This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

FIKSI - PROMISE Part 47: Satu Perubahan

Lanjutan dari PROMISE Part 46: Sebuah Kenyataan. Baca juga Promise Part 1: Awal untuk mengetahui asal mula cerita fiksi ini diawali dan mulai terbentuk.

NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka (fanfict). Bila ada kesamaan tokoh, kejadian, tempat dsb, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Segala hal yg tertulis di cerita ini hanyalah hayalan dan imajinasi penulis belaka, bukan suatu hal yg terjadi sebenarnya. So, jangan pernah menganggap cerita ini serius, apalagi terhadap anak2 IC yg aku pakai namanya di dalam cerita fiksi ini. Thx dan selamat membaca... :)

PROMISE - Part 47: Satu Perubahan

-------------------misst3ri---------------------

Hari kembali menjumpai sang mentari pagi. Begitu pula dengan para pelajar yang harus menjumpai kegiatan rutinnya di sebuah bangunan yang bernama sekolah. Dan Gabriel pagi itu kembali menghadapi rutinitasnya itu dengan sedikit kelesuan. Kejadian di hari yang lalu masih begitu membebani dirinya. Pertengkarannya dengan Ify sore hari yang lalu benar-benar membuat Gabriel tak bisa menikmati sisa harinya kemaren dengan pikiran yang tenang. Sikap Ify yang dia anggap berubah dengan begitu tiba-tiba itu masih tak bisa logikanya jangkau. Dan kini, dalam pikiran Iel cuma ada satu hal. Dia harus menemui Ify dan meluruskan segalanya kembali.

Iel memasuki gerbang sekolah dengan sedikit terburu-buru. Dia tak ingin kegalauan dalam dirinya ini bersemayam lebih lama lagi. Dan hanya dengan berhasil berbicara dengan Ify dia yakin bakal bisa lebih tenang.

“woy Yel! Buru-buru amat loe! Kebelet? Hahaha…” tegur seseorang. Iel menoleh dan menjumpai Cakka kini tengah berlari kecil mengejar dirinya.

“gak kok” sahut Iel sambil tersenyum, dan lalu mereka bersama-sama menuju kelas.

Iel mencoba sedikit santai dan memelankan langkah kakinya saat bersama Cakka. Tapi hatinya berdegup kencang tak sabar. ‘sabar Iel… Ify gak bakal lari kemana-mana kok. Loe masih satu kelas dengan dia. Tenang, semuanya pasti bakal cepat beres’ itu yang berkali-kali Iel katakan dalam hatinya untuk menenangkan ketidaksabarannya sekaligus menyemangati dirinya sendiri. Setelah berada tinggal beberapa meter dari pintu kelas, senyum Iel sedikit merekah. Ia bisa melihat gadis yang membuat dirinya tak tenang itu tengah duduk di kursi depan kelasnya. Iel pun semakin melangkah penuh semangat.

“eh Fy..”tegur Iel saat sudah berada di dekat Ify.

“eh Cakk, nongol juga loe akhirnya… pulang sekolah jadikan kita ke rumah Patton? Gue punya ide baru. Gimana kalo…..” bukannya menanggapi Iel, Ify malah berdiri dan dengan cueknya melewati Iel, berjalan ke arah Cakka kemudian mengajak Cakka yang berada di belakang Iel itu untuk mengobrol. Ify lalu membawa Cakka menjauh untuk mengajaknya berdiskusi, meninggalkan Iel yang kini hanya bisa menatap sendu Ify dan Cakka yang tampak asik mengobrol itu.

“sekarang lagi musim kacang yah?” lirih Iel lesu tanpa sadar sambil terus menatap Ify yang baru saja berlalu itu. Semangat yang coba ia bangun susah payah dari pagi tadi, tiba-tiba runtuh dengan seketika saat ia menjumpai kenyataan itu.

“eee Yel… gue boleh minta bantuan loe gak?” Lamunan Iel terbuyarkan. Iel menoleh dan menjumpai Via yang kini berdiri di sampingnya dengan sebuah buku di tangannya.

“yaa.. tentu aja boleh kalo gua bisa bantu. Apaan?” sahut Iel masih dengan nada bingung. Keningnya sedikit mengerut melihat kehadiran Via yang tak disangka-sangka itu.

“loe kan jago bahasa inggris. Bisa ajarin gue gak? Gue ada yang gak ngerti. Ntar kan jam ke 4 kita ada test…” ucap Via agak sedikit menundukkan kepalanya.

Iel terdiam sesaat. Ini masih terasa sebuah surprise buat dia. Prilaku Via yang ramah beberapa hari terakhir masih sedikit membuatnya canggung setelah perang alot mereka yang tlah terbentuk selama bertahun-tahun itu.

“hmm.. boleh deh. Kenapa nggak kan? Hehehe” sahut Iel akhirnya mencoba membalas sikap ramah Via. Dia memang boleh sering keok dalam pelajaran yang berurusan dengan angka-angka. Tapi tidak dengan pelajaran yang satu ini. Dimana dia bisa unjuk kecerdasan dengan bangga dengan para guru.

“oke deh. Kita belajarnya di dalam kelas aja yaa…” sahut Via gembira. Iel mengangguk dan setelah itu dengan cepat Via pun meraih pergelangan tangan Iel untuk mengajaknya masuk ke kelas. Sesaat Iel sekali lagi melirik tempat Ify dan Cakka. Dia kembali menghembuskan nafasnya begitu berat lalu melangkah masuk mengikuti Via.

--------------------misst3ri---------------------

Tett teettt…. Tanda jam pertama kegiatan belajar mengajar di pagi itu tlah berbunyi. Anak-anak yang masih berada di luar kelas pun mulai bergegas memasuki kelas masing-masing.

“eh, vi… udah jelaskan?” kata Iel.

“eh vi? Udah jelas kan?” tanya Iel lagi karena tak ada sahutan dari Via.

“hah? Eh oh, iya iyaa yell.. ngerti kok gue hehehe…” jawab Via agak gelabakan.

Via kembali menunduk. Jujur saja, sepanjang Iel menjelaskan tadi dia banyak asik bermain dengan pikirannya sendiri sembari menahan gejolak kegembiraannya bahwa saat itu Iel tengah begitu dekat dengan dirinya sekarang. Entahlah, ketimbang bahasa-bahasa bule yang diucapkan Iel saat menerangkan kepadanya itu, lebih banyak terdengar bagaikan nyanyian surga di telinganya. Oke ini lebay, tapi begitulah yang ia rasakan saat itu.

“bagus deh, gue balik ke bangku gue yah…” kata Iel sambil mengembalikan kursi sila yang pagi itu masih juga kosong, ke tempatnya semula. Saat mengembalikan kursi sila itu tiba-tiba pundak Iel ditepuk kuat seseorang. Iel pun tersentak kuat karena kaget.

“WOY!!! Ketauan ada yang mojok pagi-pagi!! Hahaha….” Teriakan itu memperlengkap kekagetan Iel.

“CAKKA!! JANTUNGAN GUE!!” teriak Iel saat berbalik dan menjumpai wajah iseng Cakka sudah terpampang dengan polosnya di hadapannya.

“hahaha… sori sorii… eh, yel pulang sekolah kita ke rumah Patton olin yah. Jangan langsung pulang loe…” cerocos Cakka tanpa basa basi.

“hah? Mau ngapain? kalo gitu gua telepon pak asdi deh biar gak usah jemput gue” sahut Iel cepat.

“eh jangan” sahut Cakka cepat, “Gua ada perlunya sama mobil loe dan pak asdi sebenarnya, lu nya mah ga penting, hahaha…”

“sialan lu” rengut Iel, “emang pada mau ngapain?” lanjut Iel.

“borong amunisi. Ya gak fy?” sahut Cakka sambil mengalihkan pandangannya ke Ify yang kini sudah duduk dibangkunya, tepat disamping meja Via, “Kita minjem mobil Iel aja ya fy. Oke kan ide gue? Hahaha” kata Cakka lagi.

“hah? Sama Iel? Eee… Iya deh…” sahut Ify singkat, “eh tapi kalo gitu gua mau ngajak Via juga. Vi loe ikut juga yah…” kata Ify kemudian. Via yang tiba-tiba diajak Ify seperti itu sedikit kaget.

“lho? kok gua ikutan juga?” Tanya Via. Iel yang saat itu masih berdiri di depan meja Via sedikit melirik ke arah Ify. Dia merasa ada yang aneh dari nada bicara Ify. Sepertinya Ify mengajak Via karena Cakka juga melibatkan dirinya. Dan saat itulah matanya sesaat bertemu tatapan mata Ify yang tampak telah memudarkan sinar kehangatannya, persis seperti saat pertengkaran mereka sore hari sebelumnya. Tapi kontak mata itu terputus karena seketika Ify mengalihkan padangannya ke arah Via.

“ayolah vi, mau yah… pleaseee….” rayu Ify lagi. Via pun tersenyum dan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.

“seep… kalo gak, masa loe tega liat sahabat loe ini berangkat sendirian sama penyamun-penyamun iseng ini, hehehe…” sahut Ify lagi dengan nada sedikit bercanda sambil melirik Cakka Iel yang sontak disambut tepokan buku dari Cakka ke arah Ify yang berdiri persis di samping meja Ify.

“ih Cakkaaa… sakiittt!!” keluh Ify sambil mengusap jidatnya. Cakka hanya tertawa penuh kemenangan sambil menyeret Iel menjauh. Ify yang tak terima sudah siap mengejar untuk membalas, tapi niatnya harus diurungkan karena guru yang mengajar mereka pagi itu telah datang, tanda mereka harus memulai kegiatan belajar mengajar di pagi hari itu.

----------------------misst3ri-------------------------

Dentingan-dentingan suara sendok yang beradu dengan piring dan gelas terdengar saling bersahutan. Suara-suara obrolan dari satu meja ke meja lain menambah keramaian di tempat itu. yap, sebuah tempat sasaran utama anak-anak sekolah dikala waktu istirahat, apalagi kalau bukan kantin. Disalah satu meja panjang, dipenuhi beberapa anak-anak laki-laki yang tengah asik mengobrol.

“syad, gimana kemaren ke rumah agninya? Ketemu?"

“gak. Yang ada malah kita ke rumah sila”

“lah? Kok ke sila?”

“iya. Pas kita kemaren ke rumah agni, kata Ify itu rumahnya sila. Tau deh. Bingung gue” jawab irsyad masih sedikit lesu karena keberadaan agni yang masih misterius itu.

“sila? Masa serumah? Ade kakak yah mereka” celetuk debo polos.

“ngarang lu de. Sila cuma punya ade 1, dan itupun masih SD. Gak mungkin agni…”

“iya nih, masa mereka kakak ade? Ada-ada aja loe. Ga liat apa mereka kalo digabung kaya kopi susu gitu” celetuk Sion juga.

“hus!! Enak aja lu…. Gue sebagai bangsa kopi tersungging nih, eh tersinggung” kata irsyad.

“hahaha… sori bro, gak maksud. Dia kan kopi tapi manis. Kalo elu mah kopi item yang pait! Wkwkwk” jawab Sion asal.

“eh, jangan salah…. Biar kopi-kopi pait gini juga, banyak bikin orang ketagihan, sakaw kena kafein gue yang super mempesona, wkwkwk” sahut irsyad sedikit narsis.

“mempesona pale lu?! Empet gitu juga wkwkwk” ledek Sion lagi. Dan beberapa waktu kemudian pembicaraan yang lumayan serius itu berubah topic menjadi ajang lewak antara Sion dan irsyad yang sangat begitu cocok kalau soal ledek-ledekan dan narsis-narsisan.

Sementara Obiet yang juga tengah berada disana, mendengar obrolan tentang sila dan agni tersebut, dia jadi teringat pertemuannya dengan dua orang tersebut. Memorinya bergerak cepat memutar ulang setiap jejak kejadian yang terjadi. Dia tak menceritakan perihal itu pada siapa pun. Bukan dia tak mau cerita tentang penemuan dia ini. Dia yakin teman-temannya bakal senang kalau mendengar hal ini. Tapi, dia merasa ini bukan waktu yang tepat. Melihat kondisi shila malam itu yang masih begitu emoSional, Obiet merasa tak sebaiknya dia membongkar masalah itu. Masih begitu banyak hal yang perlu dia pertimbangkan sebelum memberitahukan pada semua perihal masalah shila, mamanya dan juga agni tentunya.

Malam itu agni sempat bercerita panjang lebar tentang kecelakaan yang menimpa mama shila. Juga cerita tentang hubungannya dengan sila selama ini, dan tentu saja pertengkaran sila dan mamanya sebelum kecelakaan itu, dan juga pertengkaran-pertengkaran yang sebenarnya sudah sering terjadi di hari-hari sebelumnya juga. Yah, tentang pertengkaran antara ibu dan anaknya yang merasa terasingkan, merasa tak dianggap lagi sebagai anak yang seharusnya mendapat perhatian penuh. Tak Obiet kira, masalah seperti itu dia kira cuma bisa terjadi di sinetron-sinetron yang biasa kaum hawa di pantinya tonton tiap malam itu. Entahlah. Dia kini merasa kasian, tapi juga bingung menyikapi masalah shila ini. Karena… Apa yang dia tahu tentang kasih sayang orang tua jika dia merasakan saja tak pernah?

“eh biet kenapa loe? Diem aja dari tadi..” tiba-tiba sebuah teguran menyadarkan Obiet. Obiet menoleh dan melihat Cakka yang kita sudah menatapnya penuh.

“eh, gak papa kok…” lirih Obiet dengan senyum simpulnya.

“lu ikut kita gak ke rumah Patton pulang sekolah ini?” kata Cakka lagi.

“eee… gue kayaknya gak bisa ikut deh.. Mau ke rumah sakit gue. Mbak nana dan rahmi harus stay dipanti. Ade-ade banyak yang sakit, jadi rada bawel kalo ditinggal. Maklum lah, musim flu kan sekarang….”

“oh gitu yah? Yaudah deh… kalo loe yat?” kata Cakka lagi yang kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dayat.

“wah gue kan hari ini harus ngajar di sanggar. Loe tau lah, om tio dan istrinya kan lagi gak ada. Jadi so pasti sanggar dibawah tanggung jawab kita. Lagian loe ngajaknya dadakan gini sih…”

“ya sori, kan idenya baru nongol kemaren hehehe… yaudah deh, gue bareng Iel dan Ify aja. Ada Patton dan olin juga ntar bantu. Eh, ada Via juga. Pasukan cukup kok”

“gue kok gak diajakin?” celetuk Sion.

“ngajak elu? KAGA!! Yang ada mah ntar lu ngancur kerjaannya wkwkwkwk” sahut Cakka yang langsung membuat Sion cemberut.

“hahaha…. Yaudah, yang hari ini biar gue, Iel Ify Via olin Patton aja. Kalo kebanyakan orang ntar disangka tawuran lagi di sana, hehehe…. Tapi ntar besok kita rapat, semua harus datang ke sanggar yah….” Kata Cakka, “Lu juga yon harus datang. Pasti ntar cucian piring banyak abis rapat wkwkwk” kata Cakka lagi ke Sion.

“dihh… pas ada gituan aja gue diajak..” lagi-lagi Sion yang kena jadi bahan ledekan hanya bisa manyun dan langsung disambut gelak tawa yang lain.

---------------------misst3ri------------------------

Siang itu di satu kawasan perumahan padat penduduk di sudut kota….

“nah, itu barang-barang hasil mulung bapak gue… cari aja sesuka kalian..” kata olin.

Siang itu sepulang sekolah, Cakka, Iel, Ify, dan Via sudah berada di rumah olin. Mereka berencana mencari beberapa perkakah bekas yang mungkin bisa mereka gunakan untuk pertunjukkan nanti. Kurangnya peralatan musik yang dimiliki sanggar membuat mereka harus berpikir kreatif untuk dapat menyajikan pertunjukkan yang keren disaat lomba nanti. Dan seperti ide yang telah di diskusikan Cakka, Obiet dan Ify bersama papanya Cakka kemaren itulah mereka memutuskan mengambil langkah ini.

“makasih lin, ntar barang yang kita ambil kita bayar deh. Oke?” kata Cakka

“wah, barang yang kalian ambil seberapa sih? Gak usah repot-repot gitu kka…” tolak olin halus.

“udahlah… biar dikit, kita tau kok itu bernilai gede buat keluarga loe. Udah loe ikut apa kita aja, oke?”

“terserah kalian deh, siapa yang gak mau dikasih duit, hehehe….”

“hahha.. sok malu-malu lu lin! Sok basa-basi! Hahaha…“ ledek Patton yang saat itu tengah ada disana juga, “ eh, emang mau nyari barang yang kayak gimana coy?” tanya Patton lagi.

“emmm… mungkin kumpulin aja dulu kayak botol-botol, kaleng-kaleng, drum-drum, ember, atau yang sejenisnya gitulah… ntar kita pilah-pilah lagi”

“di kumpulin di rumah Patton aja kali yah? Biar enak sekalian dibersihin ntar. Kalo disini ntar kecampur lagi. Lagian rumah gue lagi kebanjiran lagi nih. Biasa kemaren kan hujan, hehehe…”

“bener coy…”

“oke. jadi semuanya bisa nyari barang-barang yang seperti gue bilang tadi. dan kita kumpulin di halaman rumah Patton yah? Oke semua, saatnya bekerjaaa….” Kata Cakka akhirnya mengarahkan teman-temannya. Anak-anak pun membubarkan diri dan memulai pencarian mereka.

---------------------misst3ri----------------------

Saat itu Ify tengah membongkar-bongkar tumpukan perkakas bekas yang ada didalam sebuah gerobak. Tak jauh dari sana sepasang mata memantau diam-diam. Pelan-pelan ia mendekati.

“eh fy, gue mau ngomong ten…..”

“kalo mau ngobrol ntar-ntar aja deh yel. Ntar kerjaan kita gak kelar…” potong Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan barang bekas dihadapannya itu.

Iel menghembuskan nafas sesaat. Sepertinya Ify benar-benar sulit untuk diajak berkompromi sekarang. Sejak dari sekolah, sampai saat ke rumah olin menumpang dengan mobilnya tadi, dia tak sedikitpun ia bisa curi-curi untuk berbicara berdua dengan Ify. Ify seperti selalu menghindar darinya. Dipaksa hanya bisa diam-diam seperti itu, benar-benar mengelitik hati Iel. Dan menghadapi penolakan halus Ify tadi, lagi dan lagi, ia hanya bisa menghela nafasnya dan mencoba lebih bersabar menahan gejolak ketidaknyamanan di hatinya. ‘Yah, udah deh. Harus lebih pelan-pelan lagi kayaknya gue ngomongnya’ batin Iel. Iel pun kemudian mulai bergerak, mencoba menyibukan diri seperti yang lainnya, sambil terus berharap ada sedikit kesempatan untuk berbicara dengan Ify agar dia bisa menerobos masuk dan menyudahi sikap dingin gadis itu.

Dan untuk beberapa menit kemudian kedepan, sudah terlihat semuanya telah asik dengan aktivitas mereka sama seperti Ify. Tapi tak perlu waktu lama, keringat sudah mulai mengucur di kening Ify. Matahari yang sudah mulai condong ke timur itu rupanya masih juga kuat bersinar begitu sangat perkasa siang itu. Berkali-kali Ify menyeka keringatnya dengan lengan bajunya. Kini dia mulai bermandikan keringat seperti. Tapi itu tak menyurutkan semangat Ify untuk terus melanjutkan pekerjaannya itu.

“eh lu disana aja gih. Disini panas fy…”

Ify menoleh, ada Iel disampingnya yang tampak juga asyik ikut membongkar-bongkar tumpukan barang yang sama dengan dirinya. Tapi kemudian Ify akhirnya hanya diam tak menyahuti Iel lalu memilih kembali melanjutkan aktivitasnya setelah sedikit agak menjauh dari daerah Iel membongkar-bangkar barang tersebut.

“Eh ati-ati! Sini gue aja yang ngeluarin barangnya. Kalo ini tumpukan jatoh nimpa loe gimana?”

“gak istirahat fy? Udah keringatan banget gitu juga lu….”

“sini gue aja yang ngangkat, lu bagian bersih-bersih diseberang aja gih…”

“barang yang didapet udah banyak tuh, gue aja yah yang lanjutin nyari-nyari disini. Lu disana aja gih bersih-bersih sama Via…”

Berkali-kali celoteh Iel itu lagi lagi dan lagi merecoki keasyikan Ify memilah-milah barang. Seketika setelah beberapa kali di recokin seperti itu, Ify akhirnya terdiam dan memandang Iel dengan agak kesal. Sesaat ia menghela nafas, lalu berkata…

“iyee mama Iel tayong. Muah.. Nih….” Jawab Ify dengan nada agak sebal sambil menyerahkan barang yang ia angkat kepada Iel kemudian langsung menjauh dari Iel.

“mama Iel?” lirih Iel. ‘emang gua kaya emak-emak yah?’ benak Iel yang masih berdiri terbengong-bengong melihat tingkah Ify tersebut. Lalu masih dengan wajah bingung, ia berjalan kearah Cakka sambil membawa sebuah kaleng bekas cat itu.

“eh emang gue kayak emak-emak yee?” lirih Iel.

“apaan sih lo yel? Aneh-aneh aja deh… hahaha” sahut Cakka sambil melewati Iel dengan santai. Iel lalu mendekati Patton yang juga berada di dekat sana, lalu melontarkan pertanyaan yang sama.

“ton, tampang gue kayak emak-emak yah?” tanya Iel lagi dengan tampang yang polos bak bayi tak berdosa.

Patton terdiam sesaat, menghentikan pekerjaannya, lalu memandang Iel dengan serius. Matanya penyorot detail dari ujung rambut Iel yang agak jabrik itu, sampai ujung kaki Iel. Keningnya sedikit mengerut, lalu tangannya perlahan mengelus-elus dagunya seakan-akan tengah berpikir keras. Iel melihat itu ikut terdiam seakan mempersilahkan Patton menilai dengan jeli. Patton kemudian bergerak mengambil sebuah bakul yang kebetulan berada di dekat sana.

“coba lu pegang ini dulu coy” Iel meraihnya walau dengan sedikit kerutan di keningnya. Bingung.

“trus lu buka deh ni payung” kata Patton lagi sambil menyerahkan sebuah payung bermotif kembang-kembang yang sudah lumayan buluk itu kepada Iel. Iel pun tanpa tanya dan kecurigaan sedikitpun, masih menuruti apa kata Patton.

“lu mo ngapain sih?” tanya Iel akhirnya. Patton masih juga diam. Dia malah asyik ngambil taplak meja, lalu melipatnya. Patton melirik ke arah Iel. Lalu tersenyum.

“kan lu nanya apa lu kaya emak-emak kan tadi?”

“iya…” lirih Iel polos. Tanpa Iel bisa bendung, tiba-tiba saja Patton dengan cepat mengerudungkan taplak meja yang sudah ia lipat membentuk segi tiga itu ke kepala Iel, lalu mengikatnya dengan kencang tepat di bawah dagu Iel.

“ADOWHH!!” teriak Iel reflek karena ikatan Patton sangat kuat pada bawah dagunya.

“nah! Kalo gini nih baru lu mirip emak-emak coy! Wakakakakk” teriak Patton sambil segera mengambil langkah seribu. Iel yang masih syok dengan perlakuan Patton terhadap dirinya yang hampir saja jadi korban pencekekkan taplak meja, sekilas melihat bayangan dirinya pada kaca jendela rumah. Dirinya langsung bergidik melihat penampilan aneh dirinya dengan kerudung, payung serta bakul yang tergantung di bahunya.

“PATTOOONNNNN!!!!!” teriak Iel. Seketika saja dalam beberapa detik kedepan, Patton telah diburu dengan begitu ambisius oleh Iel yang mengejarnya sambil mengancung-ancungkan payung ke arah Patton.

------------------tri3am---------------------

“lu kenapa sih sama Iel? Aneh banget sih lu berdua…” pertanyaan itu terlontar begitu saja saat Cakka datang menghampiri Ify. Ify hanya melirik sekilas pada Cakka, lalu kembali focus pada pekerjaannya.

“gak.. biasa aja” sahut Ify enteng sambil terus membersihkan beberapa barang bekas menggunakan lap basah.

“hahaha.. sok cool banget lu jawabnya hehehe…” canda Cakka, “Eh, si Iel kenapa sih? Abis ngomong sama lu masa dia tiba-tiba datangin kita nanya, ‘muka gue kayak emak-emak yah?’ Gitu kata dia. Error kan tu bocah? Hehehe…”

“emang kayak emak-emak” sahut Ify datar.

Cakka menghentikan tawanya, lalu melirik ke arah Ify dengan penuh selidik.

“jangan-jangan gara-gara lu yah? Loe ngatain Iel emak-emak? Kenapa? Hahaha…” cerocos Cakka lagi.

“abis… bawel banget jadi orang. Kayak nyokap gua tau gak dia dari kemaren. Lebih malah kayaknya. Masa dia ngomel-ngomel kemaren gara-gara gue pulang telat, padahal kan gue ke rumah loe. Trus tadi juga, gue mau ngangkat apa dilarang, gue beres-beres dia ngomel juga kaya emak-emak. Gimana gak kesel gue?” cerocos Ify yang langsung disambut gelak tawa oleh Cakka.

“huahahahaha… unyu amat sih kalian wakakakak…” kata Cakka ditengah tawanya. Ify sesaat mendelik kesal ke arah Cakka.

“dih.. unyu apaan?”

“unyuuunyuuuu…” sahut Cakka lagi dengan muka digemes-gemesin dan mulut di moyong-monyongin bak ikan lohan.

“dihh… ini nih baru unyu!” kata Ify sambil ngelempar lap basah bekas ngelap ke muka Cakka.

“Ifyyyyy!! Basah woy! Ah, Gila lu rusak jambul gua…..” keluh Cakka. Pel itu reflek dilempar dia jauh. Cakka jadi heboh sendiri mengusap-ngusap mukanya sambil membereskan jambul rambutnya yang langsung lepek kena lap basah itu. Sementara itu Ify sudah tertawa lepas penuh kemenangan, gantian menertawakan Cakka.

--------------------misst3ri------------------------

Di tempat lain, Iel yang telah selesai membereskan balas dendamnya terhadap Patton, tampak duduk santai di ruang tamu rumah Patton. Aksi pengejaran makhluk lincah bin licin seperti Patton tidaklah mudah. Perlu perjuangan ekstra bak bersaing belanja lebaran dengan ibu-ibu agresif di sebuah pusat perbelanjaan yang penuh diskon. Tapi syukurlah, si kecil berakal bulus itu sudah berhasil ia tangkap. Iel sesaat melirik ke arah pohon jambu depan rumah Patton dimana seorang anak tengah terikat dengan tragis disana. Senyum gelinya pun tak bisa ia sembunyikan dari bibirnya. Sesaat hiburan ini mengalihkannya dari ingatan tantang masalahnya dengan Ify, dan juga tentang kata ‘mama Iel’ yang sempat membuatnya bingung sebelumnya itu.

“si Ify sama Cakka kok jadi akrab banget ya sekarang”

Keayikan Iel menertawakan Patton tadi, akhirnya terpecah oleh suara itu. Iel menoleh ke samping. Sudah ada Via disana. Perkataan Via tadi semerta-merta membuat Iel kembali teringat dengan gadis itu. Mata Iel bergerak cepat mencari 2 orang yang Via sebutkan tadi. Ah itu dia, di sudut teras rumah, tak jauh darinya. Iel diam-diam mendengus sembari memandang dingin 2 sosok itu. Sekali lagi dia merasa seperti di jatuhi bongkahan batu es yang begitu dingin, yang dengan seketika membekukan aliran darahnya, menyesakkan nafasnya, dan membuatnya mati rasa.

“eh kalo diliat-liat Ify cocok juga dengan Cakka. Kita comblangin yok yel?”

“WHAT!!” Mendengar celetukan Via itu, diri Iel yang tadi seolah-olah tersihir membeku, tiba-tiba seperti terhantam palu besar yang seketika menghancurkan bongkahan es yang membekukan dirinya, dan memaksanya untuk segera tersadar.

“biasa aja napa loe gausah pake teriak. Gue kan gak budek” protes Sivia. Iel terdiam, lalu mulai bersikap biasa.

“ngapain sih, kayak jaman siti nurbaya banget deh lu main jodoh-jodohin orang.” Lirih Iel sambil meraih sebuah buku yang ada disana, lalu membuka-bukanya dengan asal, menyamarkan perubahan roman wajahnya.

“abis gue kan kasian juga sama Ify, masa dia udah kelas 3 gini belom pernah sekali pun gua denger dia pernah naksir-naksir orang, apalagi pacaran…”

“emang Ify kayak lu, doyan pacaran” sahut Iel tajam. Via sedikit mendelik kearah Iel.

“enak aja! Gue baru 2 kali yah pacaran. Dan setelah gue putus sama pacar gue setengah tahun lalu, gue gak pernah pacaran lagi. Asal lu tau tuh!”

“ohya? Makasih deh buat infonya. Tapi gapenting buat gue..” cibir Iel, “Dan dari pada lu rempong mau jodohin Ify, kenapa gak lu aja yang nyari cowo sana” jawab Iel agak jutek. Via agak mendengus kecil mendengar sahutan Iel itu.

“ihh.. ngeselin banget sih lu. Terserah gue dong!” kata Via yang tak disahuti lagi oleh Iel. Pipi Via agak sedikit bersemu merah. Bukan karena malu sebenarnya, tapi lebih karena kesal. Dalam hatinya pengen banget berteriak ‘gua sih mau aja yel, tapi sama loe!! Ngerti gak sih loe??!!’ Tapi apalah daya, kata-kata itu hanya bisa bergaung di hatinya tanpa pernah keluar terucapkan.

Setelah itu tak ada lagi obrolan yang terjalin. Hanya sunyi dan suara samar-samar dari Patton yang masih terikat di bawah pohon depan rumah akibat perbuatan balas dendam Iel tadi.

“coooyyyy…. Lepasin gua…..”

---------------------tri3am-----------------------

Tit tit tit tiitt….

Jam digital yang dikenakan Obiet berbunyi. Sudah pukul 8 malam rupanya. Obiet memandang ranjang bundanya dimana sang bunda tengah terlelap kini. Setelah menyantap makan malamnya dan meminum obatnya, bunda langsung terlelap tadi. Ruang itu sepi. Hanya ada bunda, dirinya dan debo yang tampak asik membaca komik di sampingnya.

“de, gue keluar dulu yah bentar. Sekalian nyari makan. Laper gue dari siang tadi belom makan”

“hmm…” gumam debo tanpa mengalihkan matanya dari lembaran-lembaran komik yang tengah dibacanya itu.

Obiet bergegas mengambil jaketnya, lalu berjalan keluar kamar. Dia merasa perlu menghirup udara segar malam itu. Berada dalam ruangan dalam waktu yang lama cukup membuatnya sedikit suntuk. Obiet pun menyusuri lorong-lorong rumah sakit itu. Ada keasyikan tersendiri bagi Obiet ketika ia berjalan-jalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit seperti ini. Ia bisa melewati banyak pemandangan yang membuatnya bisa sedikit mengambil pelajaran di dalamnya. Ada tawa bahagia orang-orang yang menyambut bayi kecilnya. Ada ketegangan dari orang-orang yang khawatir akan keselamatan orang terdekatnya. Dan ada juga tangis duka yang memayungi dikala orang yang mereka sayangi menjumpai akhir hidupnya. Itulah hidup. Bakal ada tawa dan kesedihan. Ada awal dan ada akhir. Semua sudah tertulis oleh-Nya. Semua itu pasti bakal semua manusia hadapi. Dan kita sebagai manusia hanya bisa ikhlas, kuat, dan sabar menjalani segala yang diberikan Tuhan dalam hidup ini. Itulah kehidupan.

Di tengah keasyikannya berkeliling rumah sakit itu, tiba-tiba ia mendengar sebuah pertengkaran kecil di ujung lorong yang sepi itu. Obiet yang merasa terpancing untuk mengetahui siapa yang bertengkar itu, diam-diam mendekat untuk mengintip. Suara yang terdengar agak familiar di telinganya itu semakin memperbesar rasa penasaran Obiet.

“loe ga usah sok peduli gitu sama gue!”

“aku gak…..”

“trus loe bawa Obiet kesini! Ngapain?!! mau bikin gue malu?”

“kita cuma mau ngibur kakak..”

Tampak kini di depan mata Obiet, sila dan agni tengah adu mulut. Sila terlihat begitu emosi menghadapi agni. Wajahnya yang putih itu sedikit memerah. Matanya terlihat menatap begitu tajam ke arah agni walau sedikit sembab. Sementara agni berdiri di depannya dengan wajah yang begitu sendu.

“loe juga pasti seneng kan gue kayak gini?!”

“kakak jangan emosi gini dong, agni cuma mau bantu kakak kok….”

“gue gak butuh perhatian palsu loe! Gak usah sok baik lo!!”

“sil, kita beneran peduli sama loe” tiba-tiba Obiet yang yang sedari terus memperhatikan rupanya geregetan juga untuk menunjukkan diri. Rupanya dia juga tak tahan lagi mendiamkan pertengkaran itu.

“ngapain loe disini juga? Mata-matain kita loe?!!” ucap sila keras saat melihat keberadaan Obiet disana.

“gue cuma mau bantu…”

“Gue gak perlu simpati loe!”

“tapi kak…”

“loe gak usah sok peduli! Kalian gak tau gimana rasanya jadi gue!”

“makanya loe cerita!” timpa Obiet lagi. Sila mendelik tajam ke arah Obiet.

“cerita apa? Loe juga gak bakal bisa ngerti apa yang gue rasa!” sengit sila.

“rasa apa? Gak dapat perhatian? Gak dapat kasih sayang? Atau gak punya ortu? Gue tau rasanya itu! Bahkan sejak gue lahir!!!” tegas Obiet akhirnya yang akhirnya mampu membuat sila tak mampu lagi berkata-kata, seolah-olah bibir itu tlah tersihir terkantup rapat oleh perkataan Obiet.

Ditengah situasi penuh luapan emosional itu, hanya sorot mata tajam sila yang berbicara dan telapak tangannya yang menggenggam kuat seakan ingin meremas segala perasaan yang begitu berkecamuk itu. Obiet bisa melihat dari bahasa tubuh sila itu, bahwa hatinya tengah bergejolak kuat saat itu. Walau wajah keras sila terlihat begitu kuat mempertahankan egonya, tapi dari matanya yang mulai berkaca-kaca itu Obiet tahu, hati yang tlah lama membeku dan tertanam di diri gadis itu mulai melunak.

“ishh…” desah sila akhirnya sambil mengusap cepat seberkas air mata yang mulai jatuh di sudut matanya itu. Kemudian dia membuang wajahnya kemudian segera berbalik dan dengan cepat ia berlari menjauhi mereka, meninggalkan segala kebekuan diantara mereka yang terbentuk begitu tak nyaman itu.

“ka sila!!” agni coba mengejar sila.

“ag, jangan” tahan Obiet dengan cepat sambil menyambar pergelangan tangan agni, “gue yakin dia pengen sendiri. Biar dia tenangin diri dia dulu. Hati yang sekokoh besi seperti sila, gak bakal bisa meleleh hanya dengan cepat. Sabar…” pinta Obiet. Agni menatap Obiet lalu mengangguk mengerti.

Yah, hati sila mungkin tak lagi bagai es, tapi sudah seperti besi yang harus dipanaskan dengan suhu yang begitu tinggi dan penuh kesabaran hingga ia bisa meleleh dan berubah menjadi seperti layaknya air yang bisa bersahabat, mengalir tenang mengikuti bentuk-bentuk yang ada disekitarnya.

------------------misst3ri---------------------

“wah, payah ni den, macet parah…” keluh pak asdi.

“yaudah deh pak, mau diapain lagi” sahut Iel yang duduk disamping kursi pengemudi. Tadi sore, setelah beres di rumah olin, Iel, Cakka, Ify dan Via pergi ke sanggar untuk mengantar barang-barang temuan mereka terlebih dahulu. Sebenarnya setelah maghrib, mereka sudah memutuskan kembali pulang dengan mengantar Sivia yang rumahnya paling jauh lebih dulu, kemudian Cakka, dan terakhir Ify yang memang satu komplek dengan Iel. Tapi di perjalanan setelah mengantar Cakka, mereka terjebak kemacetan yang dikarenakan adanya kebakaran sehingga jalan yang mereka lewati tertutup sementara dan akhirnya memaksa mereka harus terjebak di tengah kemacetan itu.

“fy loe gak papa kan rada telat nyampe rumahnya?” kata Iel lagi.

“hmmm…” hanya terdengar sebuah gumaman kecil dari mulut Ify.

Iel melirik sedikit ke arah kursi belakang dimana Ify berada. Iel bisa melihat Ify duduk dalam diam tepat di pinggir jendela. Mulutnya terus mengantup rapat sementara matanya menerawang lurus ke arah luar. Lagi-lagi Iel hanya bisa menghela nafasnya lalu kembali menatap jalanan lurus kedepan dengan wajah yang semakin gundah. Ify masih saja bertahan dengan sikapnya yang dingin bahkan ketika hanya tertinggal ia, Iel dan pak asdi di mobil seperti saat itu. Hal ini benar-benar hampir membuat Iel frustasi sesungguhnya.

Dan setelah lebih dari satu jam terjebak macet, akhirnya mobil Iel bisa juga melaju mulus kembali ke rumah mereka. Setelah memasuki blok rumah Ify, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah yang tampak sudah cukup sepi itu.

“fy, dah samp….” Kata-kata Iel terhenti saat ia berbalik ke arah kursi belakang.

Sesaat ia tertengun. Sekali lagi dia melihat wajah polos yang terukir di wajah gadis itu disaat dia terlelap. Wajah yang tenang, tulus, tanpa tertutup topeng kehidupan yang kadang begitu mengekang. Wajah yang selalu membuat Iel tenang memandangnya tanpa harus merasa tersakiti ataupun merasa menyakiti.

“wah, non Ifynya malah ketiduran. Di bangunin aja den”

“emmm… ntar dulu deh. Kasian juga kalo dibangunin sekarang. Liat deh pak, kecapean banget kayaknya dia” lirih Iel.

Rasa kasian dan juga…. rasa tak rela sepertinya. Itu yang muncul di hati Iel sekarang. Dia hanya ingin menikmati ini sesaat. Saat-saat diamana ia bisa memandang wajah penuh kedamaian yang sangat ia rindukan seharian itu. Tapi rupanya Tuhan tak meluluskan keinginan Iel itu. Wajah yang tadinya terlelap tenang itu tiba-tiba bergerak. Matanya mengerjap menyesuaikan masuknya cahaya dalam kornea matanya. Iel sontak mengalihkan pandangannya saat Ify mulai bangun dan menegakkan tubuhnya.

“eh udah sampe yah? Kok loe gak bangunin gue sih?” gerutu Ify pada Iel yang ternyata sudah tertangkap mata olehnya hanya diam memandangnya. Tanpa berkata-kata apa-apa lagi, Ify segera membuka pintu mobil dan bergegas turun. Dan Iel untuk kesekian kalinya hanya bisa menghela nafas beratnya. Saat membututi pergerakan Ify itu, ia tersadar ada barang Ify yang tertinggal.

“eh fy tunggu!” teriak Iel, lalu bergegas meraih barang itu, lalu turun dari mobil.

“HP loe ketinggalan…” ucap Iel sambil mengancungkan HP milik Ify itu. Mata Iel terus mengikuti gerak Ify yang kembali mendekat untuk mengambil HPnya.

“makasih” ucap Ify datar sambil meraih HPnya yang disodorkan Iel tersebut.

Tanpa ada kata-kata lain, Ify segera kembali berbalik dan mulai membuka pagar rumahnya kemudian melangkah masuk, meninggalkan Iel yang kini menatapnya dengan sendi, begitu frustasi mendapat perlakuan dingin dari Ify itu.

“Fy!” tegur Iel lagi.

Ify tampak menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Iel tajam. Jantung Iel tiba-tiba berdegup kencang. Entah ada keberanian apa Iel jadi memanggil Ify lagi seperti tadi. Tapi Iel cuma merasa harinya tak boleh berakhir menyakitkan seperti ini lagi. Perjuangannya hari itu tak boleh berakhir sampai disana.

“apa lagi?” sahut Ify sedikit jutek dari balik pagar. Tanpa sadar Iel menelan ludahnya sendiri. Hatinya sedikit ciut juga menghadapi sikap Ify yang tak kunjung bersahabat dengannya ini.

“eee… loe gak pamitan sama emak lu ini?” sahut Iel dengan tampang polosnya. Entah kenapa, kata-kata itu yang tiba-tiba terlontar dari mulutnya.

Sesaat Iel menggigit bibirnya setelah menyadari kekonyolan perkataannya barusan. Tapi entah kenapa, justru ucapan Iel tadi membuat Ify terdiam seketika. Ia sesaat terpaku menatap lurus Iel yang juga tengah menatapnya lembut.

“fy? Sorii…” lirih Iel lagi. Ify tak jua menjawab. Dia masih saja terdiam sembari menatap Iel datar.

“maaf fy kalo gue nyebelin 2 hari ini. Maaf yah…” ucap Iel lagi.

Ify masih terpaku menatap lurus Iel, terus membiarkan kesunyian menemani mereka sesaat. Dan entah kenapa, rasa iba itu tiba-tiba hadir. Mungkin dia sudah terlalu keterlaluan dengan Iel. Tak seharusnya dia menyakiti hati orang di depannya itu dengan perlakuan tak menyenangkan darinya. Tapi entahlah, walau ia tau itu menyakitkan, tapi entah ada bisikan setan apa yang membuatnya seharian tadi melakukan hal itu kepada Iel. Kecuekannya di sekolah sepanjang hari itu. kejudesannya saat bersama anak-anak di rumah olin sebelumnya. Sampai sikap dinginnya yang tak kunjung mencair. Padahal ia tau, Iel berkali-kali seharian itu mencoba mendekatinya. Ia tau, itu takkan terasa adil bagi Iel. Mungkin ia memang sempat agak kesal dengan Iel, tapi… mungkin sudah saatnya juga ia menghentikan itu semua.

Ify kembali menundukkan kepala sesaat, lalu tersenyum dan tertawa kecil. Lalu ia menatap Iel dengan tatapan yang lebih lembut kini.

“gue udah maafin loe kok yel, dan gue juga ngaku salah bohongin loe kemaren. Sori yaa…” sahut Ify yang seketika mampu membuat senyum Iel merekah. Hatinya yang sebelumnya begitu terasa berat, penuh digantungi kegundahan, seketika hilang dan terasa begitu ringan. Yeah! Akhirnya! Teriak Iel dalam hatinya. Sesaat mereka berdua hanya saling pandang dengan seulas senyuman malu-malu diantara keduanya.

“met malam yah mama Iel. Have a sweet dream yaa” ucap Ify kemudian dengan senyum manisnya sebelum ia kemudian berlalu masuk ke dalam rumahnya.

Mata Iel terus mengawasi gadis itu sampai ia masuk dan menutup pintu rumahnya. Dan ketika sosok itu sudah tak terlihat, Iel berbalik kembali ke mobilnya dengan senyum yang tak jua pudar di bibirnya. Senang rasanya dia bisa melihat senyum manis itu kembali. Satu senyum yang langsung merontokkan gunung es yang seharian itu berdiri kokoh diantara mereka berdua. Satu senyuman yang Iel yakin telah menjadi sihir ampuh yang mampu membuatnya mimpi indah malam itu.

----------------------BERSAMBUNG (3am)-------------------------

6 komentar

FIKSI - PROMISE Part 45: Lose

Lanjutan dari Promise - Part 44: Malam yang Indah. Baca juga Promise Part 1: Awal, untuk mengetahui asal mula cerita fiksi ini diawali dan mulai terbentuk.

NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka (fanfict). Bila ada kesamaan tokoh, kejadian, tempat dsb, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Segala hal yg tertulis di cerita ini hanyalah hayalan dan imajinasi penulis belaka, bukan suatu hal yg terjadi sebenarnya. So, jangan pernah menganggap cerita ini serius, apalagi terhadap anak2 IC yg aku pakai namanya di dalam cerita fiksi ini. Thx dan selamat membaca... :)

PROMISE - Part 45: LOSE

--------------------------misst3ri-------------------------

Gerimis hujan turun membasahi bumi di senin pagi itu. Udara dingin turut menyertai tetesan air hujan yang jatuh satu persatu itu. Seorang gadis membuka tirai jendelanya dan menatap riang tetesan-tetesan air hujan yang turun sambil sesekali menerpa kaca jendelanya itu. Senyumnya sesaat mengembang. Tampak tak ada sedikitpun kekecewaan melihat hujan itu meskipun sebentar lagi dia harus keluar rumah. Hujan itu tampaknya tidak akan bisa mengurangi semangatnya untuk pergi ke sekolah hari itu. Hubungannya dengan sahabatnya, via, yang telah membaik di malam minggu yang lalu tentu saja membuat dia punya satu alasan lagi untuk lebih bersemangat pagi itu. Dan karena itulah dirinya yakin bahwa langkahnya hari itu pasti akan jauh terasa lebih ringan.

Perlahan ia buka jendela kamarnya, dan ia hirup udara yang menyeluak masuk ke ruangan itu. seketika bau hujan memenuhi indera menciumannya. Sekali lagi senyumnya mengembang mencium bau hujan yang terasa begitu merilekskan dirinya itu. Puas melihat hujan, ia pun segera berbalik dan membereskan segalanya sebelum berangkat kesekolah. Setelah selesai bersiap, dengan langkah riang, ia pun keluar kamarnya dan segera menuju ruang makan untuk sarapan bersama orang tuanya yang tlah menunggunya di bawah.

--------------------------misst3ri-------------------------

Tin tin!!

Sedang asyik menikmati sarapannya, tiba-tiba ify mendengar suara klapson mobil dari depan rumahnya. Ify sesaat menolehkan kepalanya menuju arah depan rumah, dimana suara itu berasal. ‘pasti iel’ benak ify. Dan dugaannya tak salah, karena selang beberapa detik kemudian HP di kantongnya telah berbunyi. Sebuah panggilan masuk menunggu untuk diangkat. Di layar tertulis nama ‘Lei’ yang tak lain adalah iel. Ify segera menekan tombol hijau di HPnya dan menyahuti panggilan itu.

“hallo”

“fy… gue udah di depan. Buruan nyusul. GPL yaa…”

Klik. Telepon di tutup. Ify sontak menatap ke layar yang beberapa saat yang lalu menampilkan nama lei itu dengan wajah sedikit kesal.

“dihh… langsung di tutup. Ga sopan amat ni bocah. Pake nyuruh-nyuruh gua lagi” dumel ify. Tapi meskipun agak kesal diperlakukan iel seperti itu, toh dia segera menghabiskan juga sarapannya itu, dan segera bergegas menyusul iel yang tlah menunggunya di depan rumahnya.

“ma, ify berangkat dulu ya. Iel udah nunggu di depan tuh. Ntar tambah cerewet nih kalo ify kelamaan nyusulinnya… dah mama…” pamit ify pada mamanya yang juga tengah sarapan. “hati-hati yaa…” kata Mama ify sambil tersenyum menyambut kecupan kilat yang diberikan ify sesaat sebelum ia melesat ke luar rumah.

“sayang, jangan hujan-hujanan, pakai payung….” Pesan mamanya.

“gak usah maa… gerimis doang kok…” teriak ify. Karena mobil iel sudah menunggu tepat di depannya, Ify pun tanpa pikir panjang langsung menerobos gerimis hujan itu. Dan dalam hitungan beberapa detik kemudian, ify sudah berada di jok belakang mobil iel.

“lama amat loe!” omel iel yang duduk di jok depan, telah berbalik menghadap ify di jok belakang. Ify hanya sedikit melirik iel.

“iya sorri aki-aki cerewet….” Sahut ify sambil memeletkan lidahnya yang langsung disambut towelan iel di kepala ify.

“yee… udah pinter ngeedek ya sekarang.. haha….” Tawa mereka berdua pun pecah seperti mobil iel yang juga telah mulai memecah hujan, menerobos jalanan.

“oiya fy, papa loe udah berangkat kerja ya fy? Kok mobilnya udah gak ada tadi?”

“papa lagi keluar kota. Jadi makasih ya jemput pagi ini, kalo gak gue naik taksi tadi, hehehe….”

“nyante fy…. Tumpangan bakal selalu ada buat guru private matematik gue, hehehe….”

--------------------------misst3ri-------------------------

Hujan gerimis itu semakin lama semakin deras. Manusia-manusia yang berteduhkan payung-payung itu tampak berbaur dengan tetesan air hujan yang tampak turun semakin derasnya itu ketika mereka tlah sampai di sekolah.

“wah, den… payungnya ketinggalan kayaknya nih… bapak pinjemin dulu yaa” kata pak asdi setibanya di sekolah dan menyadari bahwa payung di mobil itu tak ada.

“eh, gak usah pak, deket aja juga sama gerbang” Tahan iel ke pak asdi.

“Yok fy, kita terobos aja” kata iel lagi sambil melepas jaketnya. “biar pake jaket gue aja. Hitungan ketiga kita buka pintu bareng-bareng ya fy” suruh iel ke ify. Ify pun hanya mengangguk.

Iel dan ify pun lalu membuka pintu bersamaan, kemudian keluar mobil dengan cepat. Lalu dengan gerakan cepat iel menutup pintu mobil dan segera memayungi ify juga dengan jaket miliknya. Ify sedikit tertengun saat tangan sigap iel mengerudungkan jaketnya diatas kepalanya dan langsung merangkulkan tangannya pada pundak ify agar tak berada terlalu jauh darinya. Ini membuat wajah iel kini begitu dekat dengannya yang tiba-tiba membuat ada desiran halus yang menggelitik hatinya sekarang. Tapi ify segera tersadar saat tangan iel yang berada dibahunya menariknya untuk mengikutinya bergerak.

“buruan jalan fy!” tegur iel. Ify pun mengangguk pelan dan dalam hitungan detik, mereka pun sudah berlari bersisian menuju gerbang sekolah yang tak begitu jauh dari sana.

“ah, sampe juga. Gila. Deres juga ujannya. Gua kira gak. Jaket gue sampe lepek gini” kata iel sambil melihat keadaan jaketnya yang tampak sangat basah dan banyak meneteskan air itu. Jaket iel memang basah kuyup, tapi syukurnya iel dan ify tak terlalu basah karena perlindungan jaket tebal milik iel tadi.

“ciee… romantis amat tadi payungan pake jaket berduaan. Gue ikutan donk…” tiba-tiba ada sion disana.

“ah, ngasal ngomong aja loe bisanya!” sahut iel sambil ngibasin jaket basahnya ke arah sion sehingga air tetesan pada jaket itu terpercik ke arah sion.

“wadoh!! IELL!! Basah tau!” omel sion. Iel dan ify hanya tertawa melihat sion ngomel-ngomel gitu. Tapi ternyata tidak hanya sion yang terkena percikan air dari kibasan jaket iel itu. Di belakang sion ternyata sudah ada via yang tampak mengusap wajahnya.

“eh vi, baru datang juga?” sapa ify dengan senyum manisnya.

“eh, kena juga ya vi? Sori vi, hehehe…” kata iel. Via hanya diam. Dia menatap datar iel sesaat, lalu mengalihkan pandangannya ke ify yang berdiri tepat disamping iel. Mereka hanya saling pandang sesaat, kemudian via tampak segera berpaling dan segera melangkahkan kakinya menelusuri koridor sekolah menuju kelas mereka.

“eh via…” panggil ify yang kaget via berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun. Ify pun segera menyusul via yang sudah berjalan cepat lebih dulu.

“via… kenapa sih loe? Buru-buru amat?” tegur ify setelah mampu mensejajarkan langkahnya dengan via. Via tak menjawab.

“vi…” tegur ify lagi. Via tetap saja tak mempedulikan panggilan itu. Ify menarik pergelangan tangan via yang sontak langsung menghentikan langkah via.

“via… kenapa sih diem aja? Loe masih marah sama gue ya?” Tanya ify dengan raut sedihnya.

Via menatap mata ify yang menatapnya dengan begitu sendu itu. Via menghela nafasnya sesaat. Dia sendiri sebenarnya tak tau kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu tadi. Tapi… mungkin rasa cemburu pada kedekatan sahabatnya itu dengan iel masih tersimpan kuat. Apalagi dia sempat melihat kedekatan iel dan ify saat turun dari mobil tadi. Jujur, hatinya bergejolak kuat saat itu. Oleh karena itulah ia segera meninggalkan mereka tadi sebelum rasa benci itu kembali berusaha merebut kunci hatinya. Sesaat via terdiam sembari kembali menanamkan dalam-dalam pada hatinya kalau orang didepannya itu sahabatnya, orang yang telah berjanji padanya tak akan pernah menghianati dirinya. ‘ify sahabat loe vi, bukan saingan yang bakal ngehalangin loe!’ benak via. Sekuat tenaga via mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran buruk dari dirinya. Sesaat via kembali menghela nafasnya. Dan tak lama kemudian, senyum tipis segera terlukis di bibir via.

“gak kok fy… gue gak marah sama siapa-siapa. Gue cuma lagi gak mood ngomong doang kok, lagi sariawan gue, hehe…” Sahut via dengan kata-kata yang dibuat seriang mungkin. Ify sesaat terpaku menatap via. Entah kenapa dari nada bicara via, ia merasakan kalau masih ada sesuatu yang menghalangi hubungan persahabatan mereka sekarang.

“beneran deh fy gue gak papa. Gue gak marah lagi kok sama loe….” Ucap via sekali lagi untuk lebih meyakinkan ify sembari tangannya mengusap lembut pipi ify. Melihat sikap via yang kembali memperlakukan dirinya begitu hangat itu, Ify pun balas tersenyum tulus.

“udah yok, kita ke kelas” kata via lagi sambil menarik pergelangan tangan ify untuk segera mengikuti langkahnya menuju kelas.

--------------------------misst3ri-------------------------

Tett… tettt….

Tak terasa, waktu tanda istirahat telah berbunyi. Seketika itu juga, koridor-koridor disepanjang sekolah itu telah dipenuhi anak-anak yang ingin melepas sedikit kejenuhan dan kepenatan sepanjang pelajaran pagi itu. Terlihat jelas wajah-wajah ceria yang tergambar dari anak-anak berseragam putih biru, yang telah bersebaran di seluruh sekolah itu. Tapi, di bangku depan kantin sekolah itu, seorang anak tampak duduk termangun melamun sendiri. Tampaknya ada sesuatu hal yang tengah dipikirkan anak itu. Tumit kakinya yang terus menerus diketukannya ke lantai semakin memperjelas keadaannya yang tak tenang itu. Tiba-tiba seorang anak lainnya datang mengagetkannya dan membuyarkan segala lamunannya.

“woy! Kenapa loe syad? Manyun aja loe…” Anak yang sedari tadi melamun tadi adalah Irsyad. Irsyad pun mendongak dan mendapati cakka telah berdiri di depannya. Irsyad kembali menunduk lesu.

“agni gak masuk sekolah cakk…” sahut irsyad lemah.

“cieee… yang lagi kangen” goda Cakka sambil colek dagu irsyad. Irsyad sontak menepis tangan cakka.

“bukan gitu… soalnya udah dari kemaren gue coba hubungi HP dia, gak aktif-aktif terus” kata irsyad serius. Melihat tampang irsyad yang sangat serius itu, Cakka pun berhenti menggoda irsyad. Ia pun lalu duduk disamping irsyad.

“loe udah tanyain temen-temen dia? Siapa tau lagi kemana gitu…” kata cakka sambil asyik mengunyah roti coklat kesukaannya.

“udah. Tadi barusan gue ketemu gita, temennya si agni. Dia juga gak tau kemana agni… gak ada surat keterangan apa-apa juga” sahut irsyad. Cakka pun hanya bisa manggut-manggut mendengar penuturan irsyad itu.

“jangan-jangan agni lagi sakit di rumah dia, tapi gak ada yang nganterin surat gitu…” ucap cakka.

“eh siapa yang di rumah sakit? Dirumah sakit mana? Kita jenguk bareng yuk, gue juga mau ke rumah sakit nganterin bunda” cerocos debo yang tiba-tiba datang menghampiri cakka dan irsyad. Dibelakangnya juga ada obiet mengikutinya.

“yee… asal nyahut aja loe de! Bukan di rumah sakit, tapi lagi sakit di rumah” sahut cakka. Debo disahutin gitu cuma nyengir sambil menggaruk-garuk belakang telingannya.

“emang siapa yang lagi sakit?” Tanya obiet sambil duduk disamping cakka.

“itu agni kan gak masuk, gak ada kabar juga. Tau lah kalian, siapa yang langsung kena sindrom pengkhawatiran berlebihan terhadap yayang tersayang, hehehe” sahut cakka sambil melirik ke arah irsyad. Irsyad yang diedek begitu cuma mencibir. Dia tampaknya tak bersemangat membalas ledekan cakka itu. Debo dan Obiet cuma ikut tertawa kecil mendengarnya.

“eh, kenapa gak loe jengukin aja ke rumahnya syad?” celetuk obiet ngasih saran. Mendengar itu, sontak irsyad langsung mendongak dan memandang obiet. Sontak ia langsung berteriak.

“good idea!!! Cak, loe temenin gue yak pulang sekolah ini! Plis plas pliis…” kata irsyad penuh semangat tapi juga penuh harap pada cakka agar mau nemenin dia.

“hahaha… biasa aja dong syad. Lebay loe! Iye iye… gue temenin!” sahut cakka. Senyum Irsyad pun segera merekah lebar.

“oiya biet…” cakka mengalihkan pandangannya ke obiet, “hmm…, loe bisa gak ke rumah gue dulu sepulang sekolah ini? Ini tentang lomba buat dava itu…. bokap gue punya ide sesuatu tentang konsep kita, terutama tentang bagian music etniknya itu. Makanya gue mau ngajak loe buat diskusiin sama bokap gue. Kebetulan bokap siang ini punya waktu kosong. Jarang-jarang nih bokap gue ada waktu gini, biasanya kan sibuk terus sampe malam… Jadi gimana biet?”

“hmm… gimana ya? Gue mau ke rumah sakit juga soalnya…” sahut obiet. Tangannya tanpa sadar menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Bingung.

“bunda di operasi hari ini?” Tanya irsyad

“iya, makanya gue abis pulang sekolah, kita rencananya mau langsung ke rumah sakit nemenin bunda” kali ini debo yang menyahuti.

“yahh…. Gak bisa berarti ya?” sahut cakka dengan nada kecewa. Obiet menatap cakka dengan pandangan sedikit tak enak.

“hmm…. Kalau sebentar doang, mungkin gue masih bisa. Tapi, sebelum jam 4 gue udah balik. Bunda kan rencananya masuk ruang operasi jam 5. Gimana?” kata obiet.

“beneran nih biet?” kata cakka.

“iya… biar loe debo duluan aja sama anak-anak yang lain... Ntar gue bisa kok nyusul belakangan”

“wah, makasih banget ya biet!” sahut cakka senang. Obiet pun hanya mengangguk sembari tersenyum.

“eh, tapi jangan lupa! Temenin gue dulu ke rumahnya si agni” celetuk irsyad.

“iyeee!! Tapi awas loe kelamaan pacaran disana, gue kawinin loe, hahaha….” Sahut cakka yang disambut gelak tawa yang lain.

--------------------------misst3ri-------------------------

Rasa kehilangan karena menghilangnya agni yang sempat mengkhawatirkan irsyad tadi, nyatanya tak hanya dialami oleh irsyad. Di dalam kelas 9A, 3 orang anak duduk bergerombol di salah satu meja di deretan depan pada kelas itu rupanya juga merasakan satu rasa kehilangan juga. Mereka adalah via, ify dan tian.

“sila kemana ya? Kok dia gak masuk hari ini?” kata tian sambil memandang bangku sila yang kosong tak berpenghuni itu.

“gak tau… Gue agak khawatir deh… Sabtu kemaren sih sempet telpon gue, tapi gue reject gara-gara….. itu fy, loe tau lah gue lagi sama siapa” kata via.

“apaan sih? Vi, loe belom cerita gimana bisa baekan sama ify. Cerita dong….” Kata tian yang merasa cerita akurnya kedua sahabatnya itu telah terlewatkan olehnya.

“gak ah, malu gue, hehehe…. Masalah cewe ini. Loe diem aja fy…. hehehe” Sahut via sambil memeletkan lidahnya pada tian yang langsung manyun gara-gara gak dapet jawaban apa-apa dari via atau ify.

“ah, gak asyik ah kalian! Gue kan penasaran….” Omel tian.

“haha… udahlah yan, ntar kita pasti cerita kok. Sekarang kita mikirin sila aja dulu nih… Gmn? Gue dari kemaren udah coba hubungi dia, tapi nomernya gak pernah aktif. Gue coba telpon ke rumah juga, gak ada yang ngangkat” kata via.

“gimana ya?” mereka bertiga pun terdiam, bingung memikirkan keberadaan sila.

Yap. Ternyata hari itu, sila juga tak menunjukkan batang hidungnya di sekolah itu. Tanda-tanda keberadaannya benar-benar tak mampu teman-temannya deteksi. Dan sama seperti agni, sila juga tampaknya telah menghilang bak ditelan bumi secara misterius.

“hmmm, kita liat besok-besok deh… Siapa tau dia lagi pergi kemana gitu. Kalian inget gak pas dia juga gak masuk sekolah beberapa hari pas kelas 8 dulu? Kita sempet ilang kontak, eh ternyata dia lagi liburan ke luar negeri. Haha….” Kata tian mengingat kejadian 1 tahun silam dimana sila juga pernah menghilang seperti ini.

“bisa juga sih…. Ya udah kita tunggu aja kabar dari dia…” Sahut via.

“eh, tapi ntar sila mau gak ya maafin gue?” celetuk ify tiba-tiba. Ify teringat kalau masalahnya dengan sila masih belum tuntas. Via dan tian menatap ify yang tengah menunduk itu. Ya, mereka tersadar, bahwa persahabatan mereka berempat memang tengah bermasalah. Terutama hubungan sila dan ify yang belum terselesaikan.

“tenang aja fy… gue bantuin loe deh. Ntar kalo sila udah ada, gue omongin baik-baik sama dia…” sahut via sembari merangkul pundak ify hangat, menenangkan. Mendengar ucapan via itu, Ify pun tersenyum tipis sembari menaruh sebuah harapan di hatinya, semoga via benar-benar mampu membuat dirinya dan sila akur kembali.

--------------------------misst3ri-------------------------

Gerbang sekolah itu tampak ramai dipadati siswa-siswi yang menunggu jemputan sekolah. Diantaranya ada via dan ify yang juga tengah berdiri di depan gerbang sekolah itu.

“via, ify, belum di jemput?” via dan ify menoleh. Ternyata itu riko yang menegur mereka. Di belakangnya juga sudah ada sion yang seperti biasa, nebeng riko.

“belum ko” sahut ify. Sementara Via hanya membalasnya dengan senyum simpulnya.

“ya udah, kalau gitu kita pulang duluan yaa…” kata riko lagi sambil melambaikan tangannya dan melemparkan senyumnya pada via dan ify. Hanya ify yang membalas lambaian itu. Sementara via, lagi-lagi ia hanya tersenyum simpul. Entahlah apa yang via rasakan. Sejak kejadian di café dulu itu, entah kenapa ada sedikit rasa malu dan gugup apabila via bertemu dengan riko. Mungkin itu dikarenakan kalau riko tengah menyimpan rahasia hatinya. Tiba-tiba pipinya sedikit merasa panas kalau kembali mengigat riko sebagai sosok severus yang begitu mengetahui isi hatinya itu. Tapi, lamunan via terpecah ketika seseorang yang sering membuat hatinya juga bergetar itu tiba-tiba menerobos diantara dirinya dan ify.

“hei!!!” teriak orang itu sambil menepuk bahu via dan ify.

“ah loe yel, ngagetin orang aja deh…” omel ify. Orang yang ternyata iel itu, hanya nyengir jail. Kemudian setelah ia menepuk bahu ify dan via, dengan santainya ia menggeser keduanya dan berdiri di tengah-tengah diantara via dan ify. Senyum jailnya terus bertengger di sudut bibirnya sambil terus dengan santainya memegang pundak via dan ify. Ify hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah iel yang selenge’an itu.

Berbeda 180 derajat dengan ify yang tampak santai dengan kedatangan iel itu, via terpaku diam tak berkutik mendapat perlakuan dari iel seperti itu. Hatinya berdegup begitu cepat saat itu. Ingin rasanya ia berteriak pada lelaki yang dengan cueknya berdiri di sampingnya itu bahwa dirinya bisa mati saat itu juga gara-gara jantungan kalau tangan kokohnya itu masih saja bertengger di bahunya. Tapi tampaknya doanya terkabul ketika sesaat kemudian ify membuka suaranya.

“eh ni tangan gak bisa ya gak nangkring di pundak orang gini? Beratin kita berdua aja loe… ya gak vi?” kata ify yang seolah bisa membaca perubahan muka via saat kehadiran iel di tengah mereka itu.

“eh, sori.. sori…. Hehehe…” kata Iel sambil segera mengangkat kedua tangannya ke atas layaknya seorang penjahat yang telah menyerah kepada polisi. Via langsung menunduk malu saat ify diam-diam melemparkan sebuah senyuman yang seolah-olah menggoda dirinya yang mungkin kini sudah berwajah seperti kepiting rebus. Setelah itu tak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka bertiga, sampai akhirnya iel melakukan gerakan tiba-tiba.

“eh fy. Pak asdi dah jemput tuh, yuk!” kata iel sambil segera meraih pergelangan tangan ify. Via seketika mendongak saat iel menjauh dari sisinya. Ada sedikit rasa tak rela saat ia melihat jemari tangan iel menggenggam erat pergelangan tangan ify. Dan tampaknya perubahan ekspresi via itu tertangkap mata oleh ify. Ify yang sempat menangkap sedikit perubahan di wajah via itu pun sontak menahan tarikan iel dan melepaskan genggaman tangan iel itu. Iel sontak berbalik menoleh ke arah ify.

“kenapa fy?”

“eh, ngg… gue hari ini gak ikut loe yel. Itu…. papa udah janji mau jemput gue tadi” sahut ify cepat. Sinar terang mata iel sedikit meredup.

“kok gak bereng gue aja sih? Biasanya juga bareng. Kan lumayan fy hemat BBM, ngurangin polusi sekaligus gak repotin papa loe. Kita sejurusan gini juga” cerocos iel.

“gak papa… kebetulan papa mau ngajak ke tempat lain hari ini. Loe pulang duluan aja yel…” sahut ify beralasan. Iel menggerutkan keningnya sesaat, tapi tak lama kemudian ia mengangguk mengerti.

“hmm… gitu toh? Ya udah gue balik duluan yaa… dah ify… dah via…” pamit iel. Dan sosok itu pun segera menghilang masuk kedalam mobil yang menjemputnya itu.

“eh vi, kok masih diem disini? Mobil jemputan loe udah datang juga tuh…” tegur ify.

Via langsung tersadar dari lamunannya. Dia memang agak sedikit terperangah dengan kejadian-kejadian yang terjadi barusan yang seolah berjalan sesuai keinginan hatinya.

“eh iya fy, gue duluan yaa….” Kata via berpamitan pada ify. Ia pun sesaat melambai sembari tersenyum pada ify. Dan ia pun segera masuk kedalam mobilnya.

--------------------------misst3ri-------------------------

Setelah kepergian mobil via, ify mengedarkan pandangannya. Sekolah sudah lumayan sepi sekarang karena anak rata-rata sudah pulang dan dijemput. Ify menghembuskan nafasnya sesaat. Bagaimana dia pulang sekarang? Pada kenyataannya, papanya tak berjanji menjemputnya siang itu. Bahkan papanya tak akan pernah bisa menjemputnya. Yah, dia baru ingat, papanya sedang di luar kota sekarang. Jadi tak mungkin ia mengandalkan papanya.

Ify kemudian merogoh dompetnya didalam tas dan mengintip isinya. Nafasnya sedikit tertahan saat melihat hanya ada beberapa lembar uang bergambar patimura yang tersisa didompetnya. Itu takkan cukup dipakai untuk naik ojek apalagi naik taksi. Ify kini jadi merasa ingin mengutuk dirinya sendiri karena kebodohannya telah mengambil keputusannya tanpa dipikirkan masak-masak terlebih dulu efeknya kedepannya nanti. ‘terpaksa pulang jalan kaki nih gue... Tapi, gak papa deh…’ benak ify mencoba membesarkan hatinya. Kalau dia pikir-pikir, walau harus ngorbanin dirinya, ify merasa pulang jalan kaki seperti sekarang sepertinya lebih baik ketimbang harus melihat wajah masam sahabatnya itu. Karena ingin menjaga perasaan via lah ify terpaksa menolak ajakan iel tadi. Perasaan tak enak itulah yang ia rasakan sejak pagi tadi, dimana ia dan iel datang bersama, dan via menyaksikan itu semua.

Ify pun mulai melangkahkan kakinya. Syukurlah metahari tlah bersinar cerah, tak hujan seperti pagi tadi. Kalau tidak, ia takkan bisa pulang. Jadi matahari yang bersinar cukup menyengat itu tampaknya jauh lebih baik ketimbang dirinya harus pulang kedinginan sambil hujan-hujanan. Ify lalu mengeluarkan selembar buku tulisnya untuk sekedar melindungi kepalanya dari terik matahari. Syukurlah jarak antara sekolahnya dan perkomplekan rumahnya hanya berjarak kira-kira sekitar 2 km. Jadi masih bisalah kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi baru beberapa puluh meter meninggalkan gerbang sekolahnya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.

“ify!” ify sontak menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata ada cakka, obiet dan irsyad disana.

“eh, cakk… baru pulang loe?”

“iya, tadi ngurusin ekskul basket bentar. Loe ngapain jalan sendirian gini? Gak pulang loe?”

“ya ini mau pulang”

“kok jalan kaki? Gak ada yang jemput? Kenapa gak bareng iel aja tadi? Biasanya juga pulang bareng loe berdua…”

“yaa… pengen aja” sahut ify seadanya, “Eh, obiet sama irsyad kok baru pulang? ngurus basket juga?” lanjut ify lagi mengalihkan pembicaraan mereka.

“hah? Gak lah fy, sejak kapan gue sama obiet demen ngurusin basket, hehe… kita ada janji sama cakka, biasa, masalah cowo, hehe….” Sahut irsyad.

“halahh… ngomong mu syad, sok banget… masalah cowo, bo’ong fy, kita mau nemenin irsyad nemuin pujaan hatinya, hahaha…” ledek cakka.

“eh, ember banget loe cakk!” irsyad langsung mencak-mencak.

“pujaan hati? Agni ya?” celetuk ify.

“betul fy! Nah lho syad, ify aja udah tau… Wkwkwk…”

“sialan loe cakk! Kok loe tau sih fy?” Tanya irsyad ke ify.

“hahaha… ya tau lah, secara loe demen nempelin agni kan akhir-akhir ini. Anak-anal satu sekolahan juga udah bisa nebak kali, hehe….” Sahut ify enteng. Disahutin seperti itu, wajah irsyad langsung bersemu merah. Malu. Obiet, cakka dan ify pun langsung cekikikan melihat itu.

“oiya, hmm…. Fy, ini loe lagi sibuk gak?” Tanya cakka kemudian sambil mengalihkan perhatiannya ke ify.

“gak. Kenapa emangnya?”

“gimana kalo loe ikut ke rumah gue juga bentar… kebetulan habis nganterin irsyad ke rumah agni, ini gue sama obiet mau diskusiin tentang lomba sama bokap gue. Kebetulan bokap gue masih ada di rumah siang ini. Loe ikut juga ya…”

“tapi gue kan belom izin. Besok-besok gak bisa ya? Atau ntar sore deh yaa…”

“yah fy, kalo besok-besok, gue gak bisa mastiin bokap ada waktu apa gak. Kalo ntar sore, bokap gue udah berangkat kerja lagi. Ini dua jam-an lagi juga udah pergi ngajar lagi nih… gimana? Obiet juga mau nemenin bundanya di rumah sakit soalnya sore ini…”

“loe telpon minta izin ke rumah aja dulu. Ntar gue anterin pulang deh…” bujuk cakka lagi. ify tampak berpikir sejenak. Lalu ia mengeluarkan HPnya dan tampak menghubungi seseorang. Tak lama kemudian, pembicaraan itu selesai. Ify pun kembali mendekat ke arah cakka dkk yang tlah menunggunya sedari tadi.

“oke, nyokap gue ngebolehin. Gue ke rumah loe sekarang. Tapi jangan kesorean ya…” kata ify kepada cakka.

“sip… loe sama irsyad aja deh fy, sepeda dia ada boncengannya soalnya. Biar obiet sama gue…”

Ify pun mengangguk dan segera naik ke boncengan irsyad. Dan mereka pun segera melaju menyusuri jalan itu. Tapi, tanpa mereka sadari, sepasang mata mengintai kepergian ify dkk tadi dari balik kaca mobilnya.

“pak asdi, balik sekarang yok…”

“iya den….”

Mobil itu pun mulai berjalan. Orang yang mengintai dari balik jendela mobil itu adalah iel. Iel yang telah pulang tadi, saat di setengah perjalanannya, dia tiba-tiba memutuskan kembali ke sekolah ketika ia teringat kalau papa ify sedang pergi ke luar kota. Jadi tak mungkin ify di jemput papanya. Dan iel yang merasa ada yang tak beres pun segera kembali ke sekolah. Dan tebakan dia benar, ify tak pulang bersama papanya. Ify telah membohongi dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang, iel hanya duduk termangu sembari menerawang ke arah luar jendelanya. Alunan lagu mellow dari band vierra dari radio mobilnya itu semakin meringankan angannya, menerbangkan pikirannya jauh ke awang-awang yang begitu luas dan hampa. Seperti hatinya yang kini entah kenapa terasa begitu kosong. Hampa.

Ku tau, kamu bosan…

Ku tau kamu jenuh…

Ku tau kamuuu… tak tahan lagi….

Iel berkali-kali menghembuskan nafas beratnya seakan-akan ingin membuang segala gundah yang kini mulai berterbaran dihatinya. ‘ngapain loe bohong kayak tadi fy? Kenapa fy?’ benak iel berkali-kali dalam lamunannya. Dan entah kenapa, saat itu ia merasa ada sesuatu yang mulai mencoba menerobos menghilang, meninggalkan hatinya.

Aku takut… Kamu pergi…

Kamu hilang… Kamu sakit….

Aku ingin… kau disini…

Disampingku… selamanya….

--------------------------misst3ri-------------------------

“fy.. biet… kalian duduk-duduk aja dulu disini yaa… gue ganti baju sama manggilin bokap gue dulu” kata cakka.

Ify dan obiet saat itu telah berada di rumah cakka. Irsyad setelah mengantar ify ke rumah cakka memutuskan langsung pulang karena sudah di telpon untuk segera pulang kerumah. Dan kini tertinggallah ify dan obiet di ruangan itu. Di ruang tamunya lebih tepatnya. Ruang yang cukup nyaman. Interior yang rata-rata bernuansa putih-putih itu sangat serasi dan cocok dengan rumah cakka yang bergaya minimalis. Di salah satu sisi ruangan itu menghadap taman kecil yang memiliki sebuah air terjun mini buatan. Ini semakin membuat suasana ruangan itu begitu tentram nan menenangkan.

Ify dan obiet duduk di salah satu sofa diruangan itu. Sofa yang empuk begitu memanjakan punggung mereka yang sudah cukup letih karena perjalanan mereka ke rumah agni tadi. Tak ada pembicaraan yang tersaji diantara mereka berdua. Sepertinya mereka berdua sama-sama asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Seperti ify yang tampaknya sudah jauh melayangkan pikirannya. Sembari memandang air terjun buatan yang begitu menenangkan di taman samping ruang tamu rumah cakka itulah, sesaat ify kembali melayangkan memorinya ke kejadian-kejadian sebelumnya. Kejadian dimana sebelumnya ia ikut ke rumah agni dan menjumpai sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya sekarang.

---- flashback----

“ini rumah agni” tunjuk irsyad saat mereka sampai di sebuah rumah besar bercat hijau muda itu.

“Inikan rumahnya sila….” Celetuk ify dengan nada tak percaya.

“hah? Kok rumah sila? Yang bener fy?” irsyad langsung berbalik menghadap ify yang duduk di boncengan belakangnya. Ify mengangguk mantab saat irsyad memandangnya minta kepastian.

“beneran ini rumahnya agni syad? Jangan becanda loe… gue dulu nganter agni bukan kesini deh” kata cakka juga.

“beneran, sumpah deh! Minggu lalu gue nganterin dia pulang ke sini. Awalnya sih cuma nganter sampe depan komplek karena dia maksa diturunin sampe sana aja. Tapi gue iseng buntutin dia, dan dia masuknya ke rumah ini. Jadi ini rumah dia dong…” bela irsyad. Mereka jadi semakin bingung. Jadi, rumah siapa ini sebenarnya?

“yaudah, gimana kalo sekarang kita coba masuk ke dalam aja? Mungkin bisa lebih jelas….” Kata obiet memberi solusi. Yang lain pun mengangguk dan mulai turun dari sepeda mereka dan mendekati pagar kokoh yang terkunci itu.

Teng tong… teng tong…

Berkali-kali bel rumah itu mereka bunyikan, tapi tak jua ada sahutan dari dalam.

“gak ada yang nyahutin nih. Kosong kayaknya rumahnya. Jadi gimana sekarang?” Tanya cakka. Karena tak ada lagi yang bisa mereka perbuat, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dengan sebuah misteri yang belum berhasil mereka ungkap.

-----flashback kelar-----

Kejadian barusan itu, membuat kepalanya sedikit berdenyut. Ify menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa itu. Keadaan yang ada dihadapannya itu benar-benar membuatnya tak bisa berpikir. Dia merasa begitu banyak kejanggalan dan juga banyak hal yang belum ia ketahui. Itu yang membuatnya semakin bingung dan tak tau harus berbuat apa. Ify teringat ucapan obiet sesaat setelah mereka meninggalkan rumah sila alias agni itu.

“apa agni dan sila emang tinggal satu rumah ya? Dan sekarang mereka lagi pergi ke suatu tempat bersama, makanya mereka dua-duanya sama-sama menghilang kan?”

‘apa ada sangkut pautnya menghilangnya sila dengan agni? Ya Allah… ada misteri apa lagi dibalik ini semua?’ pikiran ini terus menggelayuti pikiran ify. Sampai akhirnya lamunan ify itu terbuyarkan ketika cakka memanggil mereka berdua untuk mengikutinya ke ruang kerja ayahnya.

“hei ify, obiet… ikut gue sini, bokap mau nunjukin sesuatu ke kita di ruang kerjanya….” Kata cakka memanggil mereka berdua. Lalu obiet dan ify pun mengikuti cakka ke ruang kerja ayahnya untuk kemudian memulai diskusi mereka tentang strategi lomba yang akan diikuti mereka itu.

--------------------------misst3ri-------------------------

Tin.. tin…

Bremmm…

Di tengah hiruk pikuk kepadatan jalan kota yang semerawut itu, seorang anak berdiri berhimpitan di sebuah bus kota yang turut memenuhi jalanan kota itu. Cuaca diluar begitu panas. Cuaca yang sungguh berbeda 180% dari cuaca pagi tadi yang hujan lebat, yang semakin menggambarkan bahwa cuaca bumi sungguh tak bisa diprediksi lagi perubahannya yang begitu cepat dan drastis seperti hari itu.

Tapi, walaupun suasana gerah, penuh asap rokok di dalam bis itu, dan keringat membanjiri tubuhnya karena cuaca panas terik di sore hari itu yang begitu membara karena matahari bersinar begitu perkasanya, tapi toh, tampaknya anak itu tak bisa menghilangkan senyumnya yang terus tergurat manis di sudut bibirnya.

Hari itu hari yang cukup menyenangkan baginya. Pertama pertemuannya dengan cakka dan ify barusan sangat menyenangkan. Diskusi mereka bersama ayahnya cakka benar-benar mampu menginspirasi merka semua dan membuka ide-ide cemerlang lainnya. Dan kini mereka punya satu rencana yang cukup bagus untuk persiapan mereka mengikuti lomba antar sanggar tersebut.

Dan yang kedua tentu saja yang akan di tujunya sekarang. Operasi bundanya. Yap, bundanya akhirnya akan di operasi hati ini. Berkat bantuan papa angkatnya Angel, bundanya bisa di operasi dari tumor yang bersarang di perutnya itu sekarang. Bahkan tak tanggung-tanggung, pak darma memasukkan ke sebuah rumah sakit yang tebilang cukup bagus di kota itu agar bunda bisa mendapat perawatan yang maksimal. Dan obiet sangat berharap, bundanya bisa sembuh 100% seperti sedia kala setelah menjalani operasi ini.

“kiri pak!” teriaknya lantang sembari mengetuk-ngetuk langit-langit atap bis kota tersebut. Tak terasa bis yang ditumpanginya itu telah sampai di tempat yang ia tuju. Setelah menerobos keluar dari bis yang penuh sesak itu, dalam satu lompatan kakinya telah mencapai tanah, sementara dibelakangnya, bis kota yang ditumpanginya tadi, telah berlalu cepat dan meninggalkan asap tebal.

Obiet pun segera melangkah memasuki halaman rumah sakit yang tampak begitu banyak orang yang hilir mudik disekitar tempat itu. Dia semakin mempercepat langkahnya memasuki gedung putih didepannya itu. Waktu operasi bundanya sebentar lagi, dan dia tak mau melepaskan sedikit saja waktu berharga ini untuk tak bersama bunda tersayangnya sebelum bundanya menjalani operasi penting itu. Tetapi sesaat sebelum memasuki lobi utama, matanya mengekor sesosok yang lumayan dikenalnya.

“itu kan…..”

----------------------- BERSAMBUNG (3am) -------------------------

0 komentar

FIKSI - PROMISE Part 43: Akal Severus

Lanjutan dari PROMISE Part 42: Where's Severus?. Baca juga Promise Part 1: Awal, untuk mengetahui asal mula cerita fiksi ini diawali dan mulai terbentuk.

NB: Cerita ini hanyalah cerita fiksi belaka (fanfict). Bila ada kesamaan tokoh, kejadian, tempat dsb, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Segala hal yg tertulis di cerita ini hanyalah hayalan dan imajinasi penulis belaka, bukan suatu hal yg terjadi sebenarnya. So, jangan pernah menganggap cerita ini serius, apalagi terhadap anak2 IC yg aku pakai namanya di dalam cerita fiksi ini. Thx dan selamat membaca... :)

PROMISE – Part 43: Akal Severus

--------------------misst3ri--------------------

Aktivitas di kafe itu terus terlihat begitu padat walau hari telah mulai menuju penghujung senja. Hingar-bingar suara obrolan dari para pengunjung terdengar dari tiap sudut café itu, seakan tak mau menyisakan satu sudut pun tanpa kebisingan dan keramaian. Tapi, keadaan itu tampaknya tak mampu mengusik keheningan dua sosok yang kini tengah duduk berhadapan di salah satu meja kafe itu. Sivia dan sang pangeran misteriusnya, severus.

Sivia duduk membatu, tak bergerak, dan tak jua berekspresi apa-apa. Ia seolah-olah tersihir dengan sosok yang ada di hadapannya itu. Dirinya berada diantara keterpanaan, terperangah kaget, syok, gugup, tapi juga perasaan lega karena telah menjumpai sang pangeran misterius dunia mayanya itu. Tak ada sepatah kata pun yang tlah terlontar dari bibirnya sejak matanya menjumpai sosok yang misterius tapi sangat ia nantikan itu. Begitu pula dengan sosok di depannya itu. Sejak menegur Via, kemudian mengajak Via yang telah terperangah membisu itu ke salah satu meja di café, dia juga hanya terus diam, seolah-olah melengkapi kesunyian diantara mereka. Hanya matanya yang terus menatap Via, mengawasi kegugupan dan tingkah serba salah Via yang terus mengundang senyumnya itu.

Tapi kesunyian diantara mereka akhirnya terpecahkan oleh sebuah dering keras dari HP Via yang tergeletak di atas meja café. Via yang sontak tersadar, segera meraih HPnya dengan sedikit gelabakan dan sontak langsung memutuskan panggilan dan mematikan HPnya. Melihat kelakuan Via itu, kening orang di hadapananya itu sedikit mengerut.

“kok dimatiin? Kenapa gak diangkat?”

Via hanya melirik orang dihadapannya itu sesaat, lalu menghela nafas. Dengan kondisi yang tengah dihadapinya itu, kegugupan, ketegangan, dan rasa kaget yang masih mendera hatinya, jelas saja membuatnya tak mampu lagi untuk tenang dan berpikir jernih. Bahkan panggilan yang baru saja masuk tadi, yang entah dari siapa, langsung ia matikan karena ia tak mampu mengendalikan ketegangan sekaligus kepanikan dalam dirinya.

Via sekali lagi menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, berharap itu mampu membuat dirinya merasa lebih tenang. Setelah dirasa jauh lebih tenang dan lebih siap menghadapi sosok didepannya itu, Via pun kemudian mengangkat wajahnya dan memandang lurus sosok dihadapannya.

“jadi…… loe severus?” ucap Via pelan.

Cowo dihadapannya itu hanya tersenyum, lalu mengangguk pelan. Via menggeleng pelan. Rasa ketidakpercayaan masih mendera kuat di dirinya.

“kok bisa? Loe kan gak pake baju harry potter! Loe… loe…. Loe mau ngerjain gue ya?!” kata Via lebih tegas sekarang. Tapi, cowo dihadapannya itu hanya tertawa kecil.

“kali ini gue bener-bener gak ngerjain loe deh vi… lagian gue kan udah pake baju berbau harry potter”

“mana buktinya? Di baju loe gak ada logo harry potter atau apapun!” omel Via, “loe bohongin gue kan?! Di baju loe tuh cuma ada gambar singa……….” Tiba-tiba Via menghentikan kata-katanya, dan matanya membulat ketika pandangannya membukakan pikirannya. Tak lama, Via langsung membuang pandangannya, lalu mendesah pelan sambil merutuk kebodohannya dalam hatinya. Lagi-lagi cowo dihadapannya itu tertawa kecil melihat tingkah Via yang tampak telah menyadari kesalahannya.

“kenapa loe? Baru sadar? Ini emang gambar singa, tapi loe lupa, ini logo apa? Gryffindor, asramanya harry potter di Hogwarts… Gue gak bohong kan?” ucap cowo itu dengan nada penuh kemenangan. Yak, cowo dihadapan Via itu adalah sosok cowo berbaju merah dengan gambar singa di dadanya, yang sebenarnya telah bersama Via dari berpuluh-puluh menit yang lalu. Dia Riko. Dan kenyataan inilah yang membuat Via akhirnya tak berkutik lagi. Dia tlah terjebak dengan orang yang tak pernah ia sangka-sangka dan tak ia harapkan sebenarnya. Setelah itu keheningan kembali mengisi detak waktu yang terus berjalan itu.

“baru tau gue, ternyata loe aslinya gitu ya…. Munafik banget loe di sekolah….” Ucap Riko memecah kebisuan diantara mereka. Lagi-lagi Via hanya mampu mendesah pelan tanpa bisa melawan. Posisi dia benar-benar telah skak mat sekarang. Pikirannya benar-benar sudah buntu untuk memikirkan bagaimana menyelamatkan dirinya dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin bakal dilemparkan Riko kepadanya.

"jadi loe selama ini naksir Iel?" sudut Riko lagi. Via tetap bertahan dengan diamnya.

"gue bilangin Iel dan yang lain ya.."

"eh jangan!" jawab Via reflek. Kepanikan jelas terpancar dari wajahnya. Riko sontak mengangkat sebelah alisnya, lalu tertawa meremehkan.

"kenapa loe? Malu? Takut? Takut dapet perlakuan kayak perlakuan kalian ke Ify?" kata Riko penuh kemenangan karena kartu As orang di depannya itu sudah ada digenggamannya. Ditekan Riko seperti itu, Via hanya mampu menunduk sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas bidang datar meja café itu. Kegelisahan dan ketakutan jelas tergambar dari raut wajahnya saat itu.

“loe yang sebenarnya pengecut vi, bukan Ify, sahabat loe yang udah dengan gampangnya kalian buang itu” ucap Riko lagi penuh penekanan. Via kini mengangkat wajahnya dan memandang Riko lemah.

“Riko… kalo loe bener-bener severus, loe pasti ngerti perasaan gue dong…. Gue udah cerita segalanya sama loe kan? Jadi, please, ngertiin posisi gue…” ucap Via penuh permohonan kali ini. Dirinya yang sudah tak mampu lagi memberikan perlawanan, memilih untuk pasrah kini.

Sementara itu, Riko tampak menghela nafasnya sesaat, lalu menyandarkan punggungnya kesandaran kursi belakang. Sesaat ia terdiam, kembali memutar memori obrolan-obrolan mereka selama di dunia maya dulu. Kenangan candaan-candaan hangat mereka, untaian cerita manis Via tentang perasaannya, curhatan Via yang penuh emosi dan kegalauan, kata-kata penghibur darinya yang sebenarnya selalu tulus dari lubuk hatinya yang terdalam untuk membantu princess dunia mayanya itu.

Riko sesaat menatap lurus Via yang duduk dengan gelisah itu. Semua terasa bagaikan sebuah mimpi sekarang. Tapi, itulah kenyataannya. Gadis dihadapannya itulah sosok princess di dunia mayanya itu sebenarnya. Sosok yang pernah ia selami isi hati dan perasaannya lewat obrolan mereka di dunia maya. Dan karena hal itu, rasanya tak mungkin dirinya sampai tak memahami apa yang sebenarnya dirasakan gadis itu.

"hmm... oke, gue bisa ngerti perasaan loe. Lagian gue dulu pernah janji buat selalu ada dan bantu loe kan?” ucap Riko akhirnya. Seulas senyum langsung mengembang dari bibir Via, memancarkan kelegaan dari hatinya. Riko balas tersenyum tipis.

“gue akan tepatin kata-kata gue dulu dan gue bakal rahasiain hal ini dari semua... itu kan yang loe mau?”

"oh ya?" sahut Via dengan nada tak percaya. Riko mengangguk pelan.

“tapi, dengan 2 syarat..." lanjut Riko. Riko sesaat diam menatap Via dengan sejuta pemikiran dan rencana dibenaknya. Via hanya mengangguk pelan, tanda ia akan menerima dengan segala syarat dari Riko. Riko lalu tersenyum simpul dan melanjutkan ucapannya,

"pertama, loe kudu nemenin gue jalan dulu bentar sore ini... Suntuk gue nunggu orang ga jelas, eh ternyata elo! dan yang kedua... hmmm…. Ntar deh... Kita jalan dulu sekarang.. Ayok!" ajak Riko. Via pun mengangguk dan mengikuti Riko yang telah menarik lengannya dan mengajaknya beranjak dari café yang terus, terus, dan terus semakin dipadati pengunjung walau hari tlah berada penghujung senja itu.

-------------------misst3ri--------------------

Di salah satu jalan menuju sebuah perkomplekan itu, tampak dua orang anak, berjalan beriringan dilatari lukisan sang khalik. Sebuah goresan alam yang tengah menggambarkan keindahan sang mentari yang mulai menyerahkan tahta siangnya pada sang langit malam. Bisa terdengar lontara-lontaran candaan dari dua anak manusia yang tengah bercengkrama akrab itu. Tampak dari raut keduanya tawa ceria dan kebahagiaan yang terpancar kuat, seindah semburan sinar mentari sore yang memberikan sebuah siluet keindahan alam diakhir tugasnya itu. Mereka adalah Ify dan Iel, yang baru saja pulang dari sanggar dan memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki sambil menikmati hari sore yang begitu indah itu.

“seneng deh fy, gue liat loe ketawa lepas kayak gini… gak kayak hari-hari kemaren, kecut banget! Hahaha….”

“rese ah loe yel! Kecut.. kecut… masa imut-imut gini dibilang kecut, cuka kali… hehe…”

“idihh… bisa narsis juga ternyata… haha…” celetuk Iel

“kan loe gurunya, haha….” Canda Ify juga.

“bisa aja lo jawabnya… satu sama donk kita. Loe ngajarin gue matematik, gue ngajarin loe narsis, hehehe….” Sahut Iel juga. Lalu mereka tertawa bersama-sama. Ditengah asyik-asyik tertawa, Iel sontak menghentikan tawanya ketika menyadari Ify tengah memandangnya lekat. Tapi saat Iel memandang balik, Ify malah membuang pandangannya.

“thx ya yel…” ucap Ify. Terlihat senyum simpul disudut bibirnya. Iel mengerutkan keningnya sesaat.

“buat?” Tanya Iel. Ify kembali tersenyum, lalu menatap Iel lekat.

“hmm….buat usaha loe… usaha loe buat bikin muka gue gak kecut lagi, hehe…” sahut Ify ringan.

“sama-sama kecut! Haha….” Sahut Iel dengan tawa lebarnya sambil ngacak-ngacak rambut Ify. Sontak saja diantara mereka sesaat terjadi dorong-mendorong karena Ify tak terima rambutnya diacak-acak begitu.

“dasar ah loe yel, kebiasaan deh, kalo gak ngejitak kepala gue, ngacak-ngacak rambut gue! Masih dendam ya loe, kepala loe pernah gue timpuk pake sepatu?!” protes Ify. Iel cuma langsung nyengir dengan tampang sok tak berdosanya. Ify hanya bisa menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum simpul, dia melemparkan pandangannya jauh kedepan.

“tapi…, loe tau gak, keisengan loe dan cara loe ngibur gue, bikin gue inget sama seseorang…” kata Ify lagi. Iel kembali mengerutkan keningnya sambil menatap Ify dengan muka heran.

“hah? Sama siapa? Jelas gak mungkin tukul kan? Minimal Justin bieber kan ya, yang bisa bikin cewe-cewe histeris kegirangan… Ya kan? Ya kan?” celetuk Iel sambil memainkan alisnya dan menyeringai dengan wajah jailnya. Ify hanya tertawa mendengar kenarsisan Iel itu. Baru saja Ify mau menyahuti, tapi tiba-tiba sesuatu berdering keras dan saku Iel.

“eh bentar fy” kata Iel sambil buru-buru merogoh kantongnya dan mengeluarkan HPnya yang sudah berdering nyaring itu. Dengan sekali tekan disalah satu tombolnya, panggilan telepon itupun segera tersambung.

“hallo… kenapa bro?” sapa Iel kepada suara diseberang teleponnya itu, sambil memberi isyarat ke Ify untuk tak kemana-mana, lalu dia berjalan kearah samping, agak menjauh dari Ify.

Ify bisa melihat, walau diselingi beberapa candaan, tapi wajah Iel beberapa kali terlihat agak serius berbicara dengan lawan bicaranya diseberang telepon sana. Dari mimik wajah Iel itu, Ify bisa menebak, pasti ada pembicaraan serius disana walau ia tak terlalu bisa mendengar membicaraan Iel diteleponnya itu. Tapi, Ify tak mau terlalu mengambil pusing, karena dia memang tak punya hak untuk ikut campur akan hal itu. Tak lama berselang, Iel tampak telah mengakhiri obrolannya, lalu kembali mendekati Ify yang sedari tadi setia menunggu.

“sori ya fy nunggu… yuk fy buruan. Gue anter loe pulang…” kata Iel sambil narik pergelangan tangan Ify mengarah salah satu jalan. Mereka kini telah berada didepan komplek mereka.

“hmm… Gak usah deh yel… loe langsung aja sana pulang ke rumah loe. Ntar loe jalan muter lagi… Bentar lagi ini magrib kan?” tolak Ify yang tak ingin Iel jalan memutar lagi jika mengantarnya. Dari depan komplek, arah rumah Ify memang agak berbeda jalur jalan dari rumah Iel yang berbeda blok.

“udah gak papa… Lagian gue kan mau main ke rumah loe bentar, sekalian minta izin lagi ke nyokap loe buat nyulik loe lagi malem ini…” sahut Iel.

“hah? Mau nyulik gue kemana lagi loe? Jangan yang aneh-aneh deh loe yel…”

“udah… gak usah bawel, loe ikut aja. Ini juga demi kebaikan loe fy…” jawab Iel sambil tersenyum penuh misteri. Ify sedikit mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud perkataan Iel.

“udah, gak usah dipikirin. Percaya sama gue, oke? Ayo buruan jalan, ntar keburu orang azan magrib lagi…” ajak Iel cepat sambil menarik cepat tangan Ify.

--------------------misst3ri-------------------

Ketika burung-burung telah terbang, pulang kembali ke sarangnya, mentari juga tlah kembali keperaduannya. Itulah yang menandakan hari telah melewati senja, dan beralih menuju malam yang penuh kegelapan yang menenangkan. Paska Sivia menemani Riko bermain-main di timezone, kemudian sesaat mereka menunaikan sholat maghrib di mushola mall itu, Riko kemudian mengajaknya menuju pintu keluar mall yang semakin dipenuhi orang-orang yang mau menghabiskan malam minggunya di tengah keramaian manusia yang memadati salah satu mall terbesar di kota itu.

"sekarang kita mau kemana sev… eh Riko?" Tanya Via yang masih agak bingung dengan panggilan severus atau Riko.

"udah, loe ikut aja… loe udah sepakat mau ngikutin gue kan? Santai aja vi…" sahut Riko santai sambil sekilas melemparkan senyumnya pada Via. Via balas tersenyum sambil menganggukan kepalanya dengan ringan. Kelihatan setelah beberapa menghabiskan waktu bersama sepanjang sore itu, tampak tak ada kecanggungan lagi diantara Via dan Riko.

“eh iya, ka rio gimana? Jangan-jangan lagi nyariin gue lagi…” kata Via yang tiba-tiba teringat kakaknya yang sore tadi meninggalkan dirinya itu.

“tenang… rio udah pulang kok. Gue yang nyuruh. Helm loe udah dikasihin ke gue tadi” sahut Riko dengan enteng. Via sontak menoleh dan menarik lengan Riko untuk menahan langkahnya.

“hah?! Jadi gitu?! Bener-bener ngerjain gue loe!” omel Via sambil ngedorong bahu Riko kesal. Riko langsung tertawa lepas.

“haha…. Udah gak usah banyak protes. Kakak loe udah nyerahin loe ke gue, jadi malam ini loe dalam tanggung jawab gue. Jadi loe harus nurut apa kata gue… oke bos?” sahut Riko lagi. Walau masih gondok setengah hati, Via akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah, lalu terus berjalan mengikuti Riko.

"eh, kita mau naik motor ya? Emang udah punya SIM loe? Udah berani bawa motor.." celetuk Via ketika mereka telah berada di parkiran dan Riko berjalan menuju sebuah motor matic berwarna hitam lalu mengeluarkan sebuah kunci dari kantong celananya.

"tenang.. Udah punya SIM kok…”

“beneran?”

“iya beneeer…, punya kok, Surat Ijin Mengibul tapi... Hehe..."

"ah, loe beneran kayak severus... Jayus!"

"emang gue severus kan? Emang siapa lagi? Hantu?" sahut Riko lagi sambil terkekeh kecil. Via jadi ikut tertawa kecil.

"masih ga nyangka gue lo severus, kok bisa sih? Di sekolah kan loe rada pendiem dibanding temen-temen loe... Gak nyangka gue di dunia maya banyak omong kaya severus loe…"

“hahaha… terkadang, orang emang seperti memiliki 2 kepribadian ketika ia bersinggungan dengan dunia maya. Seperti menunjukkan sisi lain dirinya yang mungkin gak bisa dia tunjukkin di dunia nyatanya… Atau orang kayak loe, yang gak berani ngungkapin perasaan di dunia nyata, dan lebih memilih numpahinnya di dunia maya. Ya kan my princess?” kata Riko sambil menyodorkan helm kearah Via lalu tersenyum simpul pada Via.

Dipanggil my princess oleh Riko seperti itu, pipi Via langsung bersemu merah. Memorinya langsung memutar indah segala kata-kata dan obrolan hangat diantara dirinya dengan severus selama ini. Lagi-lagi seulas senyum malu-malu terukir disudut bibirnya. Mungkin hatinya sampai sekarang tak menyangka, sosok yang sering memanggilnya dengan begitu manis didunia mayanya itu adalah Riko, orang yang sudah jadi musuh bebuyutannya sejak dari SD. Tapi hari itu telah mengubah pandangan dirinya tentang sosok Riko. Segala perasaan kesal yang biasanya ia lekatkan pada diri Riko, kini yang tersisa dihatinya hanyalah sosok sang severus yang penuh kehangatan.

“yok naik!” ajak Riko kepada Via agar segera naik keatas motor matic miliknya itu. Via mengangguk dan segera menaiki motor Riko. Dan dalam hitungan detik, mereka berdua telah berboncengan menaiki motor Riko menuju sebuah tempat yang telah berada didalam rencana yang telah dipikirkan Riko itu.

--------------------misst3ri---------------------

Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, Riko membelokkan motornya memasuki sebuah perkomplekan. Kening Via mengerut. Komplek ini cukup familiar buat Via. Kawasan ini begitu akrab dengan ingatannya akan kenangan dimasa lalunya. Tapi ini malah membuat hatinya tiba-tiba kembali tergelitik tak nyaman dan semakin digeluti kegelisahan.

"ko, ngapain loe bawa gue kesini, ini kan komplek perumahan....." lirih Via

“Kita gak bakal ke rumah temen loe itu kok….” Potong Riko seolah mengerti apa yang ada dipikiran Via.

Via diam-diam menghembuskan nafas lega. Dia benar-benar tak mau jika di paksa berhadapan dengan sosok penyebab sakit hatinya itu. Hatinya masih merasa belum siap jika harus kembali menghadapi gemuruh pertentangan hebat di hatinya dikala setiap bertemu dengan orang yang dulu ia tempatkan dihatinya sebagai sahabat terbaiknya itu.

“trus ngapain kesini?” Tanya Via kemudian.

“ntar juga tau…” jawab Riko enteng sambil tersenyum simpul penuh arti dari balik helmnya itu. Via mendengus agak kesal. ‘ah ni orang, demen banget sih main rahasia-rahasiaan sama gue!’ benak Via. Tapi rasa penasaran Via itu akhirnya terpecahkan juga ketika Riko membelokkan motornya ke salah satu rumah besar yang ada di komplek itu. Via tak tau itu rumah siapa, tapi entah kenapa, dia punya firasat tak enak. Setelah masuk dan memarkirkan motornya di halaman rumah yang cukup luas itu, Riko pun turun dan menarik Via agar mengikutinya.

"yuk vi turun…”

“rumah siapa nih ko? Rumah loe ya?”

“bukan. Gue kesini mau ngajak loe nemuin seseorang…” jawab Riko sambil terus tersenyum. Via mengerutkan keningnya. ‘nemuin seseorang?’ Dan seakan faham akan keheranan Via, perlahan Riko membisikkan sesuatu dikuping Via. “Ini rumah pangeran kodok loe…" bisik Riko.

"what?!" pekik Via kaget. Dan bisikan Riko itu jelas langsung membuat Via sontak memberontak dan berkeinginan melarikan diri. Tapi Riko yang telah lebih dulu bersiap dengan menggenggam erat pergelangan tangan Via, tentu saja bisa mengatasinya dan kemudian segera menariknya untuk memaksa gadis itu mengikuti langkahnya menuju pintu masuk rumah itu.

“Riko! Lepasin gue gak!” teriak Via.

“gak! Loe kan udah sepakat ngikutin apa kata gue! ayo!” sanggah Riko

“Gue mau pulang!”

Ditengah keributan kecil dan tarik-menarik di halaman itu, Via yang memberontak keras, tiba-tiba mengendurkan perlawanannya pada Riko, tepat disaat dia melihat 2 sosok yang telah berdiri dibelakang punggung Riko. Kehadiran orang-orang yang seketika menyihir dirinya seperti merasa lemah tak berdaya, sekaligus membuat hatinya kembali berdegup dan bergejolak tak menentu.

“Ify… Iel…” lirihnya lemah.

-----------------misst3ri-----------------

Ketika tau bahwa sosok princess dunia mayanya itu adalah Sivia, lalu melihat rentetan kejadian yang terjadi disekitarnya selama beberapa hari itu, yang muncul dipikiran Riko hanya satu. Dia harus bisa menjadi penengah. Sebagai severus, dia sangat mengerti apa perasaan Via. Dia tau betul gejolak jiwa gadis itu. Dan ia jelas bisa mengerti bagaimana kebencian itu bisa benar-benar tertanam dalam.

Tapi dilain sisi, sebagai Riko, lewat cerita Gabriel dia tau persis bahwa apa yang terjadi pada Ify. Dan di beberapa hari terakhir itu, ia bisa melihat sendiri dengan pikiran jernih dan lebih objektif, bahwa pancaran ketulusan benar-benar terpancar kuat dari gadis itu, yang membuatnya semakin yakin, bahwa Ify hanyalah korban kesalahpahaman. Yah, kesalah-pahaman yang harus segera diluruskan. Dan atas dasar keyakinan itu, Riko menyusun rencana untuk mempertemukan semua pihak yang tlah membangun kesalah-pahaman yang menjadi persoalan yang begitu rumit itu.

Dan saat itu, walau dengan paksaan yang luar biasa, Riko akhirnya berhasil membawa Via ke rumah Iel dan mendudukkannya dan menghadapkannya di depan orang-orang yang melingkari permasalahan ini. Ada Iel, orang yang ternyata menjadi objek utama bahan kesalahpahaman itu. Ada juga telah hadir disana, Sion, orang yang menjadi saksi sumber awal keberadaan foto yang menjadi sumber kesalahpahaman itu. Dan terakhir tentu saja Ify, orang yang menjadi korban kesalah pahaman itu sendiri, sekaligus orang yang paling mengharapkan Via untuk bisa membuka hatinya kembali.

"Via, gue cuma pengen loe denger semua cerita dari Iel, Sion, dan juga Ify... dari awal sampai akhir. Please, gue mohon loe dengerin baik-baik. Dengerin pake hati loe, jangan pake emosi loe vi. Setelah itu, terserah loe deh, mau ngapain…." ucap Riko membuka pembicaraan di antara mereka berlima setelah mereka telah duduk tenang di ruang tamu rumah Iel itu. Riko lalu memberi isyarat pada Iel untuk membuka suara.

Iel lalu menegakkan tubuhnya dan berdiam sejenak, mencoba kembali menyusun-nyusun kata yang akan coba ia lontarkan. Sejak di telepon Riko dan diberi tau rencana ini, pikiran Iel telah berkerja, memikirkan masak-masak apa yang akan ia ucapkan. Dia tak ingin setelah pertemuan itu, Via dan Ify malah tambah salah faham, dan Ify semakin merasa tersakiti. Ia tak mau itu. Jika itu sampai terjadi, dia bersumpah tak akan memaafkan kebodohan dirinya sendiri.

“oke… mungkin biar segalanya jelas buat loe, mungkin kita harus cerita dari awal” kata Iel akhirnya. Ia menghela nafasnya sesaat, lalu kembali menatap Via lurus.

“Semua berawal dari sepatu Ify yang gue lempar ke atas pohon dulu. Loe masih ingat kan?” kata Iel lagi, memulai usaha mereka melunakkan hati Sivia. Dan setelah itu Iel dibantu Ify, Sion dan juga Riko mulai bercerita panjang lebar tentang segala hal yang terjadi.

"…. sampai akhirnya kalian tau lewat angel yang dendam sama kalian, memanfaatkan foto yang ia curi dari gue, dan ia pajang di mading sekolah buat jatohin image kalian yang udah dikenal tak mau bersentuhan dengan teman-teman lain yang kalian sebut para pecundang… Dan seterusnya kalian malah membuang Ify, yang sebenarnya seperti kita certain panjang lebar tadi, dia cuma korban yang dijadikan kambing hitam disini… Dia sebenarnya gak salah apa-apa, tapi malah jadi orang yang paling tersiksa bathinnya…” kata Iel yang menutup cerita panjang mereka.

“vi... Ini semua salah gue kok, gue yang foto dia sama Dayat. Gue tau, kalian pasti ga bakal terima kalau Ify begitu sama Dayat kan? Dan gue manfaatin kelemahan Ify itu buat maksa dia biar bisa jadi suruhan gue sebulan ini sekaligus biar bisa gue manfaatin buat ngontrol kelakuan kalian... " kata Iel lagi. Iel tampak begitu berusaha agar Via mau menerima Ify lagi. Dia tak mau Ify terus-terusan terluka seperti sekarang. Biar bagaimana pun, dia merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas segala masalah ini. Dan ia harus bisa menyelesaikan segala perkecamukan ini.

“Ify mau nyanggupin syarat yang gue kasih dan kemudian memilih untuk tetap diam mempertahankan rahasia ini sendiri tanpa melibatkan kalian cuma buat ngejaga perasaan kalian, hanya demi persahabatnya dengan kalian! Dia rela nanggung tekanan dari gue sendirian. Dia benar-benar nurutin semua apa kata gue. Walau dia memang ngejalanin perintah gue sepenuhnya, tapi apa pernah selama itu dia nyakitin kalian? Apa dia khianatin kalian dan menjelek-jelekan kalian? Gak kan? Jadi sebenarnya yang membuat Ify tampak begitu bersalah di mata kalian apa? Ayolah Via… buka hati loe lagi buat sahabat loe itu…” mohon Iel lagi.

“iya Via, kita mohon loe baikan lagi sama Ify… sama kita damai juga deh. Kita-kita yang minta maaf duluan juga gak papa. Gue juga cape perang mulu sama kalian…” celetuk Sion juga yang diikuti anggukan yang lain. Tapi setelah penuturan dan permohonan-permohonan luar biasa itu, Via tampaknya belum mau juga bergeming. Dia masih betah bertahan dengan sikap dingin dan acuh-tak acuhnya itu.

“Via, kita tau kita emang udah gak pernah akur dari SD. Dan itu berlanjut di SMP dan loe dan sila juga melibatkan Ify dan tian dikubu kalian. Dan sekarang sampai kita udah mau lulus SMP, kita terus bertahan dengan peperangan kita itu. Tapi, apa loe pernah kepikiran buat akhirin ini semua? Kita semua, gak cuma antara kalian dengan gue, Cakka, Iel dan Sion, tapi juga sama temen-temen yang lain seperti Dayat, Obiet, Zahra… Apa loe pernah kepikiran buat damai dengan semuanya? Hanya itu yang Ify coba lakukan tanpa pernah mengurangi kesetiaannya pada kalian….” kata Riko juga sambil menatap lurus Via yang sedari tadi tampak terus bertahan dibalik tembok keangkuhannya, tanpa menghiraukan perkataan mereka semua.

“Sivia… sekuat apa sih gembok hati loe?!” kata Iel agak prustasi sekarang melihat Via tak mengurangi sikap antipatinya itu sedikitpun. “Asal loe tau ya… Pak Hanny sempat tau tentang perjanjian kami. Dan saat pak Hanny menekan kita dengan mengancam akan menghapus nilai-nilai kita, Ify lebih memilih untuk diam dan mempertaruhkan nilai dia demi terus jaga rahasia itu. Dia tau, kalau pak Hanny sampai tau masalah kami, kalian semua bakal ikut terseret juga! Jadi apa gak ada sedikitpun rasa simpati loe sama Ify?! Ify itu ngobanin banyak hal tau gak demi kalian! Nyadar gak sih loe?!” kata Iel cukup keras.

Iel tampak mulai terbawa emosi menghadapi Via sangat cuek, bersikap tak peduli itu dan terkesan angkuh itu. Ify yang menyadari itu segera menarik bahu Iel. Iel menoleh dan melihat Ify menggeleng pelan kearahnya, mengisyaratkan agar Iel menahan emosinya. Iel pun terdiam dan memilih menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa dibelakangnya. Ify yang sedari tadi lebih banyak diam itu lalu sesaat memandang kearah Riko dan Sion, seakan-akan memberikan isyarat agar mereka tak bertindak emosi dan memberikan dirinya waktu untuk berbicara.

Ify kemudian mengalihkan perhatiannya pada Via yang tampak tak mau sedikitpun memandangnya itu. Padahal mereka duduk di sofa yang bersisian. Ify sedikit mencondongkan posisi tubuhnya agar lebih bisa menjangkau Via.

“Via…..” tegur Ify sambil perlahan mengarahkan tangannya untuk menyentuh pergelangan tangan Via. Tapi Via yang menyadari itu, malah dengan cepat menjauhkan tangannya dan menggeser duduknya agar sedikit menjauh. Ify yang akhirnya hanya bisa menghela nafasnya sembari menarik kembali uluran tangannya.

"Via... Kita udah berusaha buat jujur, certain apa aja yang tlah terjadi sebenarnya. Gue bener-bener ga ada apa-apa sama Iel, dan gue gak pernah ada niat sedikipun buat khianatin kalian... please Via, percaya sama gue…” lirih Ify penuh permohonan. Via masih saja tak bergeming. Wajahnya masih saja kaku, tak jua menunjukkan sedikitpun wajah yang bersahabat. Ify mendesah pelan. Hatinya seperti tersayat pedih melihat sahabatnya bersikap begitu padanya.

“Via… gue cuma gak mau kita musuhan kaya gini terus vi…” lirih Ify, sesaat ia menghela nafasnya, untuk mengurangi keresahan dihatinya, “Kalo loe emang masih marah sama gue, loe boleh omelin gue sepuasnya sekarang, loe… loe boleh nampar gue lagi kalo emang itu bikin loe puas... Loe boleh nyuruh gue apa aja, asal loe mau maafin gue vi…” lirih Ify lagi. Kini Ify telah turun, berlutut tepat dibawah kursi Via, memandang Via penuh permohonan.

Sedangkan Via, dia mulai bereaksi. Sekilas ia melirik Ify, masih dengan pandangan dinginnya. Lalu ia kembali membuang wajahnya dan memejamkan matanya sesaat. Dia tau, hatinya bergemuruh kuat saat itu. Rasa iba dan sayang akan sahabatnya itu mulai menyeruak kepermukaan ditengah emosi jiwa dan egonya yang begitu membuncah menggerogoti hatinya tanpa ampun. Tapi disisi lain, jelas sekali lagi, sakit itu melekat sangat kuat dihatinya, dan tak bisa ia hilangkan dengan begitu saja. Semakin ia tahan dan pendam, semakin kuat dan membekas luka itu. Jadi apa yang harus ia lakukan sekarang?

“please Via... jangan siksa gue terus dengan rasa bersalah ini vi…" mohon Ify lagi dengan suara yang sangat bergetar saat itu. Kelopak matanya tampak sudah tak mampu lagi menguasai limpahan butiran-butiran air mata yang sedari tadi sudah memberontak untuk segera bisa keluar. Dan emosi bercampur kepedihan sekaligus pancaran ketulusan dari seorang Ify itu seakan-akan ikut menyihir seisi ruangan itu. Ruangan itu ikut seolah-olah membeku. Sunyi, tak ada suara. Semua hanya terpaku, menatap penuh rasa simpati kepada seseorang yang telah menunjukkan sebuah ketulusan dan kesetiaan sejati dalam memperjuangkan persahabatan yang begitu ia hargai dan pertahankan.

Tapi kebekuan itu, tak lama kemudian terpecahkan. Via tiba-tiba bangkit dari kursinya, lalu dengan cepat mencengkram pergelangan tangan Ify dan menariknya kuat untuk segera mengikuti langkahnya. Riko, Iel dan Sion yang kaget dengan gerak tiba-tiba Via itu, sontak ikut berdiri.

"kalian bertiga tetep diem disitu! Awas kalo ada yang ngikutin!" teriak Via tajam pada ketiga cowo yang ada diruangan itu. Riko, Iel dan Sion yang diteriaki dengan nada tinggi dan mengancam itu, sontak langsung turun nyalinya, dan memutuskan kembali duduk. Dan akhirnya mereka hanya bisa memandangi Via yang sudah berlalu bersama Ify dengan cepat menuju arah pintu luar itu.

"tenang temen-temen... gimana kalo kita pantau dari jauh, kalau udah mulai tanda-tanda ngarah ke jambak-jambakan, tampar-tamparan baru kita sorakin...” bisik Sion agak berapi-api setelah Via dan Ify sudah tak nampak lagi. Tapi Riko dan Iel sudah melototin Sion tajam, sekan-akan seperti elang yang sudah siap memangsa. Melihat itu Sion langsung nyengir.

“Eh, maksudnya nyerbu buat lerai’in kesana.. hehe... eh ayo, kita ngintip keluar!" ajak Sion sambil narik Iel dan Riko agar mengikutinya menuju pintu luar untuk memata-matai Via yang telah menyeret Ify ke halaman luar itu.

---------------------BERSAMBUNG (3am)------------------

1 komentar