak belakang dengan kedekatan dengan dirinya. Ia kini tak lagi sering berada bersama sahabat-sahabatnya itu.Apa mereka yang menjauh? Atau gue yang memang terlalu serius belajar ya? Jujur. Entah mengapa setiap melihat kedekatan mereka, hawa kesepian tiba-tiba melanda hatinya. Apa dia tak rela sahabatnya itu semakin sering mengabaikannya? 'lo kehilangan Via atau Iel fy?' sebuah bisikan halus muncul menggoda hatinya.

Ify sesaat tertengun, tapi segera ia menggeleng pelan mengenyahkan bisikan itu, lalu kembali menghembuskan nafas beratnya lalu dan kembali menekuni bukunya. 'Pikiran ngaco' benak Ify. Mereka berdua sahabatnya. Pasti. Dan gak akan berubah. Mungkin itu cuma perasaan sentimentilnya belaka. Prioritasnya kini belajar. Dan ia tentu takkan membiarkan hal-hal lain membuyarkan konsentrasinya. Ya, apalagi soal perasaan hatinya yang sering kali ia rasa tak jelas pangkal ujung masalahnya, yang hanya bisa menghabiskan energi dan waktunya tanpa ada penjelasan pasti.


---------------------------3am-------------------------

Matahari pagi bersinar terang pagi itu. Seakan tersenyum turut menyemangati hati seorang gadis yang hari itu telah memutuskan untuk kembali menghadapi hari-hari yang sekian waktu telah menghilang tanpa kabar. Yap, Sila come back!

Mobil yang ditumpanginya berjalan ditengah jalanan yang sudah begitu padat, setiap kendaraan seakan saling berlomba menguasai setiap jengkal jalan ibu kota. Sila menatap datar ke luar jendela, menerbangkan kembali pikirannya ke beberapa malam sebelumnya. Malam dimana dia mulai belajar membuka pikiran dan hatinya lebih luas.


“Gue yakin, banyak orang yang masih sayang sama loe, banyak orang yang menunggu-nunggu senyum loe lagi. Tapi semuanya tergantung diri loe sendiri, mau atau gak loe membuka diri loe dengan mereka seperti loe ngebuka diri loe dengan gue malam ini…”


Sila sedikit terhenyak kembali teringat kata-kata Obiet malam itu. ‘Apa benar yang dikatakan Obiet? Benarkah mereka menunggu dirinya? Apa mereka semua bakal menerima dirinya sebaik yang dikatakan Obiet? Atau Obiet hanya ingin menyenangkan hatinya?’ Tiba-tiba hati Sila kembali berdegup kencang tak karuan.

"Ka udah sampe nih, mau turun bareng gak?"

Teguran itu menyadarkan lamunannya. Tanpa Sila sadari ternyata mereka telah sampai di depan gerbang sekolahnya. Dengan sedikit canggung Sila bergegas meraih tasnya, tapi kemudian dia kembali terdiam.

"eeee…. Lo duluan aja deh. Gue...gue mau rapiin rambut gue dulu bentar"

Agni yang telah bersiap turun dari mobil menatap Sila sesaat, lalu tersenyum penuh pengertian.

"Yaudah, aku duluan masuk ya ka.. Sampe ketemu di dalem" sahut Agni akhirnya sambil membuka pintu mobil lalu bergegas turun.

Sila menatap Agni yang berjalan menjauhi mobil. Terlihat kemudian senyuman Agni yang begitu ringan menyapa teman-temannya di depan gerbang sekolah. Sila menghembuskan nafasnya sesaat. Sebenarnya dia hanya ingin menenangkan diri sesaat saat itu. Hari itu Sila memang telah siap kembali ke sekolah dan menghadapi kembali kehidupannya. Sila telah merasa lebih mantab menghadapi semua dengan perasaan hatinya yang sudah terasa ringan.  

Masih kuat terbayang diingatannya kejadian beberapa malam sebelumnya. Saat dia mencapai sedalam-dalamnya kesedihan, serendah-rendahnya sebuah keterpurukan, dimana kekecewaan, kemarahan, keresahan, kesedihan, kegundahan, rasa bersalah, semua campur aduk menjadi satu yang akhirnya hanya bisa ia ungkapkan dalam tangisan. Dan saat itu ia merasa telah ada campur tangan Tuhan dalam kegundahan jiwanya. Tanpa ia sangka, seseorang datang menembus hatinya yang sudah begitu keras seperti sebuah benteng pertahanan yang tebal. Dia tidak menembus benteng pertahanannya layaknya pasukan perang yang membombardir dengan membabi buta. Tapi ia masuk dengan begitu halus bagaikan angin kesejukan yang mampu menembus melalui celah-celah kecil disela-sela benteng pertahanannya. Begitu halus, begitu lembut. Sampai dia merasa nyaman dan tak terancam apapun akan kehadirannya.


“jangan pernah bohongi hati nurani loe Sil. Jangan pernah menutup sisi baik dari diri loe dengan topeng-topeng keegoisan diri loe. Jangan halangi hakikat diri loe yang sesungguhnya memancarkan kebaikan. Jangan halangi dia untuk membuktikan jati diri loe yang sesungguhnya. Gue yakin seyakin-yakinnya, Sila orang baik yang sangat sayang dengan orang sekitarnya.” 


Sila masih begitu ingat dengan kata-kata yang begitu membesarkan hatinya itu. Obiet telah menghadirkan rasa nyaman itu pada hatinya malam itu. Obiet juga telah mampu membuka pikiran Sila jauh lebih dalam agar dia mampu berpikir lebih jernih. Dan dia amat sangat berterima kasih akan hal itu. Dan malam itu dia semakin bersyukur akan kebaikan Tuhan lagi dan lagi yang dianugrahkan pada dirinya. Mamanya telah tersadar, seakan-akan Tuhan menunggu dirinya ikhlas menerima segalanya sebelum memperbolehkan dirinya bisa kembali berhubungan dengan orang yang telah melahirkannya itu. Sebuah hubungan yang lebih baik, lebih hangat, lebih memahami satu dan lainnya. Yang penuh kerinduan bagaikan mentari yang dirindukan sang pagi.


"maafin Sila ma.. Sila gak mau mama kayak gini lagi. Sila sayang sama mama..."


"mama juga sayang... Maafin mama..."


"gak ma.. Mama gak salah apa-apa sama Sila. Sila yang salah..."


"Sil..."


"sttt... Mama istirahat aja yaa... Mama pokoknya harus sehat. Sila janji mulai detik ini Sila bakal banggain Mama. Sila gak bakal bikin mama kecewa lagi. Sila janji ma, SIla Janji"


Seutas pembicaraannya antara ia dan Mamanya yang dipenuhi tangisan penyesalan sekaligus kebahagiaan itu masih terngiang-ngiang di benaknya. Mamanya kini sudah sadar dan semakin membaik kondisinya. Dan hubungan mereka pun kini telah jauh membaik. Dan sampai detik itu janjinya pada Mamanya pada malam itu bakal menjadi janjinya seumur hidup. Itu tekadnya kini. Ia kini sadar, hidup tampak kejam bukan karena hidup tak baik pada kita. Tapi kita yang tak pernah bertindak agar membuat hidup itu menjadi baik. Karena bagaimana hidup kita adalah tergantung bagaimana cara kita sendiri dalam memperlakukan hidup itu.

Sila menghela nafasnya sekali lagi. Sekali lagi ia menatap gerbang sekolah yang telah menantinya. Dan setelah masalahnya dengan mamanya selesai, kini tiba saatnya ia harus berani menghadapi segalanya untuk membereskan sisa-sisa masalahnya yang telah ia tinggalkan dulu.


 --------------3am------------


Septian menatap datar ke arah Ify yang tak bergeming dari depan bukunya. Wajahnya yang bertopang pada kedua tangannya itu sudah terlihat sangat begitu bosan sepertinya menghadapi kebisuan sahabatnya itu. Ia menghela nafas sesaat, lalu menoleh ke arah luar. Suara sorak sorai Via masih juga sayup-sayup terdengar. Lagi-lagi Septian mendengus pelan. 'Kesambet apaan sih sahabat-sahabat gue? Yang satu lagi terlalu teropsesi sama buku, yang satu lagi tergila-gila sama cowo. Dan gue sendirian disini dicuekin. Tau gini gue ikut Kiki tadi ke kantin. Eh, tapi gue kan lagi program diet-_-' Septian menggaruk-garuk kepalanya sendiri bingung dengan pergulatan kata di hatinya. 

"Fy, udahan yok. Kita ke kelas aja. Bentar lagi bel masuk lho.." Paling gak dengan keluar dari perpustakan itu dan menjauhkannya dari buku-buku, Septian berharap sahabatnya itu ingat kalo dia masih punya sahabat yang perlu temen ngobrol ini.

Ify melirik sesaat, lalu memeriksa jam di tangannya. "Yaudah deh. Bentar ya, gue mau ngisi buku peminjaman buku dulu. Gue bawa ke rumah aja deh bukunya" sahut Ify kemudian sambil membereskan beberapa buku di hadapannya. 

Septian menunggu Ify di depan pintu perpus, lalu tak lama Ify pun menyusul sambil membawa setumbuk buku di tangannya.

"Ya ampun fyyy... Lo minjem buku apa ngangkut perpus ke rumah lo sih? Banyak bener minjemnya"

"ah, cuma 5 buku udah lo bilang banyak"

"CUMA FY??? Cuma 5 buku dengan masing-masing ketebalannya lebih dari 500 halaman. Itu banyaaakkkk!!!" sahut Septian. Ify yang disahutin gitu cuma nyengir.

"ah lo, gak kasian apa sama gue? Via tuh udah asik sendiri sama cowo gebetan dia. Lo sekarang asik mulu sama buku-buku tebel itu. Lupa udah sama sekitar. Kalo ada Sila lu berdua pasti diomelin lu nyaho deh!" cerocos Septian sambil terus berjalan di depan Ify menuju kelas mereka.

Mendengar nama Sila, Ify terdiam sesaat. Senyumannya memudar. Ify berjalan di belakang mengikuti Septian dengan pikiran sedikit menerawang. Dia teringat kembali dengan masalahnya dengan sahabatnya itu. Dan pertemuan terakhir mereka diakhiri dengan perseteruan yang sangat tak mengenakkan. ‘Sil, lo dimana sih? Sampai kapan lo mau nyiksa gue dengan perasaan bersalah?’ 

Saat mereka berjalan di lorong menuju kelasnya, Ditengah lamunannya, Ify tiba-tiba ditarik keras seseorang ke arah sudut lorong yang cukup sepi. Dan saat Ify sadar siapa yang menariknya, hatinya berdegup tak terbendung. Tanpa sadar buku-buku dipelukannya terlepas dan berjatuhan. Dan seketika dirinya membeku, tak tau harus bersikap seperti apa.


-------------------3am-----------------


Sila berjalan memasuki gerbang yang mulai ramai itu. Dengan langkah yang cepat ia menyusuri lorong yang menuju kelasnya. Saat melewati lapangan basket, Sila menoleh sesaat ke arah gerombolan anak yang bermain basket. Kening Sila sedikit mengerut saat melihat seseorang yang begitu ia kenal tengah berteriak menyemangati mereka. 

"gue gak salah liat nih? apa yang udah gue lewatin selama gue gak ada?" lirih Sila pelan. 'atau memang selama ini dia saja yang terlalu menutup diri dengan keadaan sekitarnya?' bisik hati kecilnya.

Sesaat Sila terdiam. Langkahnya tampak ragu saat ia ingin menuju lapangan. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang tengah berjalan ke arah dirinya. Sesaat dia kaget, dan sontak langsung menyembunyikan dirinya dibalik dinding di salah satu sudut lorong menuju toilet yang cukup sepi. Entahlah, hatinya kembali berdegup kencang saat itu. Dia merasa bingung sekaligus canggung menghadapi situasi ini. Dan dia merasa tidak siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan respon orang-orang terhadap kehadiran dirinya kembali. 

Sesaat Sila menggelengkan kepala mengenyahkan bisikan-bisikan jahat yang mencoba menciutkan hatinya. 'Loe bukan cewe yang lemah Sila. Loe pasti bisa ngadapin ini dan naklukin masalah-masalah lo' semangat Sila pada dirinya sendiri. Sebuah rencana segera tersusun cepat di otaknya. Dan dengan hati yang mulai kembali bersikap tegas dalam mengambil sikap, saat orang itu melewatinya, dengan cepat Sila menariknya ke arahnya. 

----------------------------3am-------------------------


"Ikut gue! Gue mau ngomong sama loe bentar" kata Sila yang tanpa menunggu jawaban langsung menariknya ikut masuk ke arah toilet yang sepi.

Setelah berada dalam toilet yang sepi itu dan memastikan tidak ada orang lain disana, Sila berbalik menghadap orang itu. Berdiri di depannya sosok yang pernah menjadi sahabatnya tapi juga sekaligus penghianat baginya. Ify. Ini pertama kalinya lagi mereka saling berhadapan setelah pertengkaran mereka beberapa waktu yang lalu. 

“Sila???”

Ify tampak begitu kaget terperangah melihat Sila. Matanya membelalak kaget, dan tubuhnya seakan tersihir menjadi membeku. Buku-buku dipelukannya tanpa sadar terjatuh membuyarkan kebekuan mereka.
“oh sori” kata Ify dengan sedikit gemetar segera menunduk membereskan buku-bukunya. Tapi Sila segera menahan pergerakan tangan Ify. Dengan cepat Sila mengambil 2 buku yang masih belum sempat dipungut Ify.
"nih buku loe...." ucap Sila sambil nyerahin buku itu ke Ify. Sesaat keheningan kembali menyelemuti mereka. Mereka hanya saling tatap dalam diam. 

"Sil... Loe kemana aja? Kita semua nyariin loe..." lirih Ify mencoba memulai pembicaraan. Tapi Sila masih diam dan terus menatap Ify tajam.

"Sil... Loe masih marah sama gue? Gue minta maaf gue dulu udah langgar janji kita. Maafin gue udah bohongin kalian semua. Gue minta maaf Sil..." lirih Ify lagi. Matanya kini sedikit berkaca-kaca menahan gejolak rasa bersalah dalam hatinya yang selama ini ia tahan. Sila masih diam sejuta bahasa. Matanya tak lepas terus menatap Ify dingin tanpa ekspresi apapun.

"Sila....." lirih Ify lagi.

“Jadi lo dulu terpaksa deket dengan Iel?” tiba-tiba Sila melontarkan pertanyaan tajam ke Ify.

“Iya”

“Jadi lo terpaksa bohong demi nutupin dia?”

“Iya..Tapi…”

“Terus lo sekarang ngerasa bersalah sama gue?”

“Iya, tap..”

“Terus lo tetep bersikeras minta maaf sama gue walau gue udah bilang lo penghianat?”

“Iya, t..”

“Tapi kenapa lo dulu harus ngerasa takut??!”

“…”

“kenapa loe gak percaya sama kita?!”

“…”

“Kenapa lo justru nutupin dan nanggung segalanya sendiri??!”

Sila terus mencerca Ify dengan kata-katanya yang tajam tanpa memberi kesempatan sekalipun bagi Ify untuk mencelanya. Kata-kata itu terus terlontar bagai magma di dalam perut gunung merapi yang telah tersimpan lama kini meletus dan memuntahkan segala yang tersimpan di dalam secara tak terkendali. Ify kini hanya bisa terperangah diam mendengar kata-kata Sila yang semakin meninggi itu. Ia tak mampu lagi berkata apa-apa. Tapi setelah menumpahkan segalanya yang ada di hatinya, ia kini tiba-tiba terdiam. Tapi matanya masih menatap tajam ke arah Ify. Rahangnya menutup kuat, mulutnya tak lagi melontarkan kata-kata tajam. Bahunya tampak naik turun mengatur nafasnya yang bergerak cepat berpacu mengikuti degup jantungnya. Berbagai bisikan mulai kembali mengusik hatinya.

‘Ngapain pake mikir lagi lo? Dia itu penghianat. Gak pantes lo anggap sahabat lagi. Apa dia gak tau gimana perasaan lo ketika dia lebih percaya dan memihak dengan orang yang suka jahat dan ngejudge lo? Dia lebih memilih berbohong dengan lo untuk lindungin musuh lo? Apa itu yang namanya sahabat?’

‘dia gak jahat Sil… dia cuma gak mau nyakitin hati orang lain. Lo udah kenal lama dia kan? Harusnya sebagai sahabatnya lo udah ngerti gimana karakter dia…’

‘Gak jahat gimana?! Dia udah mihak musuh lo! Ingat itu Sil…!’

‘Kasih dia kesempatan Sila… bukankah berteman lebih baik ketimbang bermusuhan?’ 

‘sekali musuh tetap musuh Sil! Jangan lemah! Jangan mau lagi lo kasih kesempatan yang ada mereka bakal nusuk lo dari belakang!’

‘Gak akan ada yang bakal tersakiti jika semua saling menghargai Sil… Damai tetap jauh lebih baik dari memendam racun dalam hati kita. Jangan kotori hati lo lagi Sila….’

Bisikan-bisikan halus yang saling bertentangan itu seakan-akan terus menggerogoti Sila, membuat hatinya semakin berkecamuk tak menentu, tak tau kata hati mana yang lebih ia percaya. Dia ingin percaya lagi pada kebaikan, tapi dia terlalu takut kembali terluka. Sila terus menatap mata Ify dalam keheningan. 

“jangan pernah bohongi hati nurani loe Sil. Jangan pernah menutup sisi baik dari diri loe dengan topeng-topeng keegoisan diri loe. Jangan halangi hakikat diri loe yang sesungguhnya memancarkan kebaikan. Jangan halangi dia untuk membuktikan jati diri loe yang sesungguhnya. Gue yakin seyakin-yakinnya, Sila orang baik yang sangat sayang dengan orang sekitarnya.”


Ingatan akan kata-kata Obiet dulu itu kembali menyeruak kuat. Sila tertegun sesaat. Sila melihat tatapan sendu Ify. Ada rasa takut dan kebingungan disana. Tapi slalu ada ketulusan dibalik sana yang dari dulu tak pernah berubah walah sering kali Sila abaikan. Itu bukan mata yang penuh amarah atau mata yang penuh kebohongan. Dan Sila tau mata tak pernah bohong menyampaikan isi hatinya. ‘Jadi apa lagi yang lo raguin Sil?’  Sila menghela nafas sesaat.

"tapi kenapa loe keras kepala banget sih Fy? Loe emang sahabat gue yang paling bodoh Fy. Kenapa loe masih harus terlalu baik nerima orang yang udah sakitin loe? Bego banget sih lo Fy...." lirih Sila akhirnya. Suaranya kini telah melemah, dan secara tiba-tiba ia memeluk erat Ify. 


Menerima itu semua Ify terdiam sesaat, kaget menerima perlakuan Sila yang seketika berubah 180 derajat itu. Tapi tak lama ia tersenyum simpul sembari merasakan pelukan hangat itu. Ia teringat dengan seseorang yang dulu juga pernah mengatainya bodoh karena bersikap terlalu baik. Tapi Ify sadar ia mungkin tak akan bisa lepas dari kebodohannya itu karena ia tau hatinya tak akan bisa tenang bila ia harus balik memilih menyakiti hati orang-orang yang ia sayangi.

"Kalau kebodohan gue bisa bikin keadaan lebih baik, gue rela menjadi orang terbodoh di dunia Sil..." bisik Ify sambil membalas pelukan Sila hangat. Kini ia bisa tersenyum bahagia. Sahabatnya kini telah kembali.

"BEGO! Lo jangan rela-rela aja jadi orang terbodoh se dunia! Kalo loe bodoh ntar yang ngajarin gue siapa? Gue udah ketinggalan banyak pelajaran nih! Hahaha " sahut Sila sambil melepas pelukannya sembali tertawa lepas.
Kini suaranya telah kembali ceria. Ify ikut tertawa mendengar candaan itu, dan seketika kebekuan yang sedari tadi menyelimuti mereka perlahan-lahan mulai mencair.

"Sori. Tadi gue numpahin uneg-uneg gue gak pake rem. Tapi gue gak maksud ngasarin lo." kata Sila kemudian. Ia menyunggingkan tersenyumnya.
"Gue minta maaf ya Fy... Gue udah kasar banget dulu sama Loe. Gak seharusnya gue bersikap begitu. Maafin gue yaa..." ucap Sila lagi. Ify menggeleng.

"Gak papa kok Sil gue ngerti. Gue juga salah waktu itu. Gue yang bikin salah duluan. Semua orang marah sama gue saat itu. Sivia, Septian, bahkan Gabriel.... Tapi gue gak akan sadar sama kesalahan gue kalau kalian gak marah sama gue. Gue belajar banyak dari kejadian dulu Sil. Gue minta maaf yaa..." sahut Ify tulus.

"Gue udah maafin loe kok. Gue juga banyak belajar dari kejadian-kejadian akhir-akhir ini. Dan gue jujur gatau lagi harus gimana menebus kesalahan gue kalo loe nolak permintaan maaf gue. Gue jujur takut kalau kalian membalas sikap dingin dan kasar gue dulu kayak gue sama loe dulu. Gue nyesel bersikap kasar dan angkuh kaya dulu. Gue sadar gak seharusnya gue mengkotak-kotakan teman kaya dulu. Maafin gue ya fy... "  

"Kita saling memafkan aja yaa.. Yang kemaren lupain aja. Kalo kata lagu, kita buka lembaran baru, hehehe...  Kalau ada teman yang mau berubah menjadi lebih baik, kenapa harus tolak? Kita saling mensupport dan menguatkan lagi aja yaa..."

Sila kembali memeluk Ify. "Obiet benar. Gue masih punya sahabat yang masih nunggu gue. Gue beruntung punya sahabat kayak lo Fy... " lirih Sila lagi.

“Obiet? Loe sejak kapan mau kenal Obiet??? Kayak Sila yang bukan gue kenal aja nih... hahaha” canda Ify sembari melepas pelukan mereka dan menatap Sila dengan pandangan sedikit tidak percaya. Sila sedikit tersipu mendengar sahutan Ify yang bernada bercanda itu.

“Ah sudahlah. Gue jadi malu. Ternyata temenan dengan mereka juga gak buruk-buruk amat hehehe” sahut Sila. Sila menceritakan sedikit tentang perbincangannya dengan Obiet di waktu yang lalu itu.


“Gue turut sedih soal nyokap lo Sil. Tapi semua pasti ada hikmahnya kan? Dan gue bakal bantu lo ngelewatin ini semua. Janji!” sahut Ify hangat setelah mendengar cerita Sila mengenai mamanya.  

Sila tersenyum lega. Meminta maaf dan memaafkan memang obat yang paling ampuh untuk hati yang merasa tersakiti. Sila sadar sikapnya di masa lalunya mungkin tanpa sadar menyakiti hatinya sendiri dan juga menyakiti hati banyak orang. Tapi gak ada kata terlambat untuk memperbaiki keadaan bukan? Dan dia tau harus menelan 'obat maaf' itu sekali lagi hari itu. Semua ikatan persahabatan yang telah ia robek-robek dulu, kini harus ia rajut kembali. Dan seketika ia merasa beruntung memiliki sahabat yang begitu berhati besar seperti Ify. 


"makasih ya fy..." lirih Sila penuh makna.

Kini hatinya menjadi jauh lebih lega. Jauh lebih ringan, dan jauh lebih bahagia. Walau pagi itu ia sempat merasa begitu tertekan, tapi pertemuannya dengan Ify yang bersikap begitu bersahabat dengannya sudah cukup bagi Sila untuk melalui pagi itu tanpa harus merasa terpojokkan. Ia kini merasa jauh lebih berani menghadapi harinya pagi itu dengan adanya dukungan dari sahabatnya itu. Itulah yang membuatnya kini memiliki keyakinan, persahabatan mereka bakal kembali seperti dulu lagi bahkan mungkin bakal menjadi lebih manis dengan tekatnya untuk merubah pandangan dalam bagaimana bersikap jauh lebih bersahabat dengan semua orang. Dan Sila menyadari kebenaran sebuah kata mutiara. Bahwa sahabat itu bukan mereka yang slalu ada di dekat kita, bukan juga yang slalu mendukung apapun yang kita lakukan. Tetapi sahabat adalah orang yang tetap bertahan di samping kita ketika semua orang menjauhi kita.



---------------------------3am----------------------


Priiiittttttt…. 

“Yak! Good job yel. Ayo selanjutnya jangan kalah….Debo!”

Gabriel berjalan ke tepi lapangan sambil mengatur nafasnya yang masih satu dua. Siang itu kelas mereka tengah ujian praktek olah raga bersama Pak Johan, guru olah raga mereka. Ujian praktek memang dilaksanakan lebih dahulu sebelum ujian tertulis digelar beberapa hari lagi. Tampak di lapangan basket sekolah itu ada beberapa property olah raga seperti matras, dan beberapa bola basket. Judul ujian olahraga mereka adalah estafet beberapa cabang olah raga. Lari. Sit up. Roll ke depan. Lompat jauh. Dan di akhiri shooting dari 3 titik berbeda. Cukup menguras tenaga menurut Iel. Pa Johan memang gak pernah tanggung-tanggung kalo ngasih ujian.

"Nih Yel minum dulu."  tawar Via ke Iel yang baru saja menyelesaikan ujiannya itu.

"Permainan basket lo makin keren deh! Wooo yang pas lo ngegolin dari tengah lapangan tadi keren parah!!" cerocos Via tanpa henti.

"hah? Ngegolin? Three point keles itu namanya kali neng. Udah kenceng ngomongnya, salah lagi hahaha...." ledek Iel, "Tapi makasih yaa neng pia yang cantik untuk pujiannya yang udah kesekian ratus kali dalam hari ini hahaha" sahut Iel santai sambil nerima sodoran botol minuman dari Sivia. Sivia memang hari itu tanpa henti terus menghebohinya dengan pujian dan kecerewetan lainnya, mulai dari Iel latihan sampai setelah ujian itu.

Sivia yang mendengar itu jadi tersipu malu antara senang dipanggil cantik sama malu dikatain Iel begitu. 'ah gapapa deh asbun yang penting cantik hihihi' bisik hati kecilnya bahagia. Ya hatinya wajar merasa bahagia kini karena akhir-akhir ini Iel semakin sering menunjukkan perhatian-perhatian dan kata-kata yang membuat hatinya berbunga-bunga. Ah mungkin ini jawaban Tuhan atas doa-doanya. Dan ia senang hasrat cintanya kini sepertinya mulai berjalan seperti apa yang ia mau. Dan pikiran-pikiran itu semakin membuat pipinya merona.

"Abang Sion juga keren kali tadi neng pia cantik.... Masa Iel doang yang dipuji dan dikasih minum???" goda Sion dengan tatapan genit iseng, membuyarkan lamunan Sivia. 

"Dihh!!! Genit amat sih lo?!" omel Sivia sambil melotot ke Sion. 

"aduh neng jangan galak-galak napa? Ntar luntur lho cantiknya" sahut Sion lagi sambil dengan kilat mencolek dagu Sivia dan langsung lari menjauhi Sivia yang tampak siap meletus bagaikan gunung merapi.

"SIOONNNN!!!" teriak Sivia yang telah mencak-mencak tak terima dengan keisengan Sion. Via langsung menyabit botol ke Sion.

"Eh udah-udah...hahahha" relai Iel. Sivia mendengus sedikit lalu kembali memusatkan perhatiannya kepada Iel.

“Tapi Lo tadi beneran keren banget kok! Ih kok bisa cepet banget tadi nyelesaiinnya. Mana lemparan bola lo akurat banget. Ih gua liatnya sampe bengong tadi. Serius lho! Gila lo tadi…..blablabla….”

Komentar panjang Sivia yang sepertinya tak ada habis-habisnya itu hanya ia sambut dengan gumaman kecil sambil tersenyum sedikit dipaksakan agar gadis itu tak mengambek padanya. Dia biarkan saat gadis itu menyeka keringatnya di keningnya. Saat dia duduk beristirahat di salah satu sudut lapangan itu, ekor matanya menangkap sosok Ify yang nampak sedikit tegang sambil dengan jeli menonton teman-teman lainnya yang tengah ujian. Mulutnya agak yang komat kamit sedikit membuat Iel geli. Olahraga mungkin satu-satunya pelajaran yang bisa ia jadikan bahan ledekan dengan gadis itu. Pelajaran yang tak bisa sekedar dihapal tapi harus dengan bakat alam juga menurut Iel. Dan ia tau gadis itu takkan suka dengan fakta bahwa buku-bukunya tak banyak berguna dan dia lemah di ujian fisik ini. Dan ia pasti lebih takkan suka kalau dengan fakta itu Iel bisa membalas dendam seperti saat-saat mengajarinya olahraga dengan omelan-omelan meremehkan yang dulu suka ia lakukan dengan gadis itu. Iel sedikit tersenyum mengingat itu semua.

Diam-diam ia kembali meliriknya. Ify kini tengah bersama Sila dan Septian disana. Pagi itu mereka sempat dikagetkan dengan kehadiran Sila yang tiba-tiba. Jujur Iel sempat merasa harimau dalam dirinya kembali hadir saat melihat Sila. Dia bahkan hampir saja ingin membalas ulah Sila yang dulu sempat begitu menyakiti Ify, tapi Ify saat itu tiba-tiba muncul disamping Sila. Mereka sempat berpapasan dan saling menatap sesaat. Iel masih bisa mengingat senyum yang tertoreh di bibir Ify saat itu. Itu bukan senyuman tegar, itu juga bukan senyuman yang terpaksa, tapi itu senyuman manis yang slalu mampu membuat hatinya luluh. Ify dan Sila tak tampak bermusuhan lagi. Entahlah apa yang terjadi. Wanita kadang memang aneh dan sulit dimengerti. Tapi Iel bersyukur Ify tampaknya telah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, tanpa perlu perhatian darinya. Yah, mungkin memang seperti itulah kini jalan mereka, tak bisa lagi seperti dulu sekarang…..Sepertinya dia harus menahan segala perhatian itu semua akibat sandiwara yang harus terus ia lakukan itu. 

Yah. Sebuah sandiwara. Sejak tanpa sengajanya ia mendengar ucapan menyakitkan yang tak sengaja ia dengar di dapur sanggar beberapa hari yang lalu, ia kini merasa benar-benar pupus. Sudah beberapa hari itu Iel mencoba menghindar dan memilih untuk lebih memberikan perhatian lebih pada sahabat gadis itu persis seperti yang ia mau. Tapi gadis itu masih juga tetap terlihat kaku, tak menunjukkan ekspresi apa-apa atas apa yang ia lakukan beberapa hari ini. Mereka kini sama-sama bersikap seakan tak saling mengenal. Dan itulah keputusan yang telah Iel ambil. Mungkin dengan bersikap cuek begitu dia bakal lupa dengan rasa sakit hatinya.

Tetapi setiap Iel kembali  mengingat lagi kejadian di sanggar dulu, hatinya seakan kembali teriris pedih. Memang saat itu mungkin bukan maksud gadis itu untuk menyakiti dirinya karena memang tak seharusnya ia berada disana mendengar percakapan itu. Tak seharusnya ia menjadi merasa sesakit ini. Tapi bukankah segala hal yang spontan itu selalu murni berasal dari hati tanpa topeng apapun? Apa benar gadis itu tak sedikitpun punya rasa pada dia? Tapi kenapa selama ini dia bersikap begitu…..
‘ah! Sial!’ Bisik Iel dalam hatinya. ‘Ya! Semua perasaan yang ada di hati lo semua salah lo Yel! Bukan salah Ify. Lo gak bisa nyalahin gadis itu atas perasaan yang tak pernah dia minta. Dan sekarang lo harus terpenjara pada aksi yang sungguh bertentangan dengan hati lo hanya demi membuat dia senang? Terus lo ngarep apa setelah ini? Apa Lo ngarep bisa moveon gitu aja? Atau Lo ngarep dia bakal cemburu terus punya perasaan yang sama dengan lo saat lo ngecuekin dia? Sinetron banget sih lo Yel! Bego!’ kutuk hati Iel. Tanpa sadar Iel mengacak-ngacak  rambutnya. 

“Woy Yel!! Lo dengerin gue gak sih?? Kok garuk-garuk rambut sihh.. Ihhh jorok!” lamunan Iel terbuyarkan oleh suara itu. Via kini tengah memandangnya dengan tatapan sedikit merajuk.

“Iyaaa… denger kok” sahut Iel singkat sambil menandaskan minumannya.

“apa??!” tanyanya galak.

“gue keren kan?” sahut Iel cuek.

“dihhh…narsis banget sih lo hahaha” sambar Via sambil memukul ringan bahu Iel gemas. Iel hanya tertawa penuh kemenangan.

“Ayooo ajarin gueee” 

Oke. Sepertinya Iel harus mengesampingkan kegalauannya sementara waktu untuk dapat segera meladeni rentetan pertanyaan gadis itu kalau ia tak mau terus menerus mendengar rengekan cerewet gadis di sampingnya itu. 


---------------------3am-----------------


Degupan jantungnya terus memacu ketegangan di otaknya. Jika tak ada suara-suara ribut anak-anak yang ngobrol dan saling berteriak sana sini di sekitarnya, Ify yakin dia bakal bisa mendengar bunyi jantungnya sendiri saking kencangnya berdegup. Jemari-jemari tangannya terus menerus ia mainkan, hal yang selalu ia lakukan tanpa sadar untuk mengurangi kegugupannya. Mulutnya bergumam tak jelas menghapal beberapa teori olahraga yang sebenarnya telah ia sadari takkan banyak berguna di lapangan nanti.

Matanya menatap lekat teman-temannya yang tengah melakukan ujian sambil mencoba menyerap teknik-teknik yang dilakukan teman-temannya. Kini ia baru saja melihat Iel menyelesaikan putaran ujiannya di lapangan. Ify tak ragu kalau Iel mendapat nilai yang sempurna dari Pak Johan. Gerakan-gerakannya begitu sempurna di lapangan tadi. Dulu saat Iel masih suka minta temanin berolahraga bersama setiap hari minggu di taman komplek mereka, Iel sering memarkan padanya keahliannya dalam berolahraga. Dan disaat Ify tak bisa mengikutinya, pasti cerocosan ledekan dan omelannya membanjiri telinganya.

otak pinter juga gak ada gunanya pi kalau badan klemer-klemer kayak orang penyakitan kayak lo gituu…ayooo olah raga!”  ledek Iel biasanya. Lalu dengan sedikit memaksa ia akan mulai ‘menjajah’ Ify dengan latihan-latihan olahraga sampai ia bisa mengikuti apa yang Iel mau.

Walau sedikit menyebalkan, tapi Ify merasakan ajaran-ajaran iel itu agak banyak berguna juga buat kesehatannya dan juga disaat-saat pelajaran olahraga seperti ini.Tapi, itu dulu sebelum keadaan aneh sekarang yang membuat mereka menjauh terjadi. Kini dia hanya bisa sedikit mencuri pandang ke arah Iel yang terlihat asik ngobrol dengan Sivia dengan tawa lebarnya itu. Hatinya sempat kembali sedikit menyelocos melihat itu, namun sedetik kemudian dengan sedikit gelengan kepala ia mengenyahkan pikiran-pikiran tak jelas itu dan kembali fokus dengan hapalan di kepalanya. 

“Ify Alyssa!”

Ify sedikit tersentak akibat panggilan itu. Tanpa ia sadari ternyata giliran ujian telah mencapai urutan absennya.

“Ayo fyy… Santai aja. Lo pasti bisa kok” semangat Septian sambil menepuk pundaknya hangat.

Ify tersenyum tipis lalu berjalan mantab memasuki lapangan.‘Lo pasti bisa Fy! Semangat!’ teriak Ify dalam hatinya optimis walau hatinya masih sedikit tersimpan keraguan. 

"Semangat Fy!" support Sila yang baru menyelesaikan gilirannya.

Ify memulai tahapan-tahapan estafet olahraganya dengan cukup mulus. Lari keliling lapangan secepat yang ia bisa. Sit up dengan gaya yang benar walau sedikit kepayahan diakhir-akhir. Roll ke depan. Kemudian lompat jauh yang sempat membuat dia terjerembab di pasir akibat pendaratan yang kurang mulus. Tapi ia pantang menyerah walau kakinya sudah agak kepayahan. Tinggal 1 pos. Basket. Dan dia harus memasukkan 3 bola basket dari titik yang berbeda. Shoot pertama, ia teringat dengan tips Iel dulu saat sering mengajarinya menembak bola basket. Dan masuk! Ify tersenyum saat mengambil posisi di titik penembakan ke-2.

Shoot!

Sayang kali ini tembakannya sedikit meleset. Titik ke-3 dengan sedikit menggebu, Ify bertekat memasukkan bola terakhirnya ini sambil berharap nilainya akan lebih baik jika bola terakhirnya masuk. Ify mengambil ancang-ancang untuk melompat lebih tinggi kali ini karena titik penembakan yang agak jauh kali ini. Dan......

Shoot!!

Bola tampak mengarah dengan baik dan akan masuk tepat sasaran sepertinya. Tapi disaat bola akhirnya masuk tepat sasaran namun disaat bersamaan Ify yang terlalu fokus menatap bolanya, justru lengah dan tak melakukan pendaratan lompatan yang sempurna. Dan…… 


‘BRUKKK!!!’


-------------------------3am-----------------------

"Gampang aja kan caranya? Masa gitu doang lu gak bisa?" jelas Iel pada Via.

"ihh... Buat lu sih gampang, buat gue kan beda lagi"

"Ya kalo lu mau gampang masukin bolanya, ya udah lu minta panggilin bang Yadi aja" saran Iel.

Sesaat Via mengerutkna keningnya. Bang Yadi? Bang Yadi kan petugas kebersihan di sekolah mereka.  Apa hubungannya sama ujian olah raga dengan Bang Yadi? 

"Lah? Apa hubungannya sama Bang Yadi? Emang Bang Yadi bisa bikin bola basketnya nurut sama kata gue gitu?"

"Yee... Mana mungkin gitu.... Lu kira kita di dunia Harry Potter bisa sulap gitu? Maksud gue, lu panggil aja Bang Yadi gendong lu biar lu nyampe masukin bola basketnya wkwkwkwk"

"Ihhh.. Iel becanda mulu!" rajuk Sivia. Tapi hatinya diam-diam tersenyum malu. Segaring apapun candaan Iel, ia merasa hal itu takkan pernah membosankan baginya. Apalagi tawa itu. Senyum itu. Hanya untuk dia. Hanya tertuju padanya. Ah..... Ini rasanya seperti diterbangkan ke langit ke 7. Pipinya kembali merona. 


"AWWW!!"

Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang dari lapangan yang memecah lamunannya. Dan sebelum ia menyadari apa yang telah terjadi, Iel sudah menghilang dari sampingnya. Via mencari sosok Iel di sekelilingnya, dan ia menemukannya tengah berlutut di lapangan. 'apa yang terjadi?'


Tampak beberapa anak juga berlari ke tengah lapangan. Sivia pun segera ikut mendekati sumber suara itu.

"Ifyy!!" pekik Via setelah mengetahui siapa yang terjatuh di lapangan.

Tampak dihadapannya Ify kini tengah meringis kesakitan memegangi pergelangan kakinya. Sikunya juga tampak berdarah. Rupanya saat ia melakukan shoot terakhir, ia melakukan pendaratan yang kurang sempurna.

"Gue gpp kok" lirih Ify pelan walau wajahnya tak bisa menutupi kalau dirinya tengah menahan sakit.

"Gpp apanya??! Lutut dan siku lo berdarah, dan kaki lo kayaknya terkilir. Ayo ke UKS!" tegas Iel.

Via hanya mampu memandang khawatir saat Iel dan Septian menolong Ify berdiri. Namun saat Via melihat ke arah Iel, menatap mata tajam yang tak lepas dari Ify, Via merasakan sesuatu yang berbeda disana. Mata itu. Tatapan itu. Pandangan itu. Sepertinya tak pernah ia melihat mata itu memandangnya dengan sorot seperti itu. Begitu hangat dan lembut. Penuh perhatian.

Seperti itukah mata itu disaat ia khawatir?

Seperti itukan mata yang menatap penuh perhatian?

Apa mata itu akan memandangnya sama disaat perhatian itu tertuju padanya?

Diam-diam hatinya menginginkan pandangan yang sama diberikan padanya. Tapi hanya untuk dirinya seorang, bukan orang lain.


---------------------------Bersambung---------------------------

Maaf kalau ada yang mungkin bingung dengan gaya saya bercerita di part ini. Mungkin ada beberapa scene saya skip, dan mungkin ada sebagian yang saya simpan untuk disajikan di lain tempat/waktu. Tp smg masih bisa dinikmati. Beginilah adanya tulisan saya setelah vakum 2 tahun hihihi...
Smg cukup utk sedikit mengobati kerinduan teman-teman yang masih setia nunggu cerita yang super lelet ini. Doakan saja part selanjutnya tak selama ini vakumnya. Kita santai aja hehehe... :p

Seperti biasa, dimohon kritik dan sarannya.

Wassalam..
3 komentar