This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

FIKSI - PROMISE Part 17 : Resiko yang Diambil

Lanjutan dari PROMISE Part 16: Imbas. Baca juga Promise Part 1: Awal, untuk mengetahui asal mula pembuatan cerita fiksi ini. Cerita ini bisa di liat juga di website ICL di blog member 3vios.

NB: Cerita ini hanya fiksi belaka, jadi jika ada kesamaan nama, kejadian, tempat, dll, itu semua hanyalah kebetulan belaka. Jadi jangan pernah menganggap cerita ini nyata, apalagi terhadap anak2 Idola Cilik yg aku pakai namanya sbg pemeran di cerita ini. (buat all anak2 IC, smg berkenan namanya di pinjem buat jd tokoh di cerita saya..). Selamat Membaca, smg terhibur... Thx.. :)

PROMISE - Part 17 : Resiko yang Diambil

--------------- ---------------------

Sebuah mobil mewah kini terparkir di depan gerbang SMP Bakti Setia. Anak-anak sekolah yang baru saja datang ke sekolah saat itu, memandang kagum bercampur heran melihat pemandangan baru itu. Baru pertama kali mereka melihat mobil itu. Siapa ya? Apa ada anak baru? Benak mereka. Tak lama kemudian, keluar seorang gadis dari mobil itu. Dia...

"angel?!" sambut dayat dan irsyad yang kebetulan juga baru datang bersama zahra.

"loe masih sekolah disini?" tanya zahra.

"iya.. Rahmi, debo sama obiet belum datang?"

"belum kayanya, bentar lagi paling" jawab zahra. Tit..tin.. Terdengar bunyi kalauakson dari mobil pak darma, ayah angkat angel.

"papa berangkat kerja ya gel..." kata pak darma pamit.

"iya, dahh om, eh papa..." sahut angel. mereka memandang kepergian mobil pak darma, ayah angkat angel dengan kagum.

"wahh, gel, kemajuan besar loe" kata dayat.

"tuh, liat, angel sekarang lebih manteb dari pada kalian kan?!" ledek irsyad ke pada sila dan via yang kebetulan juga baru datang dan sudah melihat perubahan angel.

"ah, biasa aja! yang kaya kan ortu angkatnya, bukan dia, angel sih tetap aja statusnya anak pungut! yang namanya anak pungut, tetap pecundang kaya kalian semua!" sahut sila enteng.

"eh, malah ngeledek kita loe!" sahut dayat.

"udah yat, ga usah ngeladenin mereka. Pasti iri tuh mereka!" sahut irsyad.

"siapa yang iri, gitu aja di iri'in... kaya ga ada kerjaan aja, ya kan vi?"

"eh, iya.. Iya..." sahut via. Tak lama kemudian, datang ify dengan muka agak lesu karena kurang tidur sebelumnya.

"eh fy, loe liat tuh, si angel sok eksklusif, ihh.. yang ngangkat anak dia kaya sih, tapi tetap aja kan dia cuma anak angkat" cerita sila ke ify sambil ngasih pandangan meremehkan ke arah angel.

"ohh... Bagus donk..." sahut ify datar. Dia tampak ga tertarik nyahutin sila di tengah badai ngantuknya. Irsyad yang dengar jawaban ify langsung ketawa.

"kok bagus fy?! gimana sih loe! Orang dia kampungan tapi sok mau ngikutin eksklusif kaya kita gitu juga, apa bagusnya??!" sahut sila kesel denger jawaban ify yang ga sesuai harapan

"gue ga sok kaya kata loe!" kata angel yang tampak sudah terbawa emosi.

"iya, loe pada tuh yang kampungan!" tambah dayat ikut emosi.

"udah yok, gel, yat, syad, kita mending ke kelas dari pada ngeladenin mereka..." kata zahra sambil narik angel, dayat dan irsyad menuju kelas.

"udah sana loe pada... Dasar loser..." ledek sila. Lalu mengalihkan pandanganya ke ify.

"eh, fy! Lesu banget! kenapa sih loe?" tegur sila.

"hah? Hwooamm... nggak papa kok... Cuma.. kurang tidur aj.. Hwoaam.." jawab ify sambil menguap berkali-kali.

"emang habis ngapain loe? Nguap mulu... Cekung banget lagi mata loe..." tanya via.

"ngeronda..." jawab ify asal, lalu terus melangkah menuju kelasnya. Sila dan via saling pandang, heran liat tingkah aneh ify, lalu kemudian mengikuti ify masuk ke kelas.

--------------- misst3ri --------------------

Di kelas itu, anak-anak tampak serius mendengarkan penjelasan pelajaran dari guru mereka, sambil ikut mengerjakan soal-soal yang diberikan. Tak ada yang berdiskusi atau menyebelah ke tempat temannya yang lain. mereka semua duduk sendiri dengan tenang kursinya masing-masing. tapi, di antara deret-deret bangku itu, di sebuah bangku baris ke dua, seorang anak tampak terlelap. Dia ify. setelah dengan susah payah menahan kantuknya sekuat tenaga di sepanjang pelajaran di pagi itu, ify akhirnya tak kuasa lagi menahan rasa kantuknya yang sudah tidak bisa dibendungnya lagi itu. Kini dia sudah tertidur begitu nyenyak di mejanya. Sivia yang duduk di sebelah sampingnya, telah menyadari hal itu, dan kini ia berusaha memanggil membangunkan ify diam-diam agar tidak diketahui pak hanny, guru mtk yang sedang mengajar mereka sekarang.

“fy…ify!!” sivia yang duduk di meja samping berbisik membangunkan ify yang sedang terlelap di kelas pagi itu. tapi usahanya sepertinya sia-sia, ify tak bereaksi sedikitpun. Via langsung diam, tak lagi berusaha membangunkan ify ketika melihat pa hanny yang sudah mengetahui ada anak didiknya yang tertidur di kelas, bergerak mendekat.

BRAKK!!!

Pa hanny memukul meja ify.

“hadir pak!!” kata ify yang sontak kaget bangun. anak-anak di kelas langsung tertawa keras kecuali iel yang duduk di sudut kelas itu, diam saja melihat itu semua karena dia tau kenapa sebab ify sampai ketiduran. Ify yang sadar, langsung tertunduk malu.

“maaf pak…” kata ify. Mukanya sudah agak bersemu merah karena malu. Pa hanny hanya tersenyum.

“agar kamu ga ngantuk lagi, sekarang kamu cuci muka dulu sana, trus kamu bantu bapak mengerjakan soal-soal di depan kelas. yang lain juga coba kerjakan!! Nanti kita bahas” suruh pa hanny tegas. Ify pun mengikuti perintah pak hanny. Jam pelajaran pun dihabiskan dengan latihan mengerjakan soal-soal.

Tettt...Teett... bunyi jam pelajaran selesai telah berbunyi.

“oke… anak-anak... Pertemuan berikutnya, saya tidak bisa masuk karena ada tugas di luar kota" kata pak hanny dan disambut sorak gembira anak-anak.

"tapi... Saya akan meninggalkan tugas pada kalian, dan karena pokok bahasan kita sudah selesai, kalau begitu, pertemuan kita minggu depan, kita akan langsung ulangan” umum pak hanny. Sorak gembira anak-anak, langsung berubah menjadi suara-suara protes dari anak-anak.

“sudah.. jangan ada yang protes. Nanti di tugas terakhir yang akan saya berikan di pertemuan depan itu, merupakan kisi-kisi soal ulangan nanti, jadi harap di kerjakan baik-baik. Lagipula, dari PR yang sudah saya berikan dan soal-soal tadi, saya kira kalian sudah cukup mengerti pokok bahasan ini. Dan saya harap hasilnya ga jauh beda dengan hasil PR kalian” kata pak hanny.

Sekilas beliau menatap tajam iel, seolah menekankan kata-kata beliau itu kepada iel. Iel yang merasa pak hanny lebih menekankan kata-katanya kepadanya, hanya diam menunduk. Iel memang selama ini agak kurang bagus di pelajaran mtk. Nilai ujiannya selalu rendah. Dan nilai tugasnya pun tak jauh beda. tapi akhir-akhir ini nilai tugas iel melonjak tinggi. Pak hanny yang walau agak curiga, tapi tetap berpikir positif akan peningkatan iel. Makanya beliau tadi seolah menekankan harapan beliau ke iel. Padahal, tanpa sepengetahuan orang lain, nilai baik iel karena ada andil ify, yang memang dikenal pintar dalam pelajaran mtk, yang selalu mengerjakan tugas-tugas iel akhir-akhir itu. Lalu sebelum keluar kelas pak hanny berbicara kepada ify.

“ify, nanti sepulang sekolah temui bapak dulu. Kamu harus tanggung jawab sama perbuatan kamu tadi. Oke??! Bapak tunggu di ruang guru” kata hanny sambil berlalu. Anak-anak sekelas memandang ify yang tertunduk meratapi nasibnya.

"beneran ngeronda loe malam tadi?" tanya via yang menghampiri meja ify setelah pak hanny keluar kelas. Ify ga menjawab. Dia masih tergolek lesu di kursinya.

“emang malam tadi lo tidur jam berapa fy??” Tanya tian juga

“ga tau, malam banget pokoknya, udah mau subuh malah. Mau gimana lagi PR gue belum selesai” lirih ify lesu

“ga biasanya lo ngerjain PR sampai malam banget?? kalau kaya gini siap-siap energi ekstra aja fy, biasanya pak hanny kalau ngasih hukuman bener-bener ga pandang bulu, meskipun ini pertama kalinya loe tidur di kelas” sahut tian

------------------ misst3ri -------------------------

Siang itu, ketika anak-anak lain sudah berhamburan pulang ke rumah masing-masing, ify melangkah gontai berjalan menuju kantor guru untuk menemui pak hanny. Disana beliau sudah menunggu ify. Kantor guru tinggal menyisakan 2-3 orang guru dan karyawan. Sebagian besar sudah banyak yang pulang. Ify pun menghampiri pak hanny.

“siang pak” kata ify

“siang, silahkan duduk…” pinta pak hanny. Ify pun duduk di depan pak hanny yang menatap tajam ify. Ify hanya menatap gugup dengan pak hanny.

“bapak ga tahu, dan ga mau tau, kenapa kamu sampai ketiduran di kelas hari ini. Padahal kamu tau kan, bapak paling ga suka kalau murid bapak ada yang sampai ketiduran di kelas…”

“maaf pak, saya benar-benar ga sengaja…” kata ify dengan sedikit memelas.

“walau kamu baru pertama kali melanggar peraturan bapak, tapi bapak tetap harus menjalankan komitmen bapak. jadi, bapak harus menghukum kamu juga kali ini, sama seperti teman-teman kamu sebelumnya” kata pak hanny. Ify cuma diam mendengarkan. Kelihatannya dia sudah pasrah dengan hukuman apa yang mau pak hanny berikan.

“sebenarnya biasanya saya memberi hukuman membersihkan semua toilet siswa kepada anak yang ketiduran dikelas, tapi karena kamu udah ngerjain soal-soal di depan kelas tadi dan saya yakin kamu ga bakal ngulangi hal ini lagi, mungkin membersihkan toilet guru sudah cukup untuk hukuman kamu, nanti setelah saya cek sudah beres, baru kamu bisa pulang. kalau sudah mengerti, silakan langsung dikerjakan” kata pak hanny lagi.

“iya pak” sahut ify dan langsung mohon diri. Ify sedikit lega karena hanya dihukum membersihkan toilet guru, padahal biasanya anak-anak dihukum membersihkan toilet siswa yang kelewat kotor.

---------------- misst3ri ---------------------

Ketika ify keluar kantor, dia langsung ditarik seseorang. Dia tak lain adalah iel.

“loe dihukum apaan fy??? Bersihin toilet siswa???” Tanya iel. Ify cuma diam, menatap dingin iel lalu melepas paksa genggaman tangan iel dan segera melangkah ke toilet guru untuk ngejalanin hukumannya. Iel mengikutinya di belakang.

“loe disuruh bersihin toilet guru??? Mujur banget loe…” kata iel saat liat ify masuk toilet guru.

“ngapain loe ngikutin gue??? Udah sana loe pulang aja!!” omel ify ke iel sambil menyiapkan pel lantai.

“tapi loe ketiduran gara-gara ngerawat gue malam tadi kan??! jadi biarin gue bantuin loe”

“nggak!!!” tolak ify sambil mulai mengepel lantai toilet.

“gue bantu!!!!” sahut iel

“nggak!!! Ngerti ga sih loe?!!” sahut ify keras.

“biar lo nolak, gue tetap bakal bantuin lo” sahut iel ga kalah keras dan mulai ikut membersihkan toilet. Ify menatap iel tajam, tapi iel tak menghiraukannya dan dengan cueknya tetap melanjutkan pekerjaannya.

“udah lah, terserah lo!!” sahut ify akhirnya dan disambut senyum kemenangan iel. mereka pun bekerja dalam diam. beberapa puluh menit kemudian, pekerjaan mereka selesai.

“ahh, kelar juga” kata iel memandang puas hasil kerjanya. “lo seharusnya bersyukur cuma diminta bersihin toilet guru, coba toilet cowo kaya gue dulu, sore baru bisa benar-benar bersih. tapi cape juga sih” kata iel sambil mijat-mijat pundaknya sendiri. Ify cuma tertawa kecil mendengar celotehan iel.

“siapa juga yang nyuruh lo bantuin gue” sahut ify

“bagaimana gue bisa tenang ninggalin lo bersihin toilet sendirian, padahal gue tau lo sampai ketiduran dikelas gara-gara ngerawat dan ngerjain PR gue semalaman tadi!!” cerocos iel.

“huss.. kalau ntar ada yang denger, berabe yel!!”

“ahh.. ga bakal, orang-orang sudah pada pulang semua kok. Tenang aja ga bakal ada orang yang tau kalau loe ngerjain PR gue selama ini. guru-guru juga ga ada yang curigakan???” sahut iel enteng. tiba-tiba pintu toilet terbuka.

“IEL, IFY… sekarang kalian ikut saya ke kantor!!”

------------------- misst3ri ---------------------

Kantor guru terasa begitu sepi mencekam bagi dua murid tersebut. Ify dan iel sekarang sedang duduk bersebelahan di kantor guru itu. Ify terlihat sangat gelisah, dia hanya menunduk sambil memainkan jari-jarinya di bawah meja untuk mengurangi kegelisahannya. Mukanya tampak sudah agak pucat karena saking gugup dan takutnya. Iel yang lebih tenang, duduk tegak dengan kaku tapi juga hanya menunduk diam sambil sekali-sekali menatap wajah pak hanny yang duduk di hadapan mereka berdua. Beliau sedang memeriksa 2 buah buku dengan seksama. Tak lama beliau menutup kedua buku itu dan menghela nafas panjang. Beliau menatap kedua muridnya yang ada dihadapanya itu.

“seharusnya bapak bisa menyadari kejanggalan buku PR kamu akhir-akhir ini. Bapak benar-benar kecewa tahu kenyataan ini. Bapak kira kamu memang benar-benar mau belajar yel…” kata pak hanny ke iel

“bapak memang sempat curiga dengan kelonjakan nilai-nilai kamu, guru-guru lain juga ada yang ga percaya. Tapi bapak sudah mau sedikit percaya sama kamu. Makanya PR yang terakhir bapak bikin kelompok-kelompok dan dibedakan soalnya. Dan nilai kamu paling tinggi di kelompok kamu… ini meyakinkan bapak, kalau kamu tidak menyalin pekerjaan teman kamu. tapi ternyata…” kata pa hanny dengan nada sangat kecewa. Beliau kembali menghembuskan nafas keras.

“Sejak kapan ify mengerjakan PR kamu???!!” Tanya pak hanny pada iel

“ee.. hampir 2 minggu ini pak…” jawab iel pelan.

“semua PR??”

“nggak pak, cuma mtk sama fisika” jawab iel jujur. Pak hanny menggeleng-gelengkan kepala. Perhatian beliau sekarang terarah ke ify dan mengalihkan pandangannya ke ify.

“ify!! Liat bapak… sekarang jawab pertanyaan bapak dengan jujur!!” kata pak hanny tegas. Ify dengan sedikit takut mengangkat kepalanya dan menatap wajah pak hanny.

“betul perkataan iel??!”

“iy..iya pak…”

“apa kamu dipaksa mengerjakan PR iel??!” Tanya pak hanny lagi. Ify bingung. Dia memang dipaksa iel mengerjakan PR nya, tapi itu memang keputusan dia juga yang mau menuruti keinginan iel. Ify sekilas menatap iel. kalau dia menjawab dipaksa iel, iel pasti dihukum berat, padahal ini semua tidak sepenuhnya salah iel.

“nggak pak…saya tidak dipaksa iel buat ngerjain PR nya.” Kata ify akhirnya. Iel kaget mendengar jawaban ify.

“jujur sama bapak”

“betul pak… Saya ga bohong..” jawab ify. Pak hanny agak sedikit terhenyak mendengar jawaban ify.

BRAKK!!

“kalau tidak di paksa, kenapa kamu sampai mau melakukan hal bodoh seperti ini?!!! Ini sangat tidak mendidik teman kamu!!!” kata pak hanny keras sambil memukul meja.

Ify terlonjak kaget dan langsung kembali menundukkan kepalanya, takut memandang pak hanny yang tampak begitu marah. Iel disampingnya, juga tampak tak kalah gugup dan tegang. tapi dia tau, orang disampingnya pasti lebih ketakutan saat ini. pelan-pelan iel menggenggam hangat tangan dingin dan gemetar ify yang ada di balik bawah meja, berharap dengan itu, ify bisa lebih tenang. Ify sekilas menatap iel. Iel hanya diam kaku tak memandangnya walau tangannya terus menggenggam erat tangan ify. Sebuah genggaman yang seolah-olah ingin memberikan dorongan kekuatan dan semangat yang besar.

Ify pun mencoba untuk mengusir rasa takutnya. Dia kembali menunduk, memejamkan matanya lalu menghirup dan menghembuskan nafasnya pelan, mencoba lebih menenangkan hati dan pikirannya. setelah dia lebih tenang, ify kembali menatap wajah pak hanny yang masih memandang tajam ke mereka berdua.

“janji ga boleh diingkarikan pak???” kata ify lagi dengan nada suara masih sedikit bergetar. Dahi pak hanny sedikit berkerut, tanda tak mengerti.

“iya benar” sahut pak hanny sedikit lebih lembut sekarang.

“saya hanya menepati perjanjian saya dengan iel pak” kata ify polos. Pak hanny tampak masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“sebenarnya... apa yang sudah kalian sepakati??? Iel, apa yang sudah kamu janjikan dengan ify???” Tanya pak hanny pelan. Iel manatap ify. Ify sedikit menggeleng. Dia takut kalau masalah ini dibongkar, akan berimbas dengan teman-teman mereka.

“maaf pak, kami berdua sudah sepakat akan menyimpan rahasia itu. yang jelas saya punya janji ke ify dan ify juga punya janji ke saya, termasuk tentang PR ini” sahut iel kemudian. Pak hanny menatap heran kepada kedua muridnya itu.

“saya tidak ngerti cara berfikir kalian berdua…” kata hanny kemudian. Beliau menghembuskan nafas yang terasa begitu berat dan mulai berpikir. setelah sekian lama tenggelam dalam kebisuan, tak lama berselang, terbersit sebuah pemikiran, pencerahan dari masalah itu, yang kemudian membuat pak hanny bisa tersenyum lebih tenang. Mungkin dengan ini akan dapat mengubah masalah ini mjadi sebuah hal yang positif, benak pak hanny. Pak hanny pun mulai buka suara lagi.

“kalau kalian bersikeras tidak mau bilang apa perjanjian kalian, oke…, saya mungkin tidak bisa memaksa kalian untuk membocorkan rahasia kalian.” kata pak hanny.

“tapi, kalau kejadiannya seperti ini, jujur, saya kecewa dengan kamu iel, padahal saya sangat berharap kamu benar-benar berubah. Dan kamu ify. Saya juga tidak mengerti jalan pikiran kamu jadi sampai mau ngelakuin hal ini. kamu selama ini begitu sangat membanggakan bapak, tapi sekarang kamu amat sangat mengecewakan saya, ify." kata pak hanny sambil menatap dalam ke dua muridnya itu. Ify dan iel hanya memandang diam ke arah pak hanny.

"maafkan kami pak, kami udah ngecewain bapak..." lirih ify diikuti anggukan iel. Pak hanny hanya diam, lalu tersenyum simpul.

"Kalian berdua memang sudah melakukan hal yang salah. tapi, saya ingin memberikan kalian kesempatan kedua untuk bisa membayar rasa kecewa saya. Saya tidak akan menghukum kalian, asal kalian mau menerima sebuah perjanjian dengan saya. Sebuah perjanjian, hanya diantara kita bertiga” kata pak hanny bijaksana. Ify dan iel saling pandang lalu sama-sama menatap pak hanny dengan rasa penasaran.

“kalian tau kan bapak akan mengadakan ulangan mtk kan??” tanya pak hanny. Iel dan ify sama-sama mengangguk.

“nah, bapak tetap ingin iel mendapat hasil yang bagus, sebagus nilai-nilai tugasnya ini” lanjut pak hanny. Iel terlihat tampak jauh lebih menegang.

“dan kamu ify, kamu salah satu yang terbaik di kelas bapak. Dan bapak mau, kamu membantu iel mendapatkan nilai yang bapak inginkan. Kamu buat iel sefaham kamu di pelajaran mtk ini.” Kata pak hanny menatap ify. Ify menoleh ke iel dengan raut wajah tidak menyakinkan.

“bila kalian berhasil, bapak anggap masalah ini tidak ada, tapi apabila nanti nilai iel di bawah 7, nilai tugas kalian berdua akan bapak anggap nol” lanjut pak hanny lagi.

“APA???!! Ga bisa gitu donk pak…” protes ify dan iel bersamaan.

“kalau kalian tidak mau, berarti bapak harus menghukum kalian dan memanggil orang tua kalian juga, bagaimana???”

“iya pak, panggil ortu aj.. aww!!” kata iel yang terpotong karena kakinya ditendang ify.

“jangan panggil ortu kami pak!!!” potong ify, “tapi perjanjian ini juga ga adil buat saya…”

“ini konsekuensi kamu yang sudah bikin saya mengganggap iel mengerti dan dapat mengerjakan tugas-tugasnya. Dan saya ingin kamu buat iel benar-benar mengalami peningkatan ini. Saya rasa ini cukup adil. Dan sebagai bonus, kalau kamu bisa bikin iel memperoleh nilai yang bagus nanti, kamu akan bapak beri bonus nilai di nilai tugas-tugas kamu, bagaimana fy?? Iel setuju? Deal???” tantang pak hanny.

Ify menatap iel. Iel tampak menggeleng tanda ga sanggup. Ify melototin iel, seakan ngomong ke iel kalau dia ga mau ortunya sampai dipanggil dan iel harus setuju. Akhirnya iel mengangguk lemah. Ify tersenyum senang lalu langsung mengangguk menyetujui permintaan pak hanny.

“baik pak, kami terima…” kata ify

“oke… bagus kalau begitu. Saya harap kalian berdua bisa bekerja sama dengan baik sebaik kalian membersihkan toilet tadi” kata pak hanny sambil tersenyum, “dan ingat, saya tidak mau kamu, ify, mengerjakan tugas iel lagi. Ajari dia, itu lebih baik. Saya akan mengawasi kalian” lanjut pak hanny. Iel dan ify mengangguk mengerti dan mereka pun pamit pulang.

“permisi pak” kata iel dan ify sambil bangkit dari kursi mereka.

“ya, silakan, semoga sukses…” sahut pak Hanny.

----------------- misst3ri ------------------------

“kenapa ga biarin pak hanny manggil ortu kita aja sih… gue ga sanggup dapet nilai setinggi itu” kata iel di tengah perjalan pulang mereka.

“Mungkin ortu loe cuek-cuek aja menanggapi masalah ini, tapi ortu gue??!! gue ga mau ortu gue sampaiai tau masalah ini!! kalau ortu kita tau masalah ini, masalah kita bisa kebongkar!! Loe mau masalah kita ketahuan teman-teman satu sekolahan??!!” kata ify panjang lebar, “sekarang nasib nilai kita di tangan loe yel!!! gue pengen loe serius belajar mulai detik ini!!” kata ify lagi.

“ahh… itu kan nilai loe… kalau gue sih ga masalah nilai tugas gue kosong, udah biasa buat gue!!” kata iel cuek.

“loe ga bisa lepas tangan gitu donk!!! Pokoknya loe harus dapat nilai bagus di ujian nanti!!” jawab ify keras.

“siapa lo nyuruh-nyuruh gue??! Orangtua gue juga ga pernah maksain gue punya nilai tinggi di mtk, karena mereka tau bakat gue bukan disana, lebih baik energi gue di kembangin ke bidang yang emang bakat gue!!!”

“egois banget sih loe!!! Biar loe ga bakat, tapi mtk itu penting buat kehidupan loe!! Walau ortu loe ga maksain lo, tapi gue yakin ortu loe pasti lebih bangga lagi kalau loe punya nilai baik di semua pelajaran. Ayo lah yel… demi nilai kita… gue mau loe serius belajar... kali ini aja, please…please yel...” kata ify dengan sedikit memelas. Iel memandang ify. Melihat muka ify yang sangat memohon2, hati iel akhirnya luluh juga.

“oke, gue akan coba… tapi jangan berharap banyak loe… gue harap loe sanggup ngajarin gue nanti” kata iel dengan lesu.

“selama ada kemauan, pasti bisa!!!” kata ify optimis.

----------------- (3am) BERSAMBUNG (3am) ---------------

0 komentar: