This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Oleh2 Cerita dari Abah dari Negeri Tetangga

Atas Dasar ketidak-kreatifan saya, kembali saya memposting sebuah tulisan karya orang lain. Tapi kali ini bukan dari seseorang yang tidak saya kenal, tapi kali ini saya mau ngepost hasil tulisan dari orang begitu dekat saya kenal, yaitu Ayah alias Abah saya sendiri. Kebetulan sebenarnya ini ditulis untuk dishare kepada sebuah koran lokal untuk salah satu rubiknya. Tapi kayanya disana blm terbit, jadi biarlah anaknya ini yang nge-publish duluan, hehehe... Lagi pula, tepat tanggal 19 September ini adalah Ulang tahun beliau. Jadi anggep aja ini kado dari saya, hohoho....

Berikut ini adalah cerita beliau tentang pengalaman beliau saat punya kesempatan menginjakkan kaki di negeri tetangga kita, Australia, beberapa tahun silam yg lalu. Beliau saat itu ada Tugas sebuah pelatihan disana. Dan perjalanan yang cukup singkat, tapi ternyata ada banyak pelajaran yang bisa di ambil dari negeri orang disana ternyata. Inilah Kisah beliau....

-----------------------------------***-----------------------------------

"80 KM PER-JAM"

"Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri", kita tetap harus lebih menghargai negeri sendiri. Itulah sebuah peribahasa lama yang selalu melekat di dalam benak kita, lebih-lebih pada saat kita bepergian atau menetap di luar negeri.

Di satu pihak peribahasa ini memberikan peringatan kepada kita agar tidak terlena dan lupa daratan atas kemegahan dan gemerlap negeri orang. Namun di pihak lain (dan ini yang sering terlupakan), pernahkah kita berpikir untuk mewujudkan "hujan emas" itu bisa juga jatuh di negeri sendiri. Dalam hal ini kita harus sadar bahwa "hujan emas" tidak akan jatuh sendiri di negeri ini tanpa dilandasai sifat "disiplin" yang harus ada dalam diri setiap warga. bukankah puasa ramadhan juga mengajarkan kedisiplinan).

Budaya bangsa luar (asing) tidak semua cocok dengan bangsa kita, namun kita harus akui juga tidak semuanya jelek. Kita kagum dengan kedisiplinan masyarakat kota Singapura tidak membuang sampah sembarangan (karena bisa kena denda), akan tetapi kita tidak pernah bisa konsisten menerapkan "denda" kepada pembuang sampah atau puntung rokok di tempat umum seperti yang pernah dilakukan di Banjarmasin pada saat kepemimpinan Walikota Effendy Ritonga.

Pada beberapa tahun yang silam, saat penulis masih tercatat sebagai seorang birokrat di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, penulis mendapat tugas mengikuti pelatihan (Short Course) "Strategic Planning For Local Authority in Global Economy and Market" yang difasilitasi oleh World Wide - Australia. Pelatihan ini berlangsung selama 17 hari yang dilaksanakan di 3 kota, dengan objek study di 3 Universitas ternama di Australia, yaitu Monash University (Melbourne), University Of South Australia (Adelaeide) dan University of Technology (Sydney) serta beberapa lembaga Pemerintahan Lokal setempat. Namun yang akan penulis kemukakan bukanlah mengenai kegiatan pelatihan itu sendiri, melainkan beberapa catatan ringan dalam berlalu lintas di negeri kangguru tersebut.

Setelah mendarat di Airport Kota Melbourne, rombongan kami dibawa menuju pusat kota dengan menggunakan sebuah bus pariwisata yang cukup bagus. Kesan pertama saat memasuki bus, kami sudah disuguhkan sebuah kedisiplinan berlalu laintas yang santun dan bertanggung-jawab. Sebelum bus dijalankan oleh bung sopir, kami diminta untuk mengenakan "sabuk pengaman" dan sang sopir tidak mau menjalankan kendaraannya sebelum dipastikan bahwa semua penumpang telah mengenakan sabuk pengaman dengan baik dan benar (sebuah contoh "emas" yang patut ditiru oleh sopir-sopir angkutan umum di negeri ini).

Pengalaman "emas" yang kedua yang patut kita contoh, penulis alami pada perjalanan menuju Kota Canberra (ibu kota Australia) dalam melihat objek wisata seperti The Parliament House, The Australian War Memorial dan Tour The Diplomatic Residence. Perjalanan yang cukup jauh dari Kota Melbourne menuju Canberra ini penulis beserta kawan-kawan dibawa melalui jalan darat menggunakan bus pariwisata. Dalam perjalanan ini kami disuguhkan dengan pemandangan alam benua Australia dengan pemukiman suku asli Aborigin dan semak belukar dengan rumput-rumpu yang hijau, dimana bisa disaksikan anak-anak kangguru yang berkeliaran tanpa terganggu kendaraan yang hilir mudik. Sang Sopir yang langsung merangkap sebagai pramu wisata menjelaskan berbagai hal mengenai benua kangguru ini serta objek-objek wisata yang akan dikunjungi di kota Canberra. Meskipun suasana perjalanan tidak begitu ramai dan kondisi jalan yang mulus dan lebar, sang sopir tidak pernah menjalankan kendaraannya di atas angka 80. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan sopir-sopir kita di banua maupun kota-kota besar di Indonesia. Hal ini pula yang mendorong kami untuk bertanya. Apa kata sang sopir, katanya setiap bus pariwisata di Australia oleh perusahaan angkutan masing-masing dilengkapi dengan sebuah alat "pemantau kecepatan". Setiap sopir yang berlaku ugal-ugalan dan melebihi kecepatan 80 kilometer per-jam akan terpantau oleh alat ini, dan bila terjadi pelanggaran siap-siap saja untuk diberhentikan oleh perusahaan ybs dan jangan harap untuk bisa bekerja lagi di perusahaan lain.

Australia memang menyimpan "emas" dan banyak para pelajar kita yang menimba ilmu disana. Alhamdulillah, penulis berkesempatan "emas" menikmati suasana itu, yang mungkin tidak akan terulang kembali, karena penulis telah purna tugas, sehingga tidak akan mendapat kesempatan "emas" seperti itu lagi. Namun yang pasti Opera House dan Harbour Bridge tetap menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan (from Abahnya 3am).

0 komentar: